
Ringkasan
- Kirkpatrick Model adalah framework evaluasi pelatihan yang membantu mengukur efektivitas program secara menyeluruh, mulai dari respons peserta hingga dampaknya terhadap kinerja dan hasil bisnis.
- Empat level evaluasi: Reaction, Learning, Behavior, dan Results, memberikan gambaran apakah pelatihan benar-benar meningkatkan kompetensi sekaligus memberikan nilai bagi organisasi.
- Agar hasil evaluasi lebih optimal, perusahaan perlu menetapkan tujuan pelatihan yang jelas, indikator keberhasilan yang terukur, serta melakukan evaluasi secara berkala.
- Manfaatkan Corporate Training dari Digital Skola yang dilengkapi Free Training Needs Analysis (TNA) untuk membantu mengidentifikasi kebutuhan kompetensi dan menyusun strategi pengembangan SDM yang berdampak pada performa bisnis.
Apa itu Kirkpatrick Model? Kirkpatrick Model adalah framework evaluasi pelatihan yang digunakan untuk mengukur efektivitas suatu program pembelajaran, mulai dari respons peserta hingga dampaknya terhadap kinerja dan hasil bisnis.
Model ini banyak diterapkan oleh perusahaan dan tim Learning & Development (L&D) untuk memastikan pelatihan memberikan manfaat yang nyata.
Lantas, apa saja empat level dalam Kirkpatrick Model dan bagaimana cara menerapkannya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Apa Itu Kirkpatrick Model?
Kirkpatrick Model adalah model evaluasi pelatihan yang digunakan untuk mengukur efektivitas program pembelajaran secara menyeluruh.
Model ini dikembangkan oleh Donald L. Kirkpatrick dan hingga kini menjadi salah satu framework evaluasi pelatihan yang paling banyak digunakan oleh perusahaan, institusi pendidikan, maupun organisasi.
Tujuan utama Kirkpatrick Model meliputi:
- Mengukur respons peserta terhadap program pelatihan.
- Menilai peningkatan pengetahuan, keterampilan, atau kompetensi peserta.
- Mengevaluasi perubahan perilaku setelah mengikuti pelatihan.
- Mengidentifikasi dampak pelatihan terhadap kinerja individu maupun organisasi.
Baca Juga: 7 Cara Memilih Vendor Corporate Training yang Tepat untuk HR Manager
Sejarah Singkat Kirkpatrick Model
Kirkpatrick Model pertama kali diperkenalkan oleh Donald L. Kirkpatrick pada tahun 1959 melalui serangkaian artikel di Journal of the American Society of Training Directors.
Seiring berkembangnya kebutuhan evaluasi pelatihan, model ini terus disempurnakan.
Akhirnya melahirkan New World Kirkpatrick Model, yang memberikan penekanan lebih besar pada perencanaan hasil (desired results), dukungan organisasi, serta faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan penerapan hasil pelatihan di tempat kerja.
Mengapa Kirkpatrick Model Penting?
Kirkpatrick Model membantu perusahaan mengevaluasi apakah program pelatihan benar-benar memberikan dampak bagi peserta maupun organisasi.
Dengan evaluasi yang tepat, perusahaan dapat mengambil keputusan yang lebih efektif dalam mengembangkan kompetensi karyawan.
Manfaat Kirkpatrick Model antara lain:
- Mengukur efektivitas program pelatihan secara menyeluruh.
- Mengetahui apakah peserta benar-benar memahami dan menguasai materi yang dipelajari.
- Menilai apakah hasil pelatihan diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari.
- Menghubungkan pelatihan dengan peningkatan kinerja individu maupun organisasi.
- Membantu perusahaan mengambil keputusan berdasarkan data hasil evaluasi.
- Mengoptimalkan anggaran Learning & Development (L&D) agar investasi pelatihan lebih tepat sasaran.
Apa Saja 4 Level dalam Kirkpatrick Model?
Kirkpatrick Model terdiri dari empat level evaluasi yang saling melengkapi. Keempat level ini membantu perusahaan memahami efektivitas pelatihan, mulai dari respons peserta hingga dampaknya terhadap kinerja organisasi.
Berikut penjelasan setiap levelnya:
Level 1: Reaction
Level Reaction mengukur respons atau kepuasan peserta setelah mengikuti pelatihan. Evaluasi ini bertujuan mengetahui apakah materi, metode pembelajaran, hingga fasilitator telah memenuhi harapan peserta.
Hal yang biasanya diukur meliputi:
- Tingkat kepuasan peserta terhadap pelatihan.
- Relevansi materi dengan kebutuhan pekerjaan.
