
Ringkasan
- Taksonomi Bloom membantu HRD menyusun pelatihan karyawan secara lebih sistematis, mulai dari menetapkan tujuan pembelajaran hingga mengevaluasi hasilnya.
- Penerapan enam level Taksonomi Bloom memudahkan HRD merancang materi, metode pembelajaran, dan evaluasi yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dikembangkan.
- Agar pelatihan memberikan hasil yang optimal, HRD perlu mengawali proses dengan Training Needs Analysis (TNA), menyusun tujuan pembelajaran yang terukur, serta melakukan evaluasi secara berkala.
- Corporate Training dari Digital Skola membantu perusahaan merancang program pelatihan yang lebih terarah, relevan dengan kebutuhan kompetensi karyawan, dan selaras dengan target bisnis perusahaan.
Cara HRD memakai Taksonomi Bloom untuk menyusun pelatihan karyawan dapat membantu perusahaan merancang program pembelajaran yang lebih terarah dan efektif.
Dengan framework ini, HRD dapat menentukan tujuan pembelajaran, metode pelatihan, hingga evaluasi yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
Lalu, bagaimana cara menerapkan Taksonomi Bloom dalam menyusun pelatihan karyawan? Simak panduan lengkapnya berikut ini.
Mengapa HRD Perlu Menggunakan Taksonomi Bloom?
Taksonomi Bloom membantu HRD merancang program pelatihan yang lebih sistematis, mulai dari menetapkan tujuan pembelajaran hingga mengevaluasi hasilnya.
Dengan pendekatan yang terstruktur, pelatihan dapat lebih selaras dengan kebutuhan kompetensi karyawan dan tujuan bisnis perusahaan.
Beberapa alasan mengapa HRD perlu menggunakan Taksonomi Bloom, antara lain:
- Menyusun tujuan pembelajaran yang jelas, spesifik, dan terukur.
- Menentukan materi pelatihan yang sesuai dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan peserta.
- Memilih metode pelatihan yang tepat agar proses belajar lebih efektif.
- Menyusun evaluasi yang relevan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta.
- Meningkatkan efektivitas pelatihan sehingga memberikan dampak yang lebih optimal bagi karyawan maupun perusahaan.
Baca Juga: 7 Cara Memilih Vendor Corporate Training yang Tepat untuk HR Manager
Apa Itu Taksonomi Bloom?
Taksonomi Bloom adalah framework yang mengelompokkan tujuan pembelajaran berdasarkan enam tingkat kemampuan berpikir, yaitu Remember, Understand, Apply, Analyze, Evaluate, dan Create.
Setiap level menggambarkan tahapan perkembangan peserta, mulai dari mengingat informasi hingga mampu menghasilkan ide atau solusi baru.
Dalam pelatihan karyawan, Taksonomi Bloom membantu HRD menyusun materi, memilih metode pembelajaran, serta menentukan evaluasi yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
Dengan demikian, program pelatihan tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga mendorong karyawan untuk menerapkan pengetahuan dan mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan dalam pekerjaan.
Bagaimana Cara HRD Memakai Taksonomi Bloom untuk Menyusun Pelatihan Karyawan?

Agar pelatihan memberikan dampak yang optimal, HRD perlu menyusun program pembelajaran secara sistematis, mulai dari mengidentifikasi kebutuhan hingga mengevaluasi hasilnya.
Berikut langkah-langkah yang dapat diterapkan.
1. Identifikasi Kebutuhan Pelatihan
Pertama, ketahui terlebih dahulu kompetensi apa yang perlu dikembangkan melalui Training Needs Analysis (TNA).
Pada tahap ini, HRD perlu mengidentifikasi kesenjangan (gap) antara kompetensi yang dimiliki karyawan dengan kompetensi yang dibutuhkan perusahaan.
Selain itu, tujuan pelatihan juga harus selaras dengan target bisnis agar program yang dirancang memberikan dampak yang nyata.
Hal yang perlu diperhatikan:
- Lakukan Training Needs Analysis (TNA).
- Identifikasi gap kompetensi karyawan.
- Sesuaikan dengan tujuan bisnis perusahaan.
- Tentukan kompetensi prioritas yang perlu dikembangkan.
2. Tentukan Tujuan Pembelajaran
Setelah kebutuhan pelatihan diketahui, HRD dapat menyusun tujuan pembelajaran yang spesifik dan terukur.
Gunakan kata kerja operasional sesuai level Taksonomi Bloom agar tujuan pembelajaran lebih jelas dan mudah dievaluasi.
Hal yang perlu diperhatikan:
- Gunakan kata kerja operasional, seperti menjelaskan, menerapkan, atau menganalisis.
- Tentukan level Taksonomi Bloom yang ingin dicapai.
- Pastikan tujuan pembelajaran dapat diukur.
Contoh tujuan pembelajaran:
Setelah mengikuti pelatihan Data Analytics, peserta mampu menggunakan SQL untuk mengambil dan mengolah data secara mandiri.
3. Susun Materi Pelatihan
Materi pelatihan sebaiknya disusun secara bertahap mengikuti perkembangan kemampuan peserta, mulai dari level Remember hingga Create.
Pendekatan ini membantu peserta membangun pemahaman secara berurutan sebelum mempelajari materi yang lebih kompleks.
Hal yang perlu diperhatikan:
- Susun materi dari konsep dasar menuju praktik.
- Sesuaikan materi dengan level Taksonomi Bloom.
- Berikan contoh yang relevan dengan pekerjaan peserta.
Contoh pada pelatihan Data Analytics:
Peserta terlebih dahulu mempelajari konsep data dan fungsi Excel (Remember dan Understand), kemudian menggunakan SQL untuk mengolah data (Apply), menganalisis dataset (Analyze), mengevaluasi hasil analisis (Evaluate), hingga membuat dashboard menggunakan Power BI (Create).
4. Pilih Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran perlu disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai pada setiap level Taksonomi Bloom.
Dengan memilih metode yang tepat, proses belajar menjadi lebih efektif dan peserta lebih mudah menguasai kompetensi yang dibutuhkan.
Metode yang dapat digunakan:
- Lecture untuk memperkenalkan konsep dasar (Remember).
- Diskusi untuk memperdalam pemahaman (Understand).
- Studi kasus untuk melatih kemampuan analisis (Analyze).
- Simulasi untuk mempraktikkan keterampilