HomepageBlogApa Itu Taksonomi Bloom: Definisi, 6 Tingkatan, dan Cara Menerapkannya
5 min read

Apa Itu Taksonomi Bloom: Definisi, 6 Tingkatan, dan Cara Menerapkannya

Tayang 27 Juli 2026 •Diperbarui: 27 Juli 2026
Ditulis oleh:
digitalskola

Digital Skola Content Team

Share


Apa Itu Taksonomi Bloom

Sumber: Teach With Mrs T

Ringkasan

  • Taksonomi Bloom adalah framework yang mengelompokkan tujuan pembelajaran ke dalam enam tingkatan kemampuan berpikir, mulai dari Remember hingga Create.
  • Setiap level dalam Taksonomi Bloom membantu pendidik, trainer, maupun perusahaan menyusun tujuan pembelajaran, aktivitas belajar, dan metode evaluasi yang lebih terarah.
  • Dengan menerapkan Taksonomi Bloom secara sistematis, proses pembelajaran dapat lebih efektif dalam mengembangkan pengetahuan, keterampilan, hingga kemampuan berpikir kritis peserta.
  • Corporate Training dari Digital Skola membantu perusahaan merancang program pembelajaran yang lebih terstruktur, relevan dengan kebutuhan kompetensi karyawan, dan selaras dengan target bisnis perusahaan.

Apa itu Taksonomi Bloom? Taksonomi Bloom adalah framework yang digunakan untuk menyusun tujuan pembelajaran berdasarkan tingkat kemampuan berpikir, mulai dari mengingat hingga menciptakan. 

Framework ini banyak diterapkan dalam dunia pendidikan maupun pelatihan untuk membantu proses belajar menjadi lebih terarah dan terukur. 

Lalu, apa saja tingkatan dalam Taksonomi Bloom dan bagaimana cara menerapkannya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Apa Itu Taksonomi Bloom?

Taksonomi Bloom adalah kerangka klasifikasi tujuan pembelajaran yang mengelompokkan kemampuan berpikir ke dalam beberapa tingkatan, mulai dari kemampuan dasar hingga tingkat berpikir yang lebih kompleks.

Framework ini dikembangkan oleh Benjamin S. Bloom bersama timnya pada tahun 1956 dan hingga kini masih menjadi acuan dalam dunia pendidikan maupun pelatihan.

Tujuan utama Taksonomi Bloom meliputi:

  • Membantu menyusun tujuan pembelajaran yang lebih terarah dan terukur.
  • Menentukan metode pembelajaran sesuai dengan tingkat kemampuan peserta.
  • Mempermudah penyusunan evaluasi atau penilaian hasil belajar.
  • Mendorong peserta mengembangkan kemampuan berpikir secara bertahap, dari mengingat hingga menciptakan.

Baca Juga: 6 Cara HRD Memakai Taksonomi Bloom untuk Menyusun Pelatihan Karyawan

Mengapa Taksonomi Bloom Penting?

Taksonomi Bloom membantu proses pembelajaran menjadi lebih terstruktur dengan memberikan panduan dalam menyusun tujuan, aktivitas, hingga evaluasi belajar. 

Oleh karena itu, framework ini banyak digunakan dalam dunia pendidikan maupun pelatihan untuk memastikan proses pembelajaran berjalan lebih efektif.

Beberapa alasan mengapa Taksonomi Bloom penting, antara lain:

  • Membantu menyusun tujuan pembelajaran yang jelas dan terukur.
  • Memudahkan dalam menentukan metode pembelajaran yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta.
  • Menjadi acuan dalam menyusun evaluasi atau penilaian hasil belajar.
  • Membantu mengukur perkembangan pengetahuan dan keterampilan peserta secara bertahap.
  • Meningkatkan efektivitas pembelajaran dengan mendorong peserta mencapai kemampuan berpikir yang lebih tinggi.

Apa Saja Tingkatan dalam Taksonomi Bloom?

Apa Saja Tingkatan dalam Taksonomi Bloom?

Taksonomi Bloom terdiri dari enam tingkatan kemampuan berpikir yang disusun secara bertahap, mulai dari kemampuan paling dasar hingga kemampuan berpikir tingkat tinggi. 

Berikut penjelasan masing-masing tingkatan dalam Taksonomi Bloom.

