
Rangkuman
- Microservices merupakan pendekatan arsitektur yang membagi aplikasi menjadi beberapa layanan dengan fungsi dan tanggung jawab masing-masing.
- Setiap layanan dapat dikembangkan, diuji, dan di-deploy secara lebih independen, tetapi tetap dapat berkomunikasi dengan layanan lain melalui API.
- Cara kerja microservices mencakup pemisahan aplikasi berdasarkan fungsi, komunikasi antar-layanan, proses build dan deployment, serta monitoring setiap layanan.
- Penggunaan microservices dapat membantu pengembangan aplikasi menjadi lebih fleksibel, memudahkan skalabilitas, dan membuat proses pemeliharaan lebih terorganisir.
- Penerapan microservices juga memiliki tantangan, seperti arsitektur yang lebih kompleks, komunikasi antar-layanan, monitoring, serta kebutuhan infrastruktur yang lebih terstruktur.
- Memahami microservices juga dapat menjadi bagian dari proses mempelajari pengembangan dan pengelolaan aplikasi modern, termasuk skill seperti deployment, CI/CD, container, dan monitoring.
- Untuk memperdalam skill tersebut, Bootcamp DevOps Engineer Digital Skola menyediakan 32 sesi pembelajaran dari beginner hingga advanced, praktik menggunakan berbagai tools seperti GitLab, Kubernetes, Docker, Jenkins, dan GCP, serta 16 portfolio profesional dan fasilitas job connector.
Semakin besar sebuah aplikasi, semakin banyak pula fitur dan fungsi yang perlu dikelola. Bayangkan satu aplikasi memiliki layanan untuk login, pembayaran, pencarian, notifikasi, hingga pengelolaan data pengguna. Kalau semuanya dibangun dalam satu sistem yang saling bergantung, perubahan pada satu bagian bisa ikut memengaruhi bagian lainnya.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, salah satu pendekatan yang digunakan dalam pengembangan aplikasi adalah microservices. Pendekatan ini membagi aplikasi menjadi beberapa layanan kecil yang memiliki fungsi masing-masing. Setiap layanan dapat dikembangkan, diperbarui, dan dijalankan secara lebih independen tanpa harus mengubah keseluruhan aplikasi.
Penggunaan microservices juga semakin banyak ditemukan dalam pengembangan aplikasi modern. Dalam 2025 Docker State of Application Development Report, sebanyak 35% developer yang disurvei mengatakan mereka bekerja dengan aplikasi berbasis microservices.
Lantas, apa itu microservices dan bagaimana cara kerjanya dalam pengembangan aplikasi, termasuk dalam full stack development? Sebelum menggunakannya, penting untuk memahami konsep, karakteristik, manfaat, hingga tantangannya. Simak pembahasannya berikut ini!

BACA JUGA: 7 Alasan Harus Ikut Kursus Fullstack Online
Apa Itu Microservices?

Secara sederhana, microservices adalah pendekatan dalam membangun aplikasi dengan membagi satu aplikasi besar menjadi beberapa layanan kecil. Setiap layanan memiliki fungsi tertentu dan dapat dikembangkan, dijalankan, serta dikelola secara lebih independen.
Misalnya, sebuah aplikasi e-commerce memiliki fitur login, katalog produk, pembayaran, dan pengiriman. Dengan pendekatan microservices, fitur-fitur tersebut dapat dipisahkan menjadi layanan yang berbeda. Meskipun terpisah, setiap layanan tetap dapat saling berkomunikasi agar aplikasi berjalan sebagai satu kesatuan.
Bagaimana Konsep Dasar Arsitektur Microservices?
Konsep dasar microservices adalah memecah aplikasi berdasarkan fungsi atau kebutuhan bisnis. Jadi, alih-alih membuat seluruh fitur berada dalam satu sistem besar, aplikasi dibagi menjadi beberapa layanan yang memiliki tanggung jawab masing-masing.
Setiap layanan dapat bekerja secara independen, tetapi tetap perlu berkomunikasi dengan layanan lain melalui mekanisme seperti API. Misalnya, layanan checkout dapat meminta informasi dari layanan pembayaran ketika pengguna menyelesaikan transaksi.
Karena setiap layanan memiliki fungsi yang lebih spesifik, perubahan pada satu bagian aplikasi dapat dilakukan dengan lebih terfokus. Namun, semakin banyak layanan yang digunakan, semakin penting pula pengelolaan komunikasi, deployment, dan monitoring antar-layanan.
Apa Perbedaan Microservices dan Monolithic Architecture?
Perbedaan utamanya terletak pada cara aplikasi disusun. Pada monolithic architecture, berbagai fungsi aplikasi berada dalam satu kesatuan sistem. Sementara itu, microservices membagi fungsi tersebut menjadi beberapa layanan yang dapat dikembangkan dan dikelola secara terpisah.
Sebagai contoh, ketika aplikasi e-commerce menggunakan arsitektur monolithic, fitur login, katalog, pembayaran, dan pengiriman berada dalam satu aplikasi. Jika menggunakan microservices, masing-masing fungsi tersebut dapat menjadi layanan yang berbeda.
| Microservices | Monolithic Architecture |
| Aplikasi terdiri dari beberapa layanan | Aplikasi berada dalam satu kesatuan |
| Layanan dapat dikembangkan secara independen | Perubahan biasanya melibatkan aplikasi secara keseluruhan |
| Setiap layanan memiliki tanggung jawab spesifik | Berbagai fungsi berada dalam satu sistem |
| Lebih fleksibel untuk dikembangkan secara bertahap | Struktur awal cenderung lebih sederhana |
Meski menawarkan fleksibilitas, microservices bukan berarti selalu lebih tepat daripada monolithic architecture. Pemilihan arsitektur tetap perlu disesuaikan dengan ukuran aplikasi, kebutuhan bisnis, kompleksitas sistem, dan kemampuan tim yang mengelolanya.
BACA JUGA: Fullstack Project untuk Tingkatkan Value Portofolio
Apa Saja Karakteristik Microservices?

Setelah memahami pengertian dan konsep dasarnya, penting juga untuk mengenali karakteristik yang membuat microservices berbeda dari pendekatan arsitektur lainnya. Karakteristik ini terutama terlihat dari cara aplikasi dibagi menjadi beberapa layanan, bagaimana setiap layanan dikelola, serta bagaimana layanan tersebut tetap terhubung satu sama lain.
1. Aplikasi Dibagi Menjadi Layanan Terpisah
Dalam pendekatan microservices, sebuah aplikasi besar dibagi menjadi beberapa layanan yang lebih kecil. Setiap layanan menangani fungsi tertentu sehingga tidak semua fitur harus berada dalam satu sistem.
Sebagai contoh, aplikasi e-commerce dapat memiliki layanan khusus untuk mengelola data pengguna, katalog produk, pesanan, pembayaran, dan pengiriman. Masing-masing layanan dapat dikembangkan dan dikelola sesuai dengan fungsi yang ditanganinya.
2. Setiap Layanan Memiliki Fungsi yang Spesifik
Setiap microservice dirancang untuk memiliki tanggung jawab yang jelas. Artinya, satu layanan tidak perlu menangani terlalu banyak fungsi sekaligus.
Misalnya, payment service berfokus pada proses pembayaran, sedangkan order service bertanggung jawab mengelola pesanan. Pembagian seperti ini membuat struktur aplikasi lebih terorganisir dan memudahkan tim untuk memahami bagian yang sedang dikembangkan.
3. Dapat Dikembangkan dan Di-Deploy Secara Independen
Salah satu karakteristik utama microservices adalah setiap layanan dapat dikembangkan, diuji, dan di-deploy secara lebih independen.
Artinya, ketika ada perubahan pada layanan pembayaran, tim tidak selalu perlu melakukan deployment ulang pada seluruh aplikasi. Perubahan dapat difokuskan pada layanan yang memang membutuhkan pembaruan.
Hal ini dapat membantu tim bekerja lebih fleksibel, terutama ketika sebuah aplikasi memiliki banyak fitur dan dikembangkan oleh beberapa tim sekaligus.
4. Bersifat Terdesentralisasi
Pada microservices, setiap layanan dapat memiliki proses, teknologi, dan komponen pendukungnya sendiri sesuai kebutuhan. Karena itu, tidak semua layanan harus menggunakan teknologi yang sama.
Sebagai contoh, satu layanan dapat menggunakan bahasa pemrograman tertentu, sementara layanan lain menggunakan bahasa yang berbeda. Selama setiap layanan dapat berkomunikasi dengan baik, tim memiliki ruang untuk memilih teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan layanan tersebut.
5. Gangguan pada Satu Layanan Tidak Selalu Menghentikan Seluruh Aplikasi
Karena aplikasi terdiri dari layanan yang terpisah, gangguan pada satu layanan tidak selalu berarti seluruh aplikasi harus berhenti bekerja. Layanan lain masih dapat berjalan selama tidak memiliki ketergantungan langsung pada layanan yang mengalami masalah.
Misalnya, ketika layanan notifikasi mengalami gangguan, pengguna mungkin masih dapat melakukan login atau melihat katalog produk. Namun, hal ini tetap bergantung pada bagaimana hubungan dan ketergantungan antar-layanan dirancang.
Karena itu, penerapan microservices juga membutuhkan pengelolaan komunikasi dan ketergantungan antar-layanan yang baik agar gangguan pada satu bagian tidak mudah menyebar ke bagian lainnya.
BACA JUGA: Mau Ikut Kursus Fullstack Developer? Ikuti Panduan Ini
Bagaimana Cara Kerja Microservices?

Secara umum, cara kerja microservices dimulai dengan membagi aplikasi berdasarkan fungsi yang ingin dijalankan. Setelah itu, setiap layanan dapat bekerja dengan tugasnya masing-masing dan saling bertukar data ketika dibutuhkan.
Agar lebih mudah dipahami, berikut gambaran proses kerja microservices dari awal hingga aplikasi berjalan.
1. Memecah Aplikasi Berdasarkan Fungsi
Langkah pertama adalah menentukan fungsi utama yang ada dalam aplikasi, kemudian memisahkannya menjadi beberapa layanan. Setiap layanan dibuat untuk menangani kebutuhan tertentu.
Misalnya, sebuah aplikasi e-commerce memiliki layanan untuk mengelola akun pengguna, produk, pesanan, pembayaran, dan pengiriman. Ketika pengguna melakukan pembelian, beberapa layanan tersebut dapat bekerja secara berurutan untuk menyelesaikan proses transaksi.
2. Menghubungkan Layanan melalui API
Meskipun dipisahkan, layanan dalam microservices tetap perlu berkomunikasi. Salah satu cara yang umum digunakan adalah melalui API (Application Programming Interface).
Contohnya, ketika pengguna melakukan pembayaran, layanan pesanan dapat mengirimkan permintaan ke layanan pembayaran melalui API. Layanan pembayaran kemudian memproses permintaan tersebut dan mengirimkan kembali hasilnya.
Dengan mekanisme ini, setiap layanan dapat menjalankan tugasnya tanpa harus mengetahui seluruh proses yang terjadi di layanan lainnya.
3. Melakukan Build, Testing, dan Deployment
Setelah layanan dikembangkan, masing-masing bagian dapat melalui proses build dan testing sesuai kebutuhannya. Jika sudah siap, layanan tersebut dapat di-deploy tanpa harus selalu menunggu perubahan pada layanan lain.