- Penilaian terhadap mentor atau trainer.
- Pengalaman belajar secara keseluruhan.
Contoh pertanyaan survei:
- Apakah materi pelatihan mudah dipahami?
- Apakah mentor menyampaikan materi dengan baik?
- Seberapa bermanfaat pelatihan bagi pekerjaan Anda?
Contoh penerapan:
Setelah mengikuti Bootcamp Data Analytics, peserta diminta mengisi survei mengenai kualitas materi, kemampuan mentor dalam mengajar, serta pengalaman belajar selama program berlangsung.
Level 2: Learning
Level Learning bertujuan mengukur sejauh mana peserta memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau perubahan sikap setelah mengikuti pelatihan.
Evaluasi dapat dilakukan melalui berbagai bentuk assessment, seperti:
- Pre-test.
- Post-test.
- Quiz.
- Mini project atau studi kasus.
Hasil evaluasi pada level ini menunjukkan apakah tujuan pembelajaran telah tercapai sebelum peserta menerapkan ilmunya di lingkungan kerja.
Level 3: Behavior
Level Behavior mengevaluasi apakah peserta benar-benar menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam pekerjaan sehari-hari. Pengukuran biasanya dilakukan beberapa minggu atau bulan setelah pelatihan selesai.
Beberapa cara evaluasinya antara lain:
- Observasi langsung terhadap kinerja peserta.
- Feedback dari atasan atau rekan kerja.
- Penilaian terhadap perubahan perilaku kerja.
Contoh penerapan:
Setelah menyelesaikan pelatihan Data Analytics, peserta mulai menggunakan SQL atau Python untuk mengolah data dan membuat laporan di tempat kerja.
Level 4: Results
Level Results mengukur dampak pelatihan terhadap tujuan bisnis atau organisasi. Pada tahap ini, perusahaan menilai apakah pelatihan memberikan hasil yang nyata bagi kinerja perusahaan.
Beberapa indikator yang dapat digunakan antara lain:
- Produktivitas meningkat.
- Tingkat kesalahan (error) menurun.
- Revenue atau penjualan meningkat.
- Customer satisfaction meningkat.
- Efisiensi proses kerja menjadi lebih baik.
Contoh penerapan:
Sebuah perusahaan melatih tim analis data untuk meningkatkan kemampuan visualisasi data. Setelah beberapa bulan, waktu pembuatan laporan menjadi lebih singkat, kualitas pengambilan keputusan meningkat, dan produktivitas tim pun mengalami peningkatan.
Baca Juga: Kenapa Corporate Training Gagal? 5 Kesalahan Fatal HR Manager dan Solusinya
Bagaimana Contoh Penerapan Kirkpatrick Model?

Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh penerapan Kirkpatrick Model pada program Bootcamp Data Analytics.
Level 1: Reaction
Setelah seluruh sesi bootcamp selesai, peserta diminta mengisi survei evaluasi mengenai pengalaman belajar mereka. Beberapa aspek yang dinilai meliputi:
- Kualitas materi yang disampaikan.
- Kemampuan mentor menjelaskan konsep Data Analytics.
- Relevansi studi kasus dan project dengan kebutuhan industri.
- Kepuasan terhadap proses pembelajaran secara keseluruhan.
Level 2: Learning
Untuk mengetahui peningkatan kompetensi peserta, penyelenggara dapat melakukan evaluasi melalui:
- Pre-test sebelum bootcamp dimulai.
- Post-test setelah materi selesai dipelajari.
- Pengerjaan mini project menggunakan Microsoft Excel, SQL, atau Python.
- Presentasi hasil analisis data sebagai bentuk penilaian akhir.
Dari hasil tersebut, penyelenggara dapat melihat sejauh mana kemampuan peserta berkembang setelah mengikuti bootcamp.
Level 3: Behavior
Beberapa minggu atau bulan setelah program berakhir, penyelenggara dapat melakukan tindak lanjut untuk mengetahui apakah peserta telah menerapkan keterampilan yang dipelajari. Evaluasi dapat dilakukan melalui survei alumni, wawancara, atau feedback dari atasan.
Misalnya, peserta mulai:
- Menggunakan SQL untuk mengambil data dari database perusahaan.
- Membuat dashboard menggunakan Tableau atau Power BI.
- Mengolah data dengan Python untuk mendukung pengambilan keputusan.
- Menyajikan laporan berbasis data kepada tim atau manajemen.
Level 4: Results
Tahap terakhir mengukur dampak bootcamp terhadap hasil kerja maupun organisasi. Misalnya, setelah peserta menerapkan kemampuan Data Analytics di tempat kerja, perusahaan merasakan beberapa manfaat seperti:
- Proses pembuatan laporan menjadi lebih cepat.
- Analisis data lebih akurat sehingga mendukung pengambilan keputusan.
- Efisiensi kerja tim meningkat karena proses pengolahan data lebih otomatis.
- Produktivitas karyawan meningkat berkat kemampuan analisis yang lebih baik.
Melalui keempat level tersebut, penyelenggara pelatihan dapat mengevaluasi efektivitas program secara menyeluruh, mulai dari pengalaman belajar peserta hingga dampaknya terhadap performa kerja dan hasil bisnis.
Apa Kelebihan dan Kekurangan Kirkpatrick Model?
Meskipun menjadi salah satu framework evaluasi pelatihan yang paling banyak digunakan, Kirkpatrick Model tetap memiliki kelebihan dan keterbatasan. Memahami keduanya dapat membantu perusahaan memilih metode evaluasi yang sesuai dengan tujuan pelatihan.
Kelebihan Kirkpatrick Model
Beberapa kelebihan Kirkpatrick Model antara lain:
- Mudah dipahami dan diterapkan karena memiliki empat level evaluasi yang jelas.
- Menggunakan pendekatan yang sistematis untuk mengukur efektivitas pelatihan.
- Dapat diterapkan di berbagai industri dan jenis program pelatihan.
- Berfokus pada hasil nyata, mulai dari perubahan perilaku hingga dampaknya terhadap organisasi.
- Diakui sebagai salah satu standar global dalam evaluasi training dan program pembelajaran.
Kekurangan Kirkpatrick Model
Di sisi lain, Kirkpatrick Model juga memiliki beberapa keterbatasan, seperti:
- Membutuhkan waktu yang relatif lama, terutama untuk mengevaluasi perubahan perilaku dan hasil bisnis.
- Sulit mengukur Level 4 (Results) karena dampak pelatihan sering dipengaruhi oleh berbagai faktor lain.
- Memerlukan data dan proses evaluasi yang memadai agar hasilnya akurat.
- Faktor eksternal, seperti perubahan strategi perusahaan atau kondisi bisnis, dapat memengaruhi hasil evaluasi sehingga tidak selalu mencerminkan efektivitas pelatihan secara langsung.
Bagaimana Tips Menggunakan Kirkpatrick Model Secara Efektif?
Agar hasil evaluasi pelatihan lebih akurat dan memberikan insight yang bermanfaat, penerapan Kirkpatrick Model perlu dilakukan secara terencana.
Berikut beberapa tips yang dapat membantu perusahaan atau penyelenggara pelatihan mengoptimalkan penggunaan Kirkpatrick Model.
1. Tentukan Tujuan Training Sejak Awal
Sebelum program pelatihan dimulai, tentukan terlebih dahulu tujuan yang ingin dicapai.
Misalnya, apakah pelatihan bertujuan meningkatkan keterampilan teknis, produktivitas kerja, atau kemampuan kepemimpinan.
Tujuan yang jelas akan memudahkan penyusunan metode evaluasi pada setiap level Kirkpatrick Model sekaligus memastikan hasil pelatihan dapat diukur secara objektif.
2. Siapkan Indikator Keberhasilan
Setiap level evaluasi sebaiknya memiliki indikator keberhasilan yang spesifik dan terukur.
Contohnya:
- Level 1 dapat menggunakan skor kepuasan peserta
- Level 2 mengukur peningkatan nilai post-test
- Level 3 melihat perubahan perilaku di tempat kerja
- Level 4 mengukur dampaknya terhadap target bisnis seperti produktivitas atau efisiensi.
3. Gunakan Kombinasi Survei dan Assessment
Jangan hanya mengandalkan survei kepuasan peserta.
Kombinasikan berbagai metode evaluasi, seperti pre-test, post-test, quiz, observasi, wawancara, hingga project atau studi kasus.
Pendekatan ini akan menghasilkan data yang lebih komprehensif untuk menilai efektivitas pelatihan.
4. Lakukan Evaluasi Secara Berkala
Perubahan perilaku dan dampak pelatihan tidak selalu terlihat dalam waktu singkat.
Oleh karena itu, lakukan evaluasi lanjutan beberapa minggu atau bulan setelah program selesai.
Dengan evaluasi berkala, perusahaan dapat mengetahui apakah peserta benar-benar menerapkan keterampilan yang telah dipelajari dalam pekerjaannya.