1. Remember (Mengingat)

Remember merupakan tingkat paling dasar dalam Taksonomi Bloom. Pada tahap ini, peserta diharapkan mampu mengingat kembali informasi, fakta, konsep, atau istilah yang telah dipelajari tanpa perlu memberikan penjelasan lebih lanjut.

Contoh aktivitas:

  • Menghafalkan definisi suatu konsep.
  • Menyebutkan istilah penting.
  • Mengingat rumus atau prosedur kerja.
  • Mengidentifikasi fakta dari materi yang dipelajari.

Kata kerja operasional:

  • Menyebutkan.
  • Mengingat.
  • Mengidentifikasi.
  • Mendaftar.
  • Mendefinisikan.

2. Understand (Memahami)

Setelah mampu mengingat informasi, peserta diharapkan dapat memahami makna dari materi yang dipelajari. 

Pada level ini, peserta tidak hanya mengetahui suatu konsep, tetapi juga mampu menjelaskan atau menginterpretasikannya dengan bahasa sendiri.

Contoh aktivitas:

  • Menjelaskan konsep Data Analytics.
  • Merangkum materi pembelajaran.
  • Membandingkan dua konsep.
  • Memberikan contoh dari suatu teori.

Kata kerja operasional:

  • Menjelaskan.
  • Mendeskripsikan.
  • Menginterpretasikan.
  • Merangkum.
  • Membandingkan.

3. Apply (Menerapkan)

Pada tahap Apply, peserta mulai menggunakan pengetahuan atau keterampilan yang telah dipelajari untuk menyelesaikan suatu tugas atau permasalahan. 

Fokusnya bukan lagi memahami teori, tetapi mampu mengaplikasikannya dalam situasi nyata.

Contoh aktivitas:

  • Menggunakan SQL untuk mengambil data.
  • Mengolah data menggunakan Microsoft Excel.
  • Menerapkan rumus dalam studi kasus.
  • Menyelesaikan latihan berdasarkan materi yang dipelajari.

Kata kerja operasional:

  • Menggunakan.
  • Menerapkan.
  • Menjalankan.
  • Mengoperasikan.
  • Mengimplementasikan.

4. Analyze (Menganalisis)

Level Analyze mengharuskan peserta mampu menguraikan informasi menjadi beberapa bagian, menemukan hubungan antarbagian, serta mengidentifikasi pola atau penyebab suatu masalah. Kemampuan analisis sangat penting dalam proses pengambilan keputusan.

Contoh aktivitas:

  • Menganalisis tren pada dataset.
  • Mengidentifikasi penyebab penurunan penjualan.
  • Membandingkan hasil analisis dari dua metode yang berbeda.
  • Mengelompokkan data berdasarkan karakteristik tertentu.

Kata kerja operasional:

  • Menganalisis.
  • Mengelompokkan.
  • Membandingkan.
  • Mengidentifikasi.
  • Menguraikan.

5. Evaluate (Mengevaluasi)

Pada tahap Evaluate, peserta diminta memberikan penilaian terhadap suatu ide, metode, atau hasil berdasarkan kriteria tertentu. Evaluasi dilakukan dengan mempertimbangkan data, bukti, maupun argumen yang relevan.

Contoh aktivitas:

  • Menilai kualitas hasil analisis data.
  • Membandingkan efektivitas dua strategi bisnis.
  • Memberikan rekomendasi berdasarkan hasil evaluasi.
  • Menentukan solusi terbaik dari beberapa alternatif.

Kata kerja operasional:

  • Mengevaluasi.
  • Menilai.
  • Mengkritisi.
  • Memilih.
  • Memberikan rekomendasi.

6. Create (Menciptakan)

Create merupakan tingkat kemampuan berpikir tertinggi dalam Taksonomi Bloom. Pada tahap ini, peserta diharapkan mampu menghasilkan ide, solusi, produk, atau karya baru dengan menggabungkan pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki.

Contoh aktivitas:

  • Membuat dashboard analisis data.
  • Merancang strategi pemasaran berbasis data.
  • Menyusun proposal proyek.
  • Mengembangkan solusi untuk menyelesaikan suatu permasalahan.

Kata kerja operasional:

  • Merancang.
  • Menciptakan.
  • Mengembangkan.
  • Menyusun.
  • Mendesain.

