
Rangkuman
- Resilience adalah kemampuan untuk menghadapi kesulitan, beradaptasi dengan perubahan, dan bangkit kembali setelah mengalami kegagalan.
- Resilience dapat terlihat dari kemampuan mengelola emosi, beradaptasi, belajar dari kegagalan, menjaga perspektif, serta tidak ragu meminta bantuan.
- Kemampuan ini dapat dilatih melalui pola pikir yang fleksibel, evaluasi pengalaman, kebiasaan positif, dukungan sosial, dan kemauan untuk terus belajar.
- Untuk membantu mempersiapkan langkah karier, kamu bisa memanfaatkan AI Career Counselor dari Digital Skola untuk mendapatkan analisis CV, simulasi wawancara, dan rekomendasi karier yang sesuai dengan profilmu.
Apa itu resilience? Resilience adalah kemampuan seseorang untuk menghadapi kesulitan, beradaptasi dengan perubahan, dan bangkit kembali setelah mengalami kegagalan atau tekanan.
Kemampuan ini penting karena berbagai tantangan bisa muncul kapan saja, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di dunia kerja.
Namun, resilience bukan berarti kamu harus selalu kuat atau tidak boleh merasa kecewa saat menghadapi masalah.
Lantas, apa sebenarnya resilience dan bagaimana cara membangunnya? Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Apa Itu Resilience?
Resilience adalah kemampuan seseorang untuk menghadapi kesulitan, beradaptasi dengan perubahan, dan bangkit setelah mengalami kegagalan atau tekanan.
Memiliki resilience bukan berarti kamu tidak pernah gagal. Justru, kemampuan untuk mengevaluasi kegagalan, belajar dari pengalaman, memperbaiki diri, dan kembali mencoba merupakan bentuk resilience.
Mengapa Resilience Penting?
Resilience membantu kamu menghadapi berbagai tantangan tanpa mudah kehilangan arah. Kemampuan ini semakin penting di tengah perubahan yang cepat, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia kerja.
Berikut ini alasan kenapa resilience penting:
1. Menghadapi Kegagalan
Kegagalan merupakan bagian dari proses yang bisa dialami siapa saja.
Dengan resilience, kamu tidak melihat kegagalan sebagai akhir dari segalanya, tetapi sebagai pengalaman yang bisa dievaluasi.
Kamu dapat memahami apa yang salah, mencari hal yang perlu diperbaiki, lalu menggunakan pengalaman tersebut untuk menghadapi tantangan berikutnya dengan lebih baik.
2. Beradaptasi dengan Perubahan
Perubahan dapat terjadi kapan saja, mulai dari berganti pekerjaan, munculnya teknologi baru, perubahan lingkungan kerja, hingga rencana hidup yang tidak berjalan sesuai harapan.
Resilience membantu kamu menjadi lebih fleksibel dalam menghadapi kondisi tersebut.
Dengan kemampuan beradaptasi yang baik, kamu dapat menyesuaikan diri dan mencari cara baru untuk tetap berjalan meskipun situasi yang dihadapi berubah.
3. Mengelola Tekanan
Tekanan yang terus muncul dapat membuat kamu merasa kewalahan, kehilangan fokus, atau bahkan ingin menyerah.
Memiliki resilience membantu kamu menghadapi tekanan dengan lebih terarah.
Kamu dapat mengenali masalah, mengatur respons terhadap situasi yang dihadapi, dan mencari solusi secara bertahap tanpa membiarkan tekanan membuat kamu kehilangan arah.
4. Mengembangkan Diri
Resilience juga mendorong kamu untuk terus belajar dari berbagai pengalaman, termasuk kesalahan dan kegagalan.
Ketika menghadapi tantangan, kamu tidak hanya berusaha melewatinya, tetapi juga mencari hal yang bisa dipelajari untuk menjadi lebih baik.
Sikap ini sejalan dengan konsep growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat terus berkembang melalui usaha, proses belajar, dan pengalaman.
Apa Saja Ciri-Ciri Orang yang Memiliki Resilience?
Setiap orang bisa memiliki tingkat resilience yang berbeda. Namun, ada beberapa karakteristik yang umumnya terlihat pada seseorang yang mampu menghadapi tekanan, beradaptasi, dan bangkit setelah mengalami kesulitan.
1. Mampu Beradaptasi
Orang yang memiliki resilience tidak terpaku pada satu cara ketika menghadapi perubahan.
Mereka mampu menyesuaikan diri dengan situasi baru dan mencari pendekatan lain ketika cara sebelumnya tidak berhasil.
Kemampuan ini membuat mereka lebih siap menghadapi perubahan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di lingkungan kerja.
2. Mampu Mengelola Emosi
Memiliki resilience bukan berarti selalu merasa tenang atau tidak pernah mengalami emosi negatif.
Seseorang yang resilient tetap bisa merasa sedih, kecewa, atau takut, tetapi mampu mengenali dan mengelola emosi tersebut dengan baik.
Dengan begitu, emosi tidak sepenuhnya mengendalikan cara mereka mengambil keputusan atau menghadapi masalah.
3. Tidak Mudah Menyerah
Ketika menghadapi hambatan, orang yang memiliki resilience cenderung tidak langsung menyerah.
Mereka memahami bahwa proses untuk mencapai tujuan tidak selalu berjalan lancar dan mungkin membutuhkan beberapa kali percobaan.
Jika satu cara tidak berhasil, mereka akan mencari alternatif lain untuk tetap melangkah.
4. Mau Belajar dari Kegagalan
Kegagalan dapat menjadi pengalaman yang memberikan pelajaran berharga.
Orang yang resilient tidak hanya fokus pada hasil yang tidak sesuai harapan, tetapi juga mengevaluasi apa yang bisa dipelajari dari pengalaman tersebut.
Mereka menggunakan hasil evaluasi untuk memperbaiki strategi dan menghadapi situasi serupa dengan lebih baik di kemudian hari.
5. Memiliki Self-Awareness
Self-awareness membantu seseorang memahami kekuatan, keterbatasan, kebutuhan, serta respons dirinya ketika menghadapi masalah.
Dengan pemahaman tersebut, seseorang dapat mengetahui kapan harus bertahan, kapan perlu mengubah strategi, dan kapan membutuhkan bantuan.
Hal ini membuat mereka lebih mampu mengambil keputusan yang sesuai dengan kondisi diri.
6. Mau Meminta Bantuan
Meminta bantuan bukan berarti seseorang lemah atau tidak mampu menghadapi masalah sendiri.
Justru, menyadari bahwa diri membutuhkan dukungan merupakan bagian dari resilience.
Orang yang resilient tidak ragu mencari bantuan dari teman, keluarga, mentor, atau orang lain yang dipercaya ketika menghadapi situasi yang sulit.
7. Mampu Menjaga Perspektif
Orang yang memiliki resilience mampu melihat masalah secara lebih luas dan tidak menjadikan satu kegagalan sebagai gambaran keseluruhan tentang dirinya.
Mereka memahami bahwa mengalami kegagalan dalam satu hal tidak berarti tidak mampu melakukan hal lain.
Perspektif ini membantu mereka tetap memiliki harapan dan melihat kemungkinan untuk kembali mencoba.
Baca Juga: Apa Itu Demosi? Pengertian, Penyebab, Dampak, dan Cara Menghadapinya
Apa Saja Jenis-Jenis Resilience?

Resilience tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghadapi masalah secara emosional. Kemampuan ini dapat terlihat dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari kondisi mental dan fisik hingga hubungan sosial dan perkembangan karier.
1. Emotional Resilience
Emotional resilience adalah kemampuan untuk menghadapi dan mengelola emosi ketika berada dalam situasi yang sulit.
Seseorang tetap dapat merasakan sedih, kecewa, marah, atau cemas, tetapi mampu memahami emosinya dan mengelolanya dengan cara yang sehat.
Kemampuan ini membantu seseorang tetap berpikir dan bertindak dengan lebih baik ketika menghadapi tekanan emosional.
2. Mental Resilience
Mental resilience berkaitan dengan kemampuan menjaga pola pikir dan fokus ketika menghadapi tantangan.
Seseorang dengan kemampuan ini tidak mudah kehilangan arah ketika menghadapi kegagalan atau situasi yang tidak sesuai harapan.
Mereka mampu melihat masalah dari berbagai sudut pandang, mempertahankan fokus pada tujuan, dan mencari solusi ketika menghadapi hambatan.
3. Physical Resilience
Physical resilience merupakan kemampuan tubuh untuk menghadapi tekanan fisik dan kembali pulih setelah mengalami kelelahan atau kondisi yang menguras energi.
Kondisi fisik yang baik dapat membantu seseorang menjalani aktivitas dan menghadapi tuntutan sehari-hari dengan lebih optimal.
Karena itu, menjaga pola tidur, aktivitas fisik, dan waktu istirahat juga menjadi bagian penting dalam membangun resilience.
4. Social Resilience
Social resilience adalah kemampuan seseorang untuk mendapatkan dan memanfaatkan dukungan dari lingkungan sosial ketika menghadapi kesulitan.
Hubungan yang positif dengan keluarga, teman, rekan kerja, atau komunitas dapat membantu seseorang melewati masa sulit.
Memiliki lingkungan yang suportif juga membuat seseorang tidak merasa harus menghadapi semua masalah seorang diri.
5. Career Resilience
Career resilience adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan, menghadapi tantangan, dan tetap berkembang dalam perjalanan karier.
Perubahan teknologi, kebutuhan industri, tuntutan pekerjaan, hingga persaingan di dunia kerja membuat kemampuan ini semakin penting.
Dengan career resilience, kamu dapat lebih siap menghadapi perubahan sekaligus terus mengembangkan skill yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan karier.
Contoh Resilience dalam Kehidupan Sehari-Hari
Resilience tidak hanya terlihat ketika seseorang menghadapi masalah besar. Kemampuan ini juga dapat terlihat dari cara seseorang merespons berbagai tantangan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Berikut beberapa contohnya yang mungkin pernah kamu alami.
1. Setelah Gagal Mendapatkan Pekerjaan
Tidak mendapatkan pekerjaan setelah mengikuti proses rekrutmen tentu bisa membuat kecewa. Namun, orang yang memiliki resilience tidak berhenti pada rasa kecewa tersebut.
Mereka mengevaluasi proses yang sudah dilalui, mencari tahu hal yang perlu diperbaiki, meningkatkan skill jika diperlukan, lalu kembali mencari peluang pekerjaan lainnya.
Sebaliknya, respons yang tidak resilient adalah menganggap satu penolakan sebagai bukti bahwa dirinya tidak mampu.
2. Saat Menghadapi Perubahan di Tempat Kerja
Perubahan sistem, role, teknologi, atau team dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman karena harus beradaptasi dengan situasi baru.
Dengan resilience, kamu dapat mencoba memahami perubahan tersebut, mempelajari hal yang dibutuhkan, dan menyesuaikan cara kerja.
Alih-alih terus mempertahankan cara lama, kamu berusaha menemukan cara baru agar tetap bisa bekerja secara efektif.
3. Saat Menghadapi Kegagalan dalam Belajar
Gagal memahami materi atau mendapatkan hasil ujian yang kurang baik bukan berarti kamu tidak memiliki kemampuan untuk belajar.
Dengan resilience, kamu dapat mengevaluasi bagian yang belum dipahami, mencari metode belajar yang lebih sesuai, dan mencoba kembali.
Proses tersebut membantu kamu melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk mengetahui apa yang perlu diperbaiki, bukan sebagai alasan untuk berhenti belajar.
4. Saat Menghadapi Masalah dalam Kehidupan
Masalah dalam kehidupan bisa datang dalam berbagai bentuk dan tidak selalu dapat diprediksi.
Ketika menghadapinya, resilience membantu kamu menerima keadaan, mengelola emosi, dan mencari langkah yang masih bisa dilakukan.
Kamu mungkin tidak dapat mengubah situasi yang sudah terjadi, tetapi kamu tetap bisa menentukan bagaimana akan merespons dan melanjutkan kehidupan setelahnya.
Apa Perbedaan Resilience, Mental Toughness, dan Growth Mindset?
Resilience, mental toughness, dan growth mindset sama-sama berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam menghadapi tantangan. Namun, ketiganya memiliki fokus yang berbeda.
Memahami perbedaannya dapat membantu kamu mengetahui kemampuan apa yang sedang digunakan ketika menghadapi situasi sulit.
| Konsep | Fokus Utama |
| Resilience | Bangkit dan beradaptasi setelah menghadapi kesulitan |
| Mental toughness | Tetap fokus dan bertahan menghadapi tekanan |
| Growth mindset | Keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha dan pembelajaran |
Ketiganya memang saling berhubungan, tetapi bukan istilah yang sama.
Resilience lebih menekankan kemampuan untuk bangkit dan beradaptasi, mental toughness berkaitan dengan ketahanan dalam mempertahankan fokus ketika berada di bawah tekanan, sedangkan growth mindset berfokus pada keyakinan bahwa kemampuan dapat terus berkembang.
Ketiganya dapat membantu kamu menghadapi tantangan dan terus berkembang dalam kehidupan maupun karier.
Bagaimana Cara Membangun Resilience?
Resilience bukan kemampuan yang hanya dimiliki oleh orang tertentu. Kemampuan ini dapat dibangun dan dilatih melalui kebiasaan serta cara kamu merespons berbagai tantangan.
Lalu, apa saja yang bisa dilakukan untuk membangun resilience? Simak di bawah ini.
1. Kenali dan Terima Emosi
Ketika menghadapi masalah, wajar jika kamu merasa kecewa, takut, sedih, atau marah. Membangun resilience bukan berarti harus menyangkal emosi tersebut.
Cobalah mengenali apa yang kamu rasakan dan memahami penyebabnya agar kamu dapat mengelola emosi dengan lebih baik sebelum mengambil keputusan atau menentukan langkah berikutnya.
2. Fokus pada Hal yang Bisa Dikendalikan
Tidak semua hal dalam hidup berada dalam kendali kamu. Karena itu, penting untuk membedakan hal yang bisa dan tidak bisa kamu ubah.
Daripada terus memikirkan sesuatu yang berada di luar kendali, arahkan energi pada tindakan yang masih bisa dilakukan, seperti mengubah strategi, mencari solusi, atau mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan yang ada.
3. Bangun Pola Pikir yang Fleksibel
Situasi yang sulit tidak selalu memiliki satu solusi. Pola pikir yang fleksibel membantu kamu melihat masalah dari berbagai perspektif dan mempertimbangkan pendekatan yang berbeda.
Ketika suatu cara tidak berhasil, kamu dapat mencoba cara lain tanpa langsung menganggap bahwa tidak ada solusi untuk masalah tersebut.
4. Belajar dari Pengalaman
Setiap tantangan dapat menjadi kesempatan untuk belajar jika kamu mau melakukan evaluasi.
Setelah menghadapi masalah, coba tanyakan pada diri sendiri: apa yang sebenarnya terjadi, apa yang bisa diperbaiki, dan apa yang dapat dipelajari dari pengalaman tersebut?
Evaluasi seperti ini membantu kamu memahami kesalahan dan membuat keputusan yang lebih baik ketika menghadapi situasi serupa.
5. Bangun Kebiasaan yang Mendukung Diri
Kondisi fisik dan mental dapat memengaruhi kemampuan kamu dalam menghadapi tekanan.
Karena itu, bangun kebiasaan yang mendukung keseharian, seperti tidur yang cukup, menjaga rutinitas, berolahraga, mengatur waktu istirahat, dan memberikan diri sendiri waktu untuk memulihkan energi.
Kebiasaan sederhana ini dapat membantu kamu tetap memiliki energi ketika menghadapi berbagai tantangan.
6. Bangun Support System
Kamu tidak harus menghadapi semua masalah seorang diri.
Teman, keluarga, mentor, rekan kerja, atau lingkungan yang suportif dapat menjadi tempat untuk berbagi cerita dan mendapatkan perspektif baru.
Berani meminta bantuan ketika membutuhkannya juga merupakan bagian dari resilience, karena dukungan yang tepat dapat membantu kamu melewati situasi sulit dengan lebih baik.
7. Tetapkan Tujuan yang Realistis
Tujuan yang terlalu besar terkadang membuat sebuah tantangan terasa semakin berat.
Cobalah memecah tujuan menjadi beberapa langkah kecil yang lebih mudah dilakukan dan dievaluasi.
Dengan cara ini, kamu dapat melihat perkembangan secara bertahap, mempertahankan motivasi, dan tidak mudah merasa kewalahan ketika menghadapi proses yang panjang.
8. Terus Belajar dan Mengembangkan Skill
Kemampuan untuk terus belajar dapat membantu kamu menjadi lebih siap menghadapi perubahan.
Misalnya, ketika teknologi berkembang dan kebutuhan dunia kerja berubah, kamu dapat meningkatkan skill yang relevan agar tetap mampu beradaptasi.
Kebiasaan belajar secara berkelanjutan tidak hanya membantu perkembangan karier, tetapi juga membangun rasa percaya diri ketika menghadapi tantangan baru.
Mengapa Resilience Penting di Dunia Kerja?
Dunia kerja terus mengalami perubahan, mulai dari perkembangan teknologi dan AI hingga perubahan kebutuhan industri serta persaingan kerja yang semakin dinamis.
Dalam kondisi ini, resilience membantu kamu tetap adaptif, mampu menghadapi tekanan, dan terus belajar ketika tuntutan pekerjaan berubah.
1. Menghadapi Tekanan Kerja
Tekanan kerja dapat muncul dari berbagai hal, seperti tenggat waktu, beban pekerjaan, target, atau perubahan tanggung jawab.
Resilience membantu kamu menghadapi tekanan tersebut tanpa mudah kehilangan fokus atau menyerah.
Dengan kemampuan ini, kamu dapat mengelola situasi dengan lebih tenang, menentukan prioritas, dan mencari solusi ketika menghadapi masalah di tempat kerja.
2. Beradaptasi dengan Teknologi Baru
Perkembangan teknologi membuat cara kerja dan kebutuhan skill terus berubah.
Kehadiran AI dan otomatisasi, misalnya, membuat beberapa pekerjaan mengalami perubahan proses dan tuntutan kompetensi.
Resilience membantu kamu menerima perubahan tersebut sebagai bagian dari perkembangan dunia kerja, kemudian mendorong kamu untuk mempelajari teknologi dan kemampuan baru yang relevan.
3. Menghadapi Kegagalan dalam Karier
Perjalanan karier tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana.
Kamu mungkin pernah gagal mendapatkan pekerjaan, tidak mendapatkan promosi, mengalami perubahan posisi, atau harus memulai kembali dari awal.
Dengan resilience, pengalaman tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui hal yang perlu diperbaiki, sehingga kamu dapat kembali mencoba dan mencari peluang yang lebih sesuai.
4. Mendorong Continuous Learning
Perubahan kebutuhan industri membuat kemampuan yang relevan saat ini belum tentu tetap relevan di masa depan.
Karena itu, resilience dapat mendorong kamu untuk memiliki kemauan belajar secara berkelanjutan.
Melalui upskilling dan reskilling, kamu dapat meningkatkan kemampuan yang sudah dimiliki atau mempelajari skill baru agar lebih siap menghadapi perubahan dan peluang di dunia kerja.
Baca Juga: Riset: Hanya 23% Fresh Graduates Percaya Diri Masuk Dunia Kerja
Bagaimana Cara Melatih Resilience di Dunia Kerja?

Resilience di dunia kerja dapat dilatih melalui kebiasaan sederhana dalam menghadapi pekerjaan, perubahan, dan berbagai tantangan karier.
Berikut caranya:
1. Biasakan Menerima Feedback
Feedback dapat membantu kamu mengetahui bagian yang sudah baik dan hal yang masih perlu diperbaiki.
Jangan langsung menganggap kritik sebagai kegagalan atau serangan terhadap kemampuanmu.
Cobalah melihat feedback sebagai masukan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pekerjaan dan mengembangkan diri.
2. Jangan Takut Mencoba Hal Baru
Keluar dari zona nyaman memang bisa membuat kamu merasa tidak yakin, terutama ketika harus mempelajari sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Namun, mencoba hal baru dapat membantu kamu membangun kemampuan beradaptasi.
Ketika menghadapi kesalahan atau hasil yang belum sesuai harapan, gunakan pengalaman tersebut sebagai kesempatan untuk belajar dan mencoba kembali.
3. Tingkatkan Skill Secara Berkala
Kebutuhan dunia kerja terus berubah seiring perkembangan teknologi dan industri.
Karena itu, jangan menunggu sampai kemampuanmu tidak lagi relevan untuk mulai belajar.