5. Libatkan Atasan atau Stakeholder
Evaluasi akan lebih akurat jika melibatkan pihak yang berinteraksi langsung dengan peserta, seperti atasan, supervisor, atau stakeholder terkait.
Mereka dapat memberikan masukan mengenai perubahan kinerja, perilaku, maupun kontribusi peserta setelah mengikuti pelatihan, sehingga hasil evaluasi tidak hanya berdasarkan penilaian peserta sendiri.
Baca Juga: 6 Cara HRD Memakai Taksonomi Bloom untuk Menyusun Pelatihan Karyawan
Apa Perbedaan Kirkpatrick Model vs Metode Evaluasi Lain?
Selain Kirkpatrick Model, terdapat beberapa metode lain yang juga digunakan untuk mengevaluasi efektivitas program pelatihan.
Masing-masing memiliki fokus dan pendekatan yang berbeda, sehingga pemilihannya perlu disesuaikan dengan tujuan evaluasi yang ingin dicapai.
Kirkpatrick Model vs Phillips ROI Model
Kirkpatrick Model dan Phillips ROI Model sama-sama digunakan untuk mengevaluasi pelatihan. Namun, perbedaan utamanya terletak pada pengukuran dampak finansial dari program pelatihan.
| Aspek | Kirkpatrick Model | Phillips ROI Model |
| Fokus evaluasi | Mengukur efektivitas pelatihan melalui empat level: Reaction, Learning, Behavior, dan Results. | Mengukur efektivitas pelatihan sekaligus menghitung nilai Return on Investment (ROI). |
| Pengukuran ROI | Tidak menghitung manfaat finansial secara langsung. | Menambahkan analisis ROI untuk mengetahui apakah manfaat pelatihan sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. |
| Cocok digunakan | Saat ingin mengetahui keberhasilan pelatihan dari sisi pembelajaran dan perubahan perilaku. | Saat perusahaan perlu mengevaluasi dampak bisnis sekaligus nilai investasi program pelatihan. |
Kirkpatrick Model vs CIPP Model
Selain Phillips ROI Model, CIPP Model juga sering digunakan untuk mengevaluasi program pendidikan maupun pelatihan.
Berbeda dengan Kirkpatrick Model yang berfokus pada hasil pelatihan, CIPP Model mengevaluasi program sejak tahap perencanaan hingga implementasinya.
| Aspek | Kirkpatrick Model | CIPP Model |
| Pendekatan evaluasi | Berfokus pada hasil pelatihan melalui empat level evaluasi. | Mengevaluasi Context, Input, Process, dan Product selama siklus program berlangsung. |
| Fokus utama | Efektivitas hasil pembelajaran dan dampaknya terhadap organisasi. | Kualitas perencanaan, pelaksanaan, hingga hasil akhir suatu program. |
| Cocok digunakan | Untuk mengevaluasi efektivitas program training atau pengembangan karyawan. | Untuk mengevaluasi program pendidikan, pelatihan, atau proyek yang memerlukan evaluasi menyeluruh dari awal hingga akhir. |
Siapa yang Perlu Memahami Kirkpatrick Model?

Kirkpatrick Model tidak hanya bermanfaat bagi perusahaan, tetapi juga bagi berbagai profesi yang berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia.
Berikut orang-orang atau jabatan yang memerlukan pendekatan ini:
1. HR (Human Resources)
Praktisi HR perlu memahami Kirkpatrick Model untuk mengevaluasi apakah program pelatihan yang diberikan kepada karyawan benar-benar meningkatkan kompetensi dan berdampak pada performa kerja.
Hasil evaluasi tersebut juga dapat menjadi acuan dalam menyusun strategi pengembangan talenta di perusahaan.
2. Learning & Development (L&D)
Bagi tim Learning & Development, Kirkpatrick Model membantu mengukur efektivitas setiap program pembelajaran yang diselenggarakan.
Melalui evaluasi yang terstruktur, tim L&D dapat mengidentifikasi aspek yang perlu dipertahankan maupun ditingkatkan pada program berikutnya.
3. Trainer
Trainer dapat menggunakan Kirkpatrick Model untuk mengetahui apakah metode mengajar, materi, dan aktivitas pembelajaran yang diberikan sudah efektif.
Hasil evaluasi ini juga dapat menjadi bahan perbaikan untuk meningkatkan kualitas pelatihan di masa mendatang.
4. Instructional Designer
Instructional Designer bertugas merancang materi dan pengalaman belajar yang efektif.
Dengan memahami Kirkpatrick Model, mereka dapat menyusun desain pembelajaran sekaligus menentukan metode evaluasi yang sesuai dengan tujuan pelatihan.