Baca Juga: Kirkpatrick Model vs Phillips ROI Model: Perbedaan, Kelebihan, dan Contohnya

Contoh Penerapan Taksonomi Bloom

Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh penerapan Taksonomi Bloom pada program Pelatihan Data Analytics. 

Setiap tingkatan menunjukkan perkembangan kemampuan peserta, mulai dari memahami konsep dasar hingga mampu menghasilkan solusi berbasis data.

Contoh pada Pelatihan Data Analytics

LevelContoh
RememberMengingat fungsi dasar Microsoft Excel, seperti SUM, AVERAGE, dan VLOOKUP.
UnderstandMenjelaskan konsep data, jenis-jenis data, serta proses pengolahan data dalam analisis.
ApplyMenggunakan SQL untuk mengambil, memfilter, dan mengolah data dari database.
AnalyzeMenganalisis dataset untuk menemukan pola, tren, atau penyebab suatu permasalahan bisnis.
EvaluateMembandingkan hasil analisis menggunakan beberapa metode dan menentukan pendekatan yang paling sesuai.
CreateMembuat dashboard interaktif menggunakan Power BI atau Tableau untuk menyajikan insight kepada stakeholder.

Melalui penerapan tersebut, peserta tidak hanya menghafal materi, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir secara bertahap hingga mampu menghasilkan solusi yang relevan dengan kebutuhan bisnis. 

Pendekatan ini membuat proses pembelajaran lebih terarah sekaligus membantu penyelenggara pelatihan menyusun tujuan dan evaluasi yang sesuai dengan tingkat kompetensi peserta.

Apa Manfaat Taksonomi Bloom?

Taksonomi Bloom tidak hanya membantu menyusun proses pembelajaran yang lebih sistematis, tetapi juga memastikan setiap kegiatan belajar memiliki tujuan yang jelas dan dapat diukur. 

Berikut beberapa manfaat Taksonomi Bloom.

1. Membantu Menyusun Tujuan Pembelajaran

Taksonomi Bloom membantu pendidik, trainer, maupun Learning & Development (L&D) menyusun tujuan pembelajaran yang lebih spesifik dan terukur. 

Dengan tujuan yang jelas, proses pembelajaran dapat dirancang sesuai dengan tingkat kemampuan yang ingin dicapai peserta.

2. Mempermudah Penyusunan Materi

Setiap level dalam Taksonomi Bloom memberikan panduan mengenai materi yang perlu disampaikan secara bertahap. 

Hal ini memudahkan penyusunan kurikulum atau modul pembelajaran sehingga peserta dapat mempelajari materi dari konsep dasar hingga kemampuan berpikir tingkat tinggi.

3. Membuat Evaluasi Lebih Terarah

Taksonomi Bloom membantu menyusun metode evaluasi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. 

Misalnya, level Remember dapat dievaluasi melalui quiz, sedangkan level Create lebih tepat dinilai melalui project atau studi kasus. 

Dengan demikian, hasil evaluasi menjadi lebih relevan dan objektif.

4. Meningkatkan Kemampuan Berpikir

Melalui enam tingkatan kemampuan berpikir, Taksonomi Bloom mendorong peserta untuk berkembang secara bertahap, mulai dari mengingat informasi hingga mampu menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan solusi baru. 

Pendekatan ini membantu peserta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.

5. Mendukung Pengembangan Kompetensi

Taksonomi Bloom membantu memastikan bahwa proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada pengetahuan, tetapi juga pada penerapan keterampilan dalam situasi nyata. 

Dengan begitu, peserta dapat mengembangkan kompetensi yang lebih relevan dengan kebutuhan akademik maupun dunia kerja.

Apa Kelebihan dan Kekurangan Taksonomi Bloom?

Taksonomi Bloom menjadi salah satu framework pembelajaran yang paling banyak digunakan karena mampu membantu menyusun tujuan belajar secara sistematis. 

Namun, seperti framework lainnya, Taksonomi Bloom juga memiliki sejumlah kelebihan dan keterbatasan yang perlu dipahami agar penerapannya lebih optimal.