Proses ini membuat pembaruan aplikasi menjadi lebih terarah. Misalnya, ketika tim ingin memperbarui fitur pembayaran, mereka dapat fokus menguji dan melakukan deployment pada layanan pembayaran tersebut.
Dalam praktiknya, proses ini juga dapat dibantu dengan CI/CD (Continuous Integration/Continuous Deployment) untuk mengotomatisasi tahapan pengujian dan deployment.
4. Mengelola dan Memantau Setiap Layanan
Karena aplikasi terdiri dari beberapa layanan, setiap bagian perlu dipantau untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik. Tim dapat memeriksa performa layanan, error, penggunaan sumber daya, hingga aktivitas yang terjadi di dalam sistem.
Monitoring menjadi penting karena masalah pada satu layanan dapat memengaruhi layanan lain yang bergantung padanya. Dengan pemantauan yang baik, tim dapat lebih cepat menemukan sumber masalah dan melakukan perbaikan pada bagian yang diperlukan.
Dengan alur tersebut, microservices memungkinkan sebuah aplikasi dibangun dari beberapa layanan yang saling terhubung, tetapi tetap dapat dikelola secara lebih terpisah. Pendekatan ini memberikan fleksibilitas dalam pengembangan, sekaligus membutuhkan pengelolaan sistem yang lebih terstruktur.
BACA JUGA: 8 Tips Switch Career Menjadi Data Analyst Agar Lebih Siap Kerja
Apa Saja Manfaat Menggunakan Microservices?

Penggunaan microservices dapat memberikan beberapa keuntungan dalam proses pengembangan dan pengelolaan aplikasi. Dengan layanan yang dipisahkan berdasarkan fungsi, tim memiliki lebih banyak fleksibilitas dalam mengembangkan maupun memperbarui aplikasi.
Berikut beberapa manfaat yang bisa didapatkan dari penerapan microservices:
1. Pengembangan Aplikasi Lebih Fleksibel
Karena setiap layanan memiliki fungsi yang lebih spesifik, tim dapat mengerjakan bagian aplikasi tertentu tanpa harus mengubah keseluruhan sistem.
Misalnya, tim ingin menambahkan metode pembayaran baru. Pengembangan dapat difokuskan pada layanan yang menangani pembayaran tanpa perlu mengubah fitur lain seperti katalog atau pengelolaan akun pengguna.
2. Deployment Lebih Terarah
Perubahan pada satu layanan dapat dilakukan tanpa harus selalu melakukan deployment terhadap seluruh aplikasi. Hal ini membuat proses pembaruan dapat dilakukan dengan lebih terfokus.
Bagi aplikasi yang sering mengalami perubahan, pendekatan ini dapat membantu tim merilis pembaruan pada fitur tertentu tanpa mengganggu bagian aplikasi yang tidak mengalami perubahan.
3. Lebih Mudah Melakukan Skalabilitas
Tidak semua bagian aplikasi membutuhkan kapasitas yang sama. Dengan microservices, layanan yang memiliki beban lebih tinggi dapat ditingkatkan kapasitasnya secara khusus.
Sebagai contoh, ketika layanan pencarian produk menerima banyak permintaan, tim dapat menambah sumber daya untuk layanan tersebut tanpa harus meningkatkan kapasitas seluruh aplikasi.
4. Pemeliharaan Aplikasi Lebih Terorganisir
Struktur layanan yang terpisah membuat tim lebih mudah menemukan bagian yang perlu diperbaiki atau dikembangkan. Ketika terjadi masalah, tim dapat menelusuri layanan yang berkaitan tanpa harus memeriksa seluruh kode aplikasi.
Pembagian ini juga dapat membantu pengembangan dalam jangka panjang, terutama ketika aplikasi terus bertambah besar dan memiliki banyak fitur.