5. Corporate Trainer
Corporate Trainer perlu memahami Kirkpatrick Model untuk memastikan pelatihan yang diberikan tidak hanya dipahami oleh peserta, tetapi juga diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari dan memberikan dampak positif bagi perusahaan.
6. Training Manager
Training Manager bertanggung jawab memastikan investasi pelatihan memberikan hasil yang optimal.
Kirkpatrick Model membantu mereka mengevaluasi keberhasilan program, menyusun laporan berbasis data, dan mendukung pengambilan keputusan terkait pengembangan karyawan.
7. Mahasiswa HR atau Psikologi
Mahasiswa yang mempelajari Human Resources, Psikologi Industri dan Organisasi, maupun Learning & Development dapat menjadikan Kirkpatrick Model sebagai bekal untuk memahami proses evaluasi pelatihan yang umum digunakan di dunia kerja.
8. Profesional yang Ingin Berkarier di Bidang Human Resources
Bagi profesional yang ingin berkarier di bidang Human Resources, memahami Kirkpatrick Model dapat menjadi nilai tambah.
Kemampuan mengevaluasi efektivitas pelatihan merupakan salah satu kompetensi yang dibutuhkan dalam pengelolaan dan pengembangan sumber daya manusia.
Kesimpulan
Kirkpatrick Model merupakan framework evaluasi pelatihan yang membantu perusahaan mengukur efektivitas program pembelajaran secara menyeluruh, mulai dari respons peserta, peningkatan kompetensi, perubahan perilaku, hingga dampaknya terhadap hasil bisnis.
Melalui pemahaman empat level evaluasi, kelebihan, cara penerapan, dan tips penggunaannya, perusahaan maupun praktisi HR dapat menyusun strategi pelatihan yang lebih terukur, relevan, dan memberikan manfaat nyata bagi pengembangan sumber daya manusia.

Diskusikan Kebutuhan Pelatihan Perusahaan Anda Bersama Digital Skola
Evaluasi pelatihan akan lebih efektif jika didukung dengan strategi pengembangan SDM yang tepat.
Digital Skola siap membantu perusahaan memaksimalkan setiap investasi pelatihan melalui Free Training Needs Analysis (TNA).
Melalui Corporate Training, Digital Skola membantu perusahaan untuk:
- Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan berdasarkan kompetensi dan tujuan bisnis.
- Menyusun strategi pelatihan yang lebih tepat sasaran dan terukur.
- Memastikan setiap investasi pelatihan memberikan dampak nyata terhadap kinerja karyawan.
- Merancang program pengembangan SDM yang relevan dengan kebutuhan industri.
Daftar sekarang untuk konsultasi dan klaim Free Training Needs Analysis (TNA) bersama Digital Skola.
Wujudkan strategi pelatihan yang tepat agar setiap investasi pengembangan SDM memberikan dampak nyata bagi performa bisnis perusahaan.
FAQ
1. Apakah Kirkpatrick Model hanya digunakan untuk perusahaan?
Tidak. Selain di perusahaan, Kirkpatrick Model juga dapat diterapkan di institusi pendidikan, lembaga pelatihan, organisasi nirlaba, hingga instansi pemerintah untuk mengevaluasi efektivitas program pembelajaran.
2. Kapan waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi menggunakan Kirkpatrick Model?
Waktu evaluasi bergantung pada level yang diukur. Level 1 dan Level 2 biasanya dilakukan segera setelah pelatihan selesai, sedangkan Level 3 dan Level 4 dilakukan beberapa minggu atau bulan kemudian untuk melihat perubahan perilaku dan dampak terhadap organisasi.
3. Apakah semua level dalam Kirkpatrick Model harus digunakan?
Idealnya, ya. Namun, perusahaan dapat menyesuaikan level evaluasi dengan tujuan, waktu, anggaran, dan sumber daya yang dimiliki. Semakin lengkap level yang digunakan, semakin komprehensif hasil evaluasinya.
4. Apa tantangan terbesar dalam menerapkan Kirkpatrick Model?
Salah satu tantangan terbesar adalah mengukur Level 3 (Behavior) dan Level 4 (Results), karena perubahan perilaku maupun hasil bisnis sering dipengaruhi oleh berbagai faktor di luar program pelatihan.
5. Bagaimana cara memulai penerapan Kirkpatrick Model di perusahaan?
Mulailah dengan menetapkan tujuan pelatihan yang jelas, menentukan indikator keberhasilan pada setiap level evaluasi, serta menyiapkan metode pengumpulan data seperti survei, assessment, observasi, dan wawancara agar hasil evaluasi lebih akurat.