Kelebihan

Beberapa kelebihan Taksonomi Bloom antara lain:

  • Membantu menyusun tujuan pembelajaran yang lebih jelas, terstruktur, dan terukur.
  • Memudahkan pendidik atau trainer dalam menyusun materi pembelajaran secara bertahap.
  • Menjadi acuan dalam memilih metode evaluasi yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta.
  • Mendorong peserta mengembangkan kemampuan berpikir dari tingkat dasar hingga berpikir kritis dan kreatif.
  • Fleksibel untuk diterapkan dalam berbagai konteks, mulai dari pendidikan formal hingga pelatihan di lingkungan kerja.

Kekurangan

Di sisi lain, Taksonomi Bloom juga memiliki beberapa keterbatasan, seperti:

  • Tidak semua proses pembelajaran dapat dikelompokkan secara kaku ke dalam enam tingkatan.
  • Perkembangan kemampuan peserta tidak selalu berlangsung secara berurutan dari satu level ke level berikutnya.
  • Lebih berfokus pada ranah kognitif sehingga aspek afektif dan psikomotor memerlukan pendekatan evaluasi tambahan.
  • Membutuhkan perencanaan yang matang agar tujuan, aktivitas, dan evaluasi pembelajaran benar-benar selaras.

Siapa yang Perlu Memahami Taksonomi Bloom?

Siapa yang Perlu Memahami Taksonomi Bloom?

Taksonomi Bloom bermanfaat bagi siapa saja yang terlibat dalam proses pembelajaran, pelatihan, maupun pengembangan kompetensi. 

Namun, orang-orang dengan level jabatan di bawah ini akan memerlukannya. 

1. Guru dan Dosen

Guru dan dosen dapat menggunakan Taksonomi Bloom untuk menyusun tujuan pembelajaran, memilih metode pengajaran, serta merancang evaluasi yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik. 

Framework ini juga membantu memastikan proses belajar berlangsung secara bertahap.

2. Trainer

Trainer perlu memahami Taksonomi Bloom agar dapat merancang pelatihan yang tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mendorong peserta mengembangkan keterampilan berpikir hingga mampu menerapkannya dalam situasi nyata.

3. Instructional Designer

Instructional Designer bertanggung jawab menyusun kurikulum dan pengalaman belajar yang efektif. Dengan Taksonomi Bloom, mereka dapat menentukan tujuan pembelajaran, aktivitas belajar, dan metode evaluasi yang selaras dengan kompetensi yang ingin dicapai.

4. Learning & Development (L&D)

Tim Learning & Development (L&D) dapat memanfaatkan Taksonomi Bloom untuk merancang program pelatihan yang lebih terstruktur serta memastikan setiap materi dan evaluasi mendukung pengembangan kompetensi karyawan sesuai kebutuhan perusahaan.

5. HR (Human Resources)

Praktisi HR perlu memahami Taksonomi Bloom untuk mendukung perencanaan program pengembangan SDM. 

Framework ini membantu HR bekerja sama dengan tim L&D dalam menentukan kompetensi yang ingin dikembangkan sekaligus mengevaluasi efektivitas proses pembelajaran.

Baca Juga: 4 Cara Mengukur Efektivitas Pelatihan Karyawan dengan Model Kirkpatrick

Bagaimana Cara Menerapkan Taksonomi Bloom?

Penerapan Taksonomi Bloom tidak hanya dimulai dari penyusunan materi, tetapi juga dari perencanaan tujuan pembelajaran hingga proses evaluasi.

Berikut ini cara menerapkannya:

1. Tentukan Tujuan Pembelajaran

Pertama, tetapkan tujuan pembelajaran yang jelas dan terukur. 

Tentukan kemampuan apa yang ingin dicapai peserta setelah mengikuti pembelajaran, baik itu mengingat konsep, menerapkan keterampilan, maupun menciptakan solusi baru. 

Tujuan yang spesifik akan menjadi dasar dalam menyusun seluruh proses pembelajaran.

2. Pilih Level yang Sesuai

Setelah tujuan ditentukan, pilih level Taksonomi Bloom yang paling sesuai dengan kompetensi yang ingin dikembangkan. 

Misalnya, jika peserta baru mengenal suatu materi, fokus dapat dimulai dari level Remember dan Understand. 

Sementara itu, untuk peserta yang sudah berpengalaman, pembelajaran dapat diarahkan ke level Analyze, Evaluate, atau Create.

3. Susun Aktivitas Belajar

Rancang aktivitas pembelajaran yang mendukung pencapaian tujuan pada setiap level. Aktivitas dapat berupa diskusi, studi kasus, simulasi, praktik langsung, maupun project. 

Dengan aktivitas yang sesuai, peserta memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir secara bertahap.

4. Buat Metode Evaluasi

Gunakan metode evaluasi yang selaras dengan level pembelajaran yang dipilih. 

Sebagai contoh, quiz atau tes tertulis dapat digunakan untuk mengukur kemampuan mengingat dan memahami, sedangkan project, presentasi, atau studi kasus lebih sesuai untuk mengevaluasi kemampuan menganalisis, mengevaluasi, hingga menciptakan.

5. Lakukan Perbaikan Berkelanjutan

Evaluasi hasil pembelajaran secara berkala untuk mengetahui apakah tujuan yang telah ditetapkan berhasil dicapai. 

Gunakan hasil evaluasi tersebut sebagai dasar untuk memperbaiki materi, metode pembelajaran, maupun aktivitas belajar sehingga program pembelajaran dapat terus berkembang dan memberikan hasil yang lebih optimal.

Kesimpulan

Taksonomi Bloom merupakan framework yang membantu menyusun tujuan, proses, dan evaluasi pembelajaran secara lebih sistematis melalui enam tingkatan kemampuan berpikir. 

Dengan memahami setiap level dan cara penerapannya, pendidik, trainer, maupun perusahaan dapat merancang pembelajaran yang lebih efektif sehingga peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mampu menerapkan hingga menciptakan solusi sesuai kebutuhan.

Rancang Program Pembelajaran yang Lebih Efektif Bersama Digital Skola

Melalui Corporate Training, Digital Skola membantu perusahaan merancang pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan kompetensi karyawan dan target bisnis.

Di Digital Skola, perusahaan dapat:

  • Menyusun program pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis dan kompetensi karyawan.
  • Mengembangkan materi pembelajaran yang lebih terstruktur dan relevan dengan kebutuhan industri.
  • Meningkatkan efektivitas proses belajar melalui metode pelatihan yang aplikatif.
  • Mendukung pengembangan kompetensi karyawan agar mampu memberikan kontribusi yang lebih optimal bagi perusahaan.

Daftar sekarang untuk berkonsultasi mengenai kebutuhan pelatihan perusahaan dan temukan solusi Corporate Training yang tepat untuk membangun kompetensi karyawan sekaligus mendukung pencapaian target bisnis.

FAQ

1. Apa perbedaan Taksonomi Bloom versi asli dan versi revisi?

Taksonomi Bloom versi revisi mengubah nama beberapa tingkatan menjadi bentuk kata kerja, seperti Remember, Understand, dan Create. Revisi ini juga menempatkan Create sebagai tingkat kemampuan berpikir tertinggi, menggantikan posisi Evaluate pada versi sebelumnya.

2. Apakah Taksonomi Bloom hanya digunakan di dunia pendidikan?

Tidak. Selain di sekolah dan perguruan tinggi, Taksonomi Bloom juga banyak diterapkan dalam pelatihan karyawan, corporate training, pengembangan kompetensi, hingga penyusunan program Learning & Development (L&D).

3. Apakah semua materi pembelajaran harus mencapai level Create?

Tidak selalu. Level yang dipilih bergantung pada tujuan pembelajaran. Beberapa materi cukup sampai level Understand atau Apply, sementara pelatihan yang bertujuan mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat diarahkan hingga level Create.

4. Bagaimana cara menentukan level Taksonomi Bloom yang tepat?

Level ditentukan berdasarkan kompetensi yang ingin dicapai peserta. Jika tujuan pembelajaran hanya mengenalkan konsep, level Remember atau Understand sudah memadai. Namun, jika peserta diharapkan mampu menyelesaikan masalah atau menghasilkan solusi baru, level yang lebih tinggi seperti Analyze, Evaluate, atau Create lebih sesuai.

5. Apa hubungan Taksonomi Bloom dengan evaluasi pembelajaran?

Taksonomi Bloom membantu menentukan metode evaluasi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Misalnya, quiz dapat digunakan untuk mengukur kemampuan mengingat, sedangkan project, presentasi, atau studi kasus lebih tepat untuk mengevaluasi kemampuan menerapkan, menganalisis, hingga menciptakan.