5. Tim Dapat Menggunakan Teknologi yang Sesuai
Setiap layanan dapat dikembangkan menggunakan teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhannya. Tim tidak selalu harus menggunakan satu bahasa pemrograman atau teknologi yang sama untuk seluruh aplikasi.
Namun, fleksibilitas ini tetap perlu dikelola dengan baik. Terlalu banyak teknologi yang berbeda justru dapat membuat sistem lebih sulit dipelihara jika tidak disertai standar dan dokumentasi yang jelas.
Secara keseluruhan, microservices dapat membantu tim mengembangkan aplikasi yang lebih fleksibel dan mudah disesuaikan dengan kebutuhan. Meski begitu, manfaat tersebut juga perlu dipertimbangkan bersama dengan kompleksitas yang muncul ketika aplikasi terdiri dari banyak layanan.
BACA JUGA: Mengapa Data Analyst Profesi yang Dicari di Era Digital? Kenali Alasannya!
Apa Saja Tantangan dalam Menerapkan Microservices?

Di balik fleksibilitas yang ditawarkan, microservices juga memiliki tantangan dalam penerapannya. Semakin banyak layanan yang digunakan, semakin banyak pula bagian yang perlu dikelola dan dipantau.
Karena itu, pendekatan ini membutuhkan perencanaan dan pengelolaan yang baik, terutama ketika aplikasi sudah memiliki sistem yang cukup kompleks.
1. Arsitektur Sistem Menjadi Lebih Kompleks
Pada aplikasi dengan satu sistem utama, tim cukup mengelola satu aplikasi. Sementara itu, microservices membuat aplikasi terdiri dari banyak layanan yang saling terhubung.
Setiap layanan memiliki konfigurasi, proses deployment, dan kebutuhan operasionalnya sendiri. Jika jumlah layanan semakin banyak, pengelolaannya pun menjadi lebih kompleks.
2. Komunikasi Antar-Layanan Perlu Dikelola dengan Baik
Setiap layanan perlu berkomunikasi untuk bertukar data atau menjalankan proses tertentu. Jika komunikasi tersebut tidak dirancang dengan baik, masalah pada satu layanan dapat memengaruhi layanan lain.
Tim juga perlu mempertimbangkan bagaimana menangani error, keterlambatan respons, atau layanan yang sedang tidak tersedia agar aplikasi tetap dapat berjalan dengan baik.
3. Monitoring Menjadi Lebih Menantang
Memantau satu aplikasi tentu berbeda dengan memantau puluhan layanan yang berjalan secara bersamaan. Ketika terjadi masalah, tim perlu mengetahui layanan mana yang mengalami gangguan dan bagaimana pengaruhnya terhadap layanan lainnya.
Karena itu, microservices biasanya membutuhkan sistem monitoring dan pencatatan log yang membantu tim melihat kondisi setiap layanan secara lebih jelas.
4. Membutuhkan Infrastruktur dan Pengelolaan yang Tepat
Menjalankan banyak layanan membutuhkan infrastruktur yang mampu mendukung proses deployment, komunikasi, keamanan, hingga pengelolaan sumber daya.
Tim juga perlu memiliki pemahaman yang cukup mengenai teknologi pendukung seperti container, cloud, CI/CD, dan monitoring. Tanpa pengelolaan yang tepat, jumlah layanan yang banyak justru dapat membuat sistem lebih sulit dirawat.
Jadi, microservices bukan sekadar memecah satu aplikasi menjadi banyak bagian. Ada berbagai aspek teknis yang perlu dipersiapkan agar setiap layanan dapat bekerja dengan baik dan tetap terhubung sebagai satu sistem.
BACA JUGA: Perbandingan Bootcamp DevOps Engineer Digital Skola VS Bootcamp Lain
Kesimpulan
Microservices adalah pendekatan arsitektur yang membagi aplikasi menjadi beberapa layanan dengan fungsi yang lebih spesifik. Setiap layanan dapat dikembangkan, diuji, di-deploy, dan dikelola secara lebih independen, tetapi tetap saling terhubung untuk menjalankan aplikasi secara keseluruhan.
