
Membuat portofolio copywriter untuk pemula merupakan hal penting yang harus kamu tahu jika ingin mulai meniti karier di dunia digital writing. Di era sekarang, CV saja tidak cukup untuk menembus karier impian. Khususnya untuk profesi seperti copywriter, portofolio jadi komponen utama yang dilirik dalam proses rekrutmen. Mengutip CareerBuilder, 58% recruiter bahkan menilai portofolio lebih penting daripada resume karena lebih mampu menunjukkan kemampuan asli seorang kandidat. Oleh karena itu, jika kamu ingin serius berkarier sebagai copywriter, sekarang saat yang tepat untuk mulai menyusun portofolio copywriting-mu sendiri.
Namun, permasalahannya untuk orang-orang yang belum memiliki pengalaman sama sekali seperti fresh graduate atau yang baru switch career, pasti akan mempertanyakan “Bagaimana cara membuat portofolio copywriter jika belum memiliki pengalaman?”. Jika kamu saat ini memiliki pertanyaan yang sama, ternyata kamu tidak sendirian. Karena faktanya masih banyak orang-orang yang merasa bingung membuat portofolio copywriter karena belum punya pengalaman kerja. Bahkan, jika kamu cek di forum online seperti Quora juga kamu akan menemukan banyak diskusi terkait ini.
Lantas, bagaimana panduan membuat portofolio copywriter untuk pemula yang belum memiliki pengalaman? Simak penjelasan lengkapnya di artikel ini!
BACA JUGA: 8 Contoh Copywriting yang Banyak Digunakan Bisnis
Kenapa Portofolio Penting Untuk Copywriter Pemula?
Bagi pemula, memiliki portofolio copywriter justru bisa menjadi pintu masuk yang membuka lebih banyak peluang. Berikut beberapa alasan mengapa portofolio sangat penting dalam membangun karier sebagai copywriter:
Menunjukkan Gaya dan Kemampuan Menulis
Lewat portofolio copywriting, kamu bisa menunjukkan cara kamu:
- Menyusun pesan yang efektif
- Memilih tone yang sesuai brand
- Menyampaikan pesan yang persuasif
Ini jadi cara paling langsung bagi recruiter atau klien untuk mengenal kualitas tulisanmu.
Membuka Peluang Meski Belum Punya Pengalaman
Salah satu tantangan utama bagi pemula adalah belum memiliki pengalaman profesional. Tapi tenang, portofolio bisa jadi solusi. Kamu bisa mengisi portofolio dengan contoh tulisan dari proyek fiktif, tugas kuliah, atau hasil latihan pribadi. Selama hasilnya berkualitas dan relevan, portofolio tersebut tetap punya daya jual.
Peluang Untuk Diprioritaskan oleh Recruiter
Menurut CareerBuilder, 58% recruiter menyebutkan bahwa mereka lebih tertarik pada kandidat yang menyertakan portofolio dibandingkan hanya mengirimkan CV. Ini menunjukkan bahwa portofolio bisa menjadi penentu utama dalam proses seleksi, bahkan lebih penting dari riwayat pekerjaan sebelumnya.
Membantu Mengenali Kekuatan Pribadi
Membuat portofolio juga sekaligus menjadi proses refleksi. Kamu bisa mengevaluasi jenis tulisan yang paling kamu kuasai, seperti copy iklan, caption media sosial, email marketing, atau long-form content seperti artikel. Dari situ, kamu bisa mulai membangun positioning dan mengembangkan gaya khas sebagai copywriter.
Menampilkan Gaya dan Karakter Tulisan
Setiap copywriter punya gaya menulis yang unik. Ada yang kuat dalam membuat copy dengan gaya kasual dan jenaka, ada juga yang lebih cocok menulis dengan tone profesional dan formal. Dari sini, recruiter bisa langsung melihat kecocokan gaya tulisanmu dengan tone of voice brand yang mereka cari.
Meningkatkan Kredibilitas di Mata Klien atau Recruiter
Dengan portofolio, kamu menunjukkan bahwa kamu serius membangun karier di bidang copywriting. Ini bisa langsung meningkatkan kepercayaan dari rekruter atau calon klien, apalagi jika portofoliomu ditata dengan rapi, informatif, dan menunjukkan keragaman gaya penulisan.
Membantu Personal Branding
Portofolio yang dikurasi dengan baik bisa mencerminkan bidang atau niche yang ingin kamu tekuni. Misalnya, kamu tertarik jadi copywriter untuk brand kecantikan, kamu bisa isi portofoliomu dengan contoh copy produk skincare, campaign brand kosmetik, atau konten seputar self-care. Dengan begitu, kamu bisa membangun positioning sebagai copywriter yang paham industri tertentu.
Membuka Peluang Kolaborasi dan Project Freelance
Ketika kamu sudah punya portofolio yang bisa diakses secara online (misalnya di Notion, Canva, atau Medium), kamu membuka kemungkinan untuk ditemukan oleh klien secara organik. Banyak freelance copywriter yang mendapatkan proyek dari orang yang melihat portofolio mereka secara tidak langsung seperti dari LinkedIn, forum, atau bahkan hasil pencarian Google.
BACA JUGA: 8 Tips Menulis Caption yang Bikin Audiens Berhenti Scroll
Apa Saja yang Harus Ada di Portofolio Copywriter?
Sebelum mengetahui panduan membuat portofolio copywriter untuk pemula, penting untuk kamu tahu terlebih dahulu poin-poin apa saja yang harus ada di portofolio copywriter. Informasi ini nantinya akan membantu kamu lebih mudah saat menyusun portofolio. Berikut penjelasan lengkapnya:
Informasi Diri Secara Ringkas
Pertama, di portofolio copywriter harus mencakup informasi penting mengenai diri kamu khususnya dalam konteks profesional. Berikut beberapa informasi yang harus disertakan:
- Nama lengkap
- Pernyataan singkat mengenai diri kamu, apa yang dilakukan, ketertarikan, dan apa yang ditawarkan sebagai profesional
- Riwayat pendidikan terakhir
- Pengalaman kerja yang relevan
Skill yang Dikuasai
Selanjutnya, kamu juga harus memasukkan informasi mengenai skills yang dikuasai di bidang copywriting. Memberikan informasi terkait skills yang kamu kuasai akan memberikan gambaran kepada recruiter atau calon klien mengenai kemampuan kamu dalam bidang copywriting, ini juga bisa membantu mereka memahami apa yang bisa kamu kontribusikan pada project atau posisi yang sedang ditawarkan.
Showcase Hasil Project
Selanjutnya yang paling utama adalah kamu harus menyertakan hasil project yang pernah kamu buat sebelumnya. Jika kamu sudah memiliki banyak pengalaman atau project yang pernah dikerjakan, maka kamu bisa mengkurasi dan hanya memasukkan project terbaik saja. Namun, jika kamu belum ada project yang pernah dikerjakan, simak artikel ini sampai akhir karena akan ada panduannya.
Informasi Kontak
Terakhir, jika kamu sudah memiliki pengalaman handle project, maka kamu bisa memasukkan testimoni dari client atau atasan kamu sebelumnya. Namun, jika belum punya pengalaman, kamu bisa menuliskan call to action untuk mengajak kolaborasi dan memberikan informasi kontak yang bisa dihubungi.
BACA JUGA: Rekomendasi Platform Belajar Copywriting Gratis
Apa Saja Jenis Tulisan yang Bisa Dimasukkan ke Portofolio Copywriter?
Salah satu tantangan yang sering dihadapi copywriter pemula adalah bingung harus memasukkan jenis tulisan yang bisa dimasukkan ke dalam portofolio. Padahal, copywriting itu sangat luas dan bentuknya bisa beragam, tergantung tujuan komunikasi, platform yang digunakan, dan jenis audiens yang dituju. Berikut beberapa contoh yang bisa kamu sertakan:
Copy Iklan
Tulisan untuk iklan digital seperti Facebook Ads, Instagram Ads, atau Google Ads merupakan salah satu bentuk copy yang paling sering dicari. Fokusnya adalah membuat pesan yang singkat, menarik, dan bisa memicu tindakan dalam waktu singkat. Contoh yang bisa dimasukkan:
- Headline + body copy iklan produk
- Beberapa versi A/B testing untuk iklan yang sama
- Simulasi campaign dummy untuk brand tertentu
Caption Media Sosial
Caption yang ditulis dengan struktur dan tone yang tepat bisa membangun engagement yang kuat dengan audiens. Ini termasuk bagian dari copywriting karena kamu tetap perlu memikirkan hook, storytelling, dan call to action. Contoh yang bisa dimasukkan:
- Caption Instagram untuk brand
- Thread Twitter edukatif/promosi
- LinkedIn post dengan storytelling
Website dan Landing Page Copy
Tulisan untuk halaman website atau landing page punya peran besar dalam menarik perhatian pengunjung dan mendorong mereka untuk melakukan aksi seperti mendaftar, membeli, atau menghubungi. Contoh yang bisa dimasukkan:
- Hero section + subheadline
- Fitur/benefit section
- Call-to-action (CTA) yang persuasif
Email Marketing
Email masih jadi salah satu channel yang efektif untuk marketing, dan copywriter sering diminta untuk membuat kontennya baik untuk newsletter, promo, atau campaign otomatis. Contoh yang bisa dimasukkan:
- Email promosi dengan struktur headline–body–CTA
- Email pengenalan produk atau layanan
- Follow-up email untuk retargeting
Slogan dan Tagline
Slogan dan tagline adalah bentuk copy yang sangat ringkas, tapi memiliki beban pesan yang tinggi. Ini cocok ditampilkan dalam portofolio untuk menunjukkan kemampuanmu dalam menyampaikan pesan secara singkat tapi berkesan. Contoh yang bisa dimasukkan:
- Tagline brand fiktif
- Beberapa alternatif slogan untuk produk tertentu
- Penjelasan singkat makna atau alasan di balik kata-katanya
Artikel Blog
Walaupun bukan murni copywriting, artikel blog yang ditulis dengan pendekatan persuasif, storytelling, atau soft selling tetap relevan untuk dimasukkan ke dalam portofolio terutama kalau kamu tertarik masuk ke konten marketing. Contoh yang bisa dimasukkan:
- Artikel blog edukatif dengan CTA halus
- Ulasan produk atau layanan
- Artikel topik evergreen dengan pendekatan copywriting
Case Study
Ini bentuk tulisan di portofolio yang makin populer belakangan ini, apalagi kalau kamu ingin menunjukkan proses berpikirmu. Kamu bisa membuat semacam “mini studi kasus” misalnya, cara kamu membuat copy untuk satu campaign, mulai dari riset, konsep, hingga eksekusi. Contoh yang bisa dimasukkan:
- Breakdown strategi copywriting untuk brand tertentu
- Studi kasus campaign
- Ulasan gaya copy brand yang kamu kagumi dan versi modifikasimu
BACA JUGA: 10 Formula Copywriting Bikin Tulisan Makin Menarik
Panduan Membuat Portofolio Copywriter Untuk Pemula
Jika kamu saat ini masih pemula, tapi ingin membuat portofolio copywriter, maka kamu bisa ikuti panduan membuat portofolio copywriter untuk pemula ini:
Pelajari Kualifikasi dan Kebutuhan Industri
Langkah pertama adalah memahami seperti apa kualifikasi dan skill yang dibutuhkan untuk menjadi copywriter. Kamu bisa mencarinya lewat platform freelance seperti Upwork, Fiverr, atau job platform seperti Glints dan Jobstreet. Perhatikan deskripsi job, dan catat skill-skill yang sering muncul. Ini bisa jadi acuan utama untuk menentukan isi portofoliomu nantinya. Beberapa skill umum yang sering dibutuhkan untuk posisi copywriter:
- Creative writing
- Content strategy
- Ads copy
- Marketing
- Social media management
- SEO
- Online riset
- Creativity
Lihat Referensi Portofolio Profesional
Langkah kedua, jangan bikin dari 0! Karena kamu akan overwhelmed dan tidak tau harus mulai dari mana. Kamu bisa cek referensi portfolio dari para profesional di bidang karier yang sama. Ini beberapa list website yang bisa kamu cek:
Amati hal-hal seperti:
- Jenis tulisan yang ditampilkan
- Struktur penyusunan karya
- Penjelasan konteks tiap project
Dari sini kamu bisa menyesuaikan dengan gayamu sendiri, tanpa harus bingung mulai dari mana.
Membuat Project Menggunakan Fake Brief
Selanjutnya, jika kamu merasa mencari client, challenge, atau membuat study case masih terasa sulit. Kamu bisa coba mulai buat project copywriting menggunakan fake brief generator atau AI tools. Tools ini akan bantu kamu memberikan brief yang biasa diberikan oleh klien. Contohnya, kamu bisa pakai tools ChatGPT seperti ini:
Ikut Challenge atau Lomba Menulis
Berikutnya, kamu bisa join challenge yang umumnya dibuat oleh komunitas, perusahaan maupun pemerintahan. Kamu bisa aktif mencari informasi ini di komunitas atau internet, untuk challenge di bidang penulisan. Nantinya, project yang kamu buat tersebut bisa jadi bahan portofolio copywriter. Apalagi, jika kamu memenangkan lombanya, maka sertifikat kemenangan tersebut juga bisa dimasukan ke portofolio.
Tulis Penjelasan untuk Setiap Project
Satu kesalahan yang sering terjadi di portofolio pemula adalah hanya menampilkan hasil akhir tanpa konteks. Padahal, penjelasan singkat bisa memberikan insight soal cara berpikirmu. Contoh format penjelasan:
- Tujuan proyek = Untuk campaign launching produk baru
- Target audiens = Perempuan usia 18–25
- Platform = Instagram ads
- Strategi = Storytelling + emotional hook
Pilih Platform yang Tepat untuk Menampilkan Portofolio
Setelah kontennya siap, saatnya menata portofolio secara visual. Kamu bisa menggunakan berbagai platform user-friendly seperti:
- Notion
- Canva
- Google Sites
- Medium
Kurasi dan Perbarui Secara Berkala
Terakhir, portofolio bukan sesuatu yang selesai sekali buat. Setelah kamu mulai punya proyek freelance, magang, atau bahkan personal project baru, kamu bisa terus perbarui isi portofoliomu. Kurasi juga penting. Lebih baik menampilkan 5 karya terbaik dibanding 15 karya yang kurang kuat.
BACA JUGA: 20+ Contoh Copywriting yang Banyak Digunakan Bisnis
Contoh Portofolio Copywriter
Berikut beberapa contoh portofolio copywriter yang bisa kamu jadikan referensi:
Contoh Portofolio Copywriter Andrew Elsass
Untuk kamu yang tertarik berkarier jadi copywriter. Di portfolio-nya Andrew Elsass mencantumkan beberapa hasil tulisannya seperti:
- Copywriting untuk ads di media sosial dan website
- Copywriting untuk billboard
- Direct mail
- Email marketing
Oleh karena itu, untuk kamu yang ingin portfolionya variatif berisi berbagai project, kamu bisa cek langsung portofolio Andrew Elsass.
Contoh Portofolio Copywriter Alumni Digital Skola
Jika kamu tertarik untuk melihat berbagai referensi portofolio copywriter buatan alumni kelas Digital Skola, kamu bisa cek di sini:
BACA JUGA: Roadmap Belajar Copywriting Untuk Pemula
Apa Saja Kesalahan Umum dalam Membuat Portofolio Copywriter?
Membuat portofolio copywriter memang terlihat sederhana kumpulkan hasil tulisan, susun, lalu tampilkan. Tapi dalam praktiknya, banyak pemula yang justru membuat kesalahan yang bisa mengurangi kekuatan portofolionya, seperti:
Terlalu Fokus pada Kuantitas
Menganggap semakin banyak contoh tulisan, semakin bagus portofolionya. Akhirnya semua tulisan dimasukkan tanpa filter termasuk yang kurang kuat secara struktur atau konteks. Lebih baik menampilkan 4–6 tulisan terbaik yang benar-benar mencerminkan kualitas dan variasi kemampuanmu.
Tidak Menjelaskan Konteks di Setiap Project
Jangan langsung menampilkan hasil akhir, tanpa menjelaskan latar belakang, tujuan penulisan, atau target audiensnya. Tambahkan deskripsi untuk tiap project:
- Apa tujuannya?
- Siapa target audiensnya?
- Platform penayangannya di mana?
- Gaya bahasa atau pendekatan apa yang kamu gunakan?
Terlalu Banyak Gaya atau Topik yang Tidak Relevan
Jangan menampilkan terlalu banyak jenis tulisan yang tidak berhubungan satu sama lain, atau menggunakan gaya bahasa yang berbeda-beda tanpa arah. Misalnya, satu contoh gaya formal korporat, lalu tiba-tiba di bawahnya ada copy promosi dengan gaya bahasa gaul Gen Z, tanpa penjelasan. Kamu tetap bisa menunjukkan fleksibilitas gaya, asalkan ditata dengan struktur yang jelas. Misalnya:
- “Copy untuk audiens profesional (B2B)”
- “Copy untuk campaign Gen Z di media sosial”
Mengandalkan Template Visual yang Berlebihan
Hindari menggunakan desain portofolio yang terlalu ramai, terlalu banyak warna, efek, atau ilustrasi, sampai membuat isi tulisan jadi sulit dibaca. Ini sering terjadi saat menggunakan template dari Canva atau platform visual lain. Gunakan tampilan yang clean dan readable. Jangan sampai desain justru menutupi substansi.
Tidak Diperbarui Secara Berkala
Membuat portofolio sekali lalu dibiarkan bertahun-tahun. Akibatnya, skill dan gaya tulisan yang ditampilkan sudah tidak relevan dengan kemampuan kamu sekarang. Setiap kali kamu menyelesaikan proyek yang kuat atau mendapatkan pengalaman baru, sempatkan untuk memperbarui portofolio. Kamu bisa tambahkan karya baru, atau bahkan menghapus karya lama yang sudah tidak representatif.
BACA JUGA: Bocoran Materi Copy Writing Course Untuk Pemula
Kesimpulan
Membuat portofolio copywriter yang kuat bukan hanya soal mengumpulkan hasil tulisan, tetapi tentang cara kamu menampilkan keahlian, pemahaman strategi, dan karakter tulisanmu secara profesional. Bahkan jika kamu belum memiliki pengalaman kerja formal, kamu tetap bisa menyusun portofolio yang menarik lewat proyek fiktif, challenge komunitas, atau latihan pribadi yang dikemas dengan kontekstual. Kuncinya adalah memilih karya terbaik, memberi penjelasan yang jelas, dan menampilkannya dengan struktur yang rapi dan mudah dibaca.
Portofolio yang baik bisa membuka banyak peluang, mulai dari pekerjaan freelance, magang, hingga full-time. Terlebih lagi, portofolio adalah salah satu alat paling kuat untuk membangun personal branding dan menunjukkan bahwa kamu serius di dunia copywriting. Jadi, daripada menunggu pengalaman datang, lebih baik mulai bangun portofoliomu dari sekarang. Setiap langkah kecil baik itu ikut challenge, menulis proyek fiktif, atau mengisi blog pribadi adalah investasi untuk kariermu ke depan.
BACA JUGA: Copywriting AI Makin Canggih, Akankah Copywriter Tergantikan?
Yuk, Buat Portofolio Copywriting Dengan Real Clients!
Untuk kamu yang pingin punya project dari real clients, kamu bisa ikut kelas Strategic Copywriting for Digital Platforms and AI Automation dari Digital Skola. Kamu akan belajar fundamental dan teknik copywriting dari basic sekaligus membuat real projects dari real clients. Berikut project yang akan kamu kerjakan:
- Menganalisis & merumuskan brand voice
- Menulis copy hardsell & softsell
- Review & improve copy pakai formula copywriting
- Bikin prompt AI untuk caption IG, script TikTok & email marketing
- Bikin konten (caption/single/carousel/video) pakai formula copywriting
- Menyusun USP & copy untuk landing page
- Menulis email promo terbatas & WA copy onboarding new user
- Menyusun portofolio individu sebagai copywriter
Sebagai gambaran, ini salah satu contoh hasil project alumni kelas copywriting DIgital Skola:
Karena kolaborasi langsung dengan brand, pastinya portfolio kamu bakal lebih spesifik dan sesuai dengan standar industri.
FAQ
1. Apakah portofolio copywriter harus dalam bahasa Inggris?
Tidak wajib. Gunakan bahasa sesuai target audiens atau pekerjaan yang kamu incar. Kalau kamu melamar ke perusahaan lokal, bahasa Indonesia pun tidak masalah.
2. Lebih bagus portofolio dalam PDF atau website?
Keduanya bisa digunakan. PDF cocok untuk dikirim langsung ke HRD, sementara website portofolio lebih praktis untuk dibagikan lewat link.
3. Berapa banyak contoh tulisan yang harus ditampilkan di portofolio?
Sekitar 3–5 karya terbaik sudah cukup untuk menunjukkan variasi gaya dan kemampuanmu.