HomepageBlog7 Cara Hitung ROI Sosial Media Agar Iklan Makin Cuan
5 min read

7 Cara Hitung ROI Sosial Media Agar Iklan Makin Cuan

Tayang 17 Juni 2025 Diperbarui: 17 Juni 2025
Ditulis oleh:
digitalskola

Digital Skola Content Team

Share


cara hitung roi sosial media

Cara hitung ROI sosial media sangat penting buat kamu yang ingin tahu apakah strategi iklan yang kamu jalankan benar-benar menghasilkan. Tanpa perhitungan ROI (Return on Investment), kamu cuma akan menebak-nebak, apakah iklanmu sukses atau malah buang-buang anggaran.

Kalau kamu tahu cara menghitung ROI secara tepat, kamu bisa mengambil keputusan yang lebih cerdas dan tentunya bikin iklan makin cuan! 

Yuk, simak cara lengkapnya di bawah ini.

Baca Juga: 10 Cara Meningkatkan Engagement di Media Sosial dengan Efektif

Berapa ROI yang Baik di Sosial Media?

Menentukan target ROI yang realistis di media sosial penting untuk menilai apakah strategi pemasaranmu memberikan hasil yang layak atau justru perlu segera dievaluasi. 

Berdasarkan data dari Sprout Social, berikut beberapa acuan yang bisa kamu gunakan:

  • ROI sebesar 500% atau rasio 5:1 dianggap sangat baik di berbagai industri. Artinya dari investasi Rp1 juta, kamu mendapat Rp5 juta sebagai hasilnya.
  • Untuk platform seperti Facebook Ads, ROI antara 4 hingga 5 kali lipat sudah termasuk performa yang solid.
  • Secara umum, kampanye media sosial biasanya menghasilkan ROI rata-rata 1,5 hingga 2 kali lipat (150–200%).

Jika angka ROI kamu masih di bawah 150%, ini bisa jadi indikator bahwa strategi perlu dirombak, baik dari sisi segmentasi audiens, pemilihan format konten, hingga efektivitas CTA dan halaman tujuan.

7 Cara Hitung ROI Sosial Media

Perhitungan ROI di sosial media gak sesederhana menghitung laba rugi toko biasa. Karena di sini, hasilnya bisa berupa pendapatan langsung maupun dampak non-finansial seperti awareness atau engagement. Maka dari itu, kamu perlu tahu langkah-langkah detailnya agar perhitungan ROI jadi lebih akurat dan strategis. Berikut ini cara-caranya:

1. Hitung Total Biaya Kampanye

Langkah pertama yang perlu dilakukan yaitu menghitung semua biaya yang kamu keluarkan selama kampanye sosial media berlangsung. 

Ini bukan cuma biaya iklan, tapi juga biaya produksi konten, gaji tim kreatif atau freelancer, biaya software editing, tools analytics, bahkan waktu yang dihabiskan tim internal.

Contoh:

Kamu menjalankan kampanye selama sebulan. Biayanya meliputi:

  • Iklan Facebook Ads: Rp2.000.000
  • Desain konten grafis: Rp500.000
  • Subscription tools analytics: Rp200.00
  •  Total biaya = Rp2.700.000

Semakin rinci kamu mencatat, semakin akurat hasil ROI yang akan dihitung.

2. Tentukan Pendapatan atau Hasil yang Dihasilkan

Selanjutnya, hitung pendapatan atau hasil yang kamu peroleh dari kampanye. Jika tujuan kampanye adalah penjualan, maka kamu bisa langsung menjumlahkan total penjualan dari traffic atau leads sosial media. 

Tapi kalau tujuannya awareness atau leads, kamu bisa menghitung nilai konversinya (lead value).

Contoh:

  • Dari kampanye tadi, kamu berhasil menjual 20 produk dengan harga masing-masing Rp250.000.
  • Total pendapatan: 20 x Rp250.000 = Rp5.000.000

Jika kampanyemu hanya menghasilkan leads, kamu bisa gunakan estimasi value per lead, misalnya 1 lead = Rp50.000.

3. Gunakan Rumus ROI

Setelah dapat data biaya dan hasil, kamu tinggal masukkan ke dalam rumus:

ROI = (Pendapatan – Biaya) / Biaya x 100%

Contoh:

ROI = (5.000.000 – 2.700.000) / 2.700.000 x 100% = 85,2%

Artinya, dari setiap Rp1.000.000 yang kamu keluarkan, kamu mendapatkan keuntungan Rp852.000. Ini tandanya kampanye kamu cuan!

4. Evaluasi ROI Non-Finansial

cara hitung roi sosial media

Gak semua kampanye sosial media menghasilkan uang langsung. Kadang tujuannya untuk meningkatkan brand awareness, engagement, atau jumlah followers. Untuk kasus ini, kamu bisa pakai metrik seperti:

  • Jumlah reach dan impression
  • Kenaikan followers
  • Engagement rate (like, comment, share)

Contoh:

Dari kampanye edukasi brand, kamu mendapatkan:

  • 50.000 reach
  • 1.500 engagement
  • 300 followers baru

Jika nilai satu follower potensial diestimasikan Rp10.000 (berdasarkan nilai rata-rata konversi jangka panjang), maka nilai non-finansial kampanyemu bisa mencapai Rp3.000.000.

5. Gunakan Tools Analytics untuk Tracking

Supaya datamu lebih valid, kamu butuh bantuan tools analytics. Beberapa tools yang bisa kamu pakai:

  • Meta Ads Manager untuk performa iklan Facebook & Instagram
  • Google Analytics untuk tracking website traffic dari sosial media
  • Bitly atau UTM untuk lacak link yang diklik
  • HubSpot / CRM untuk tracking lead hingga konversi penjualan

Sebagai contoh, dengan Google Analytics, kamu bisa tahu bahwa dari 2.000 klik iklan, 180 orang checkout produk. Artinya, kamu punya conversion rate 9%. Data ini penting untuk optimasi strategi di masa depan.