Pendekatan ini dapat memberikan fleksibilitas dalam pengembangan, memudahkan proses deployment, serta membantu aplikasi melakukan skalabilitas sesuai kebutuhan. Namun, penerapannya juga membuat sistem menjadi lebih kompleks sehingga membutuhkan pengelolaan komunikasi, monitoring, dan infrastruktur yang baik.
Karena itu, memahami konsep microservices penting bagi developer yang ingin membangun dan mengelola aplikasi modern, terutama ketika bekerja dengan sistem yang memiliki banyak fitur dan kebutuhan pengembangan yang terus berkembang.
BACA JUGA: Perbandingan Bootcamp DevOps Engineer Digital Skola VS Bootcamp Lain
Kembangkan Skill DevOps untuk Mendukung Pengembangan Aplikasi Modern!

Memahami microservices tidak hanya tentang bagaimana aplikasi dibagi menjadi beberapa layanan, tetapi juga bagaimana layanan tersebut dapat dikembangkan, di-deploy, dan dikelola agar tetap berjalan dengan baik. Karena itu, pemahaman tentang proses dan tools yang mendukung pengelolaan aplikasi juga menjadi bagian penting dalam pengembangan aplikasi modern.
Salah satu area yang berkaitan dengan proses tersebut adalah DevOps. Dengan pendekatan DevOps, developer dan tim operasional dapat bekerja lebih terintegrasi dalam proses pengembangan, pengujian, deployment, hingga pemantauan aplikasi.
Kalau ingin memperdalam skill tersebut, kamu bisa belajar melalui Bootcamp DevOps Engineer Digital Skola. Program ini memiliki 32 sesi kelas dengan kurikulum dari tingkat beginner hingga advance, serta dipandu tutor expert dengan pengalaman lebih dari 5 tahun.
Selama bootcamp, kamu juga akan praktik menggunakan berbagai tools yang banyak digunakan dalam pengembangan dan pengelolaan aplikasi, seperti GitLab, Kubernetes, Docker, Jenkins, dan GCP. Selain itu, kamu akan mengerjakan 16 portfolio profesional dan mendapatkan sesi konsultasi CV, persiapan karier, serta akses ke job connector.
Dengan bekal hardskill, softskill, dan pengalaman praktik tersebut, kamu dapat lebih siap mengembangkan skill untuk berkarier di bidang DevOps. Mulai upgrade skill-mu melalui Bootcamp DevOps Engineer Digital Skola dan pelajari proses pengembangan aplikasi modern dari sisi yang lebih menyeluruh!
FAQ
1. Apakah microservices sulit dipelajari?
Tidak selalu. Kamu bisa mulai dari konsep dasar aplikasi, API, dan backend, lalu secara bertahap mempelajari cara kerja arsitektur microservices.
2. Bahasa pemrograman apa yang digunakan untuk microservices?
Tidak ada satu bahasa pemrograman khusus. Microservices dapat dibuat menggunakan berbagai bahasa seperti Java, Python, Go, JavaScript, atau bahasa lain sesuai kebutuhan.
3. Apakah microservices sama dengan API?
Tidak. Microservices adalah pendekatan untuk menyusun aplikasi, sedangkan API merupakan salah satu cara yang dapat digunakan agar layanan dalam aplikasi saling berkomunikasi.
4. Apakah microservices hanya digunakan untuk aplikasi besar?
Tidak harus. Namun, pendekatan ini biasanya lebih terasa manfaatnya ketika aplikasi memiliki banyak fitur dan kebutuhan yang semakin kompleks.
5. Apa yang perlu dipelajari sebelum memahami microservices?
Sebaiknya pahami terlebih dahulu dasar programming, backend, database, API, dan cara kerja aplikasi agar konsep microservices lebih mudah dipahami.