Luangkan waktu secara berkala untuk meningkatkan skill, mengikuti perkembangan industri, atau mempelajari kemampuan baru yang dapat mendukung tujuan kariermu.
4. Evaluasi Kesalahan Tanpa Menyalahkan Diri Sendiri
Kesalahan merupakan bagian dari proses belajar dan dapat terjadi kepada siapa saja.
Ketika melakukan kesalahan, fokuslah pada apa yang bisa diperbaiki daripada terus menyalahkan diri sendiri.
Evaluasi penyebabnya, cari solusi, dan tentukan langkah agar kesalahan yang sama tidak terulang. Dengan begitu, kamu dapat menjadikan pengalaman tersebut sebagai pembelajaran.
5. Bangun Networking dan Support System
Memiliki hubungan yang baik dengan rekan kerja, mentor, maupun profesional di bidang yang kamu minati dapat memberikan dukungan ketika menghadapi tantangan.
Networking juga dapat membuka perspektif dan peluang baru dalam karier. Jangan ragu untuk berdiskusi, bertukar pengalaman, atau meminta bantuan ketika menghadapi situasi yang sulit.
6. Tetapkan Target Pengembangan Karier
Memiliki target dapat membantu kamu mengetahui arah perkembangan karier dan langkah yang perlu dilakukan.
Tentukan tujuan yang realistis, lalu pecah menjadi beberapa target kecil yang dapat dicapai secara bertahap.
Dengan cara ini, kamu dapat memantau perkembangan, mengevaluasi strategi, dan tetap termotivasi meskipun perjalanan karier tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Kesimpulan
Resilience adalah kemampuan untuk menghadapi kesulitan, beradaptasi, dan bangkit dari kegagalan.
Kemampuan ini dapat dilatih melalui pengalaman, pola pikir yang fleksibel, dukungan sosial, dan kemauan untuk terus belajar.
Di dunia kerja yang terus berubah, resilience membantu kamu tetap adaptif dan siap menghadapi berbagai tantangan maupun peluang karier.

Kenali Potensi dan Rencanakan Kariermu dengan AI Career Counselor
Untuk membantu kamu menemukan arah karier yang lebih sesuai, Digital Skola menghadirkan AI Career Counselor yang dapat membantu kamu mendapatkan:
- Analisis CV untuk mengetahui kekuatan dan area yang masih perlu dikembangkan
- Simulasi wawancara untuk membantu kamu lebih siap menghadapi proses rekrutmen
- Rekomendasi karier berdasarkan profil, pengalaman, dan potensi yang kamu miliki
Coba AI Career Counselor dan mulai kenali potensi serta persiapkan langkah kariermu bersama Digital Skola.
FAQ
1. Apakah resilience merupakan kemampuan bawaan?
Tidak. Resilience bukan kemampuan yang hanya dimiliki sejak lahir. Kemampuan ini dapat dibangun dan dilatih melalui pengalaman, kebiasaan, cara berpikir, serta kemampuan seseorang dalam menghadapi berbagai tantangan.
2. Apa yang menyebabkan seseorang memiliki resilience yang rendah?
Resilience dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pengalaman menghadapi tekanan, lingkungan sekitar, pola pikir, kemampuan mengelola emosi, dan dukungan sosial. Kondisinya juga dapat berbeda pada setiap orang dan situasi.
3. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun resilience?
Tidak ada waktu yang pasti karena resilience berkembang secara bertahap. Konsistensi dalam mengevaluasi pengalaman, mengelola emosi, membangun kebiasaan positif, dan belajar menghadapi tantangan dapat membantu meningkatkan kemampuan ini dari waktu ke waktu.
4. Apakah orang yang mudah menangis berarti tidak memiliki resilience?
Tidak. Menangis merupakan salah satu bentuk respons emosional dan tidak secara otomatis menunjukkan bahwa seseorang tidak memiliki resilience. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang memahami emosinya, mengelolanya, dan kembali menghadapi situasi setelah mengalami kesulitan.
5. Apakah resilience penting untuk perkembangan karier?
Ya. Resilience membantu kamu menghadapi perubahan, kegagalan, tekanan, dan tuntutan baru di dunia kerja. Kemampuan ini juga dapat mendorong kamu untuk terus belajar dan mengembangkan skill agar lebih siap menghadapi perubahan karier.