6. Bandingkan ROI Antar Platform

Kamu juga bisa menghitung dan membandingkan ROI dari tiap platform sosial media, misalnya Instagram vs TikTok. Ini membantu kamu fokus pada channel yang memberikan hasil terbaik.

Contoh:

  • Instagram: Biaya Rp1.500.000 → Penjualan Rp3.000.000 → ROI 100%
  • TikTok: Biaya Rp1.200.000 → Penjualan Rp1.500.000 → ROI 25%

Dari sini, kamu bisa alihkan anggaran lebih besar ke Instagram.

7. Lakukan Evaluasi dan Optimasi Berkala

Jangan puas setelah sekali hitung. Evaluasi hasil kampanye secara berkala, mingguan atau bulanan. Lihat performa konten, engagement, dan konversi. Dari situ, kamu bisa A/B testing, ganti CTA, atau ubah targeting audience agar ROI terus naik.

Jika setelah uji A/B dua jenis copywriting, kamu lihat bahwa versi B menghasilkan 2x lebih banyak leads. Maka, kamu bisa optimalkan kampanye berikutnya berdasarkan insight tersebut.

Baca Juga: 4 Strategi Sosial Media yang Tepat untuk Bisnismu

Apa Tantangan Mengukur ROI Sosial Media?

Ada banyak faktor yang memengaruhi hasil kampanye digital, dan gak semuanya bisa dilacak secara langsung. Nah, sebelum kamu frustasi lihat angka ROI yang “gak jelas”, pahami dulu beberapa tantangan umum berikut ini:

1. Attribution Problem

Salah satu tantangan terbesar yaitu menentukan seberapa besar kontribusi sosial media terhadap penjualan akhir. 

Misalnya, seseorang pertama kali lihat kontenmu di Instagram, lalu seminggu kemudian mereka klik iklan Google dan akhirnya beli. Nah, siapa yang harus “dapat kredit”? Instagram atau Google Ads?

Masalah ini disebut multi-touch attribution, dan sering bikin hasil ROI jadi bias. Kalau kamu hanya mengandalkan data last-click, kontribusi sosial media bisa kelihatan lebih kecil dari kenyataannya. Padahal bisa jadi, sosial media adalah pintu pertama yang membuka perhatian audiens.

Solusinya? Gunakan tools yang bisa bantu track seluruh customer journey, bukan cuma titik akhir transaksi.

2. Long-Term Impact

cara hitung roi sosial media

Kampanye yang bertujuan meningkatkan brand awareness atau loyalitas audiens gak akan langsung terlihat hasil finansialnya. Bisa saja kamu bikin konten edukatif yang viral, tapi pembeli baru datang 3 bulan kemudian setelah mereka benar-benar percaya dengan brand kamu.

Ini yang bikin ROI sosial media kadang terlihat “rendah”, padahal dampaknya baru terasa jangka panjang. Hal-hal seperti kenaikan followers, engagement positif, dan meningkatnya mention brand sering kali jadi fondasi pertumbuhan penjualan ke depannya.

Karena itu, penting untuk tetap mengukur ROI non-finansial dan mengaitkannya dengan data penjualan dalam periode yang lebih panjang.

3. Data yang Tersebar di Banyak Platform

Sosial media bukan cuma satu platform. Kamu mungkin menjalankan kampanye di Instagram, TikTok, LinkedIn, hingga YouTube secara bersamaan. 

Tantangannya: data performa tersebar di berbagai dashboard, dan masing-masing platform punya metrik serta cara pelaporan yang berbeda.

Akibatnya, kamu bisa kesulitan mendapatkan gambaran utuh soal performa keseluruhan kampanye. Ini bikin proses pengambilan keputusan jadi kurang akurat atau bahkan menyesatkan.

Solusinya adalah menggunakan tools analytics terpadu atau dashboard pelaporan yang bisa menggabungkan data dari berbagai channel biar kamu gak perlu switch ke banyak tab hanya untuk lihat insight besar.

Baca Juga: 9 Jenis-Jenis Media Sosial dan Contohnya

Kesimpulan

Menguasai cara hitung ROI sosial media bukan cuma bikin kamu lebih pintar ngelola budget, tapi juga bantu kamu bikin strategi yang benar-benar berdampak. Kamu jadi bisa tahu kampanye mana yang layak dilanjutkan, mana yang harus dirombak. 

Nah, biar kamu makin jago dan ROI makin tinggi, sekarang saatnya belajar strategi sosial media marketing yang terukur dan berbasis data. 

Kamu bisa mulai dengan gabung ke program Social Media Marketing berbasis AI dari Digital Skola, yang dirancang buat bantu kamu kuasai semua aspek pemasaran digital secara praktis dan relevan.

Tingkatkan Skill Sosial Media Marketingmu di Digital Skola

Mau jadi digital marketer yang paham strategi, kreatif bikin konten, dan jago ngitung ROI? Di Digital Skola, kamu akan belajar bareng mentor expert di program Social Media Marketing AI-powered yang akan membimbing langsung praktik di lapangan.

Yang akan kamu pelajari:

  • Teknik copywriting & konten grafis/video organik
  • Perencanaan campaign yang efektif
  • KOL & influencer marketing
  • Optimasi social media ads
  • Pemanfaatan AI untuk efisiensi & ROI yang lebih tinggi

Yuk gabung sekarang dan jadilah bagian dari generasi digital marketer masa depan. Hubungi kami untuk konsultasi, dan mulai perjalanan karier kamu yang lebih cuan bareng Digital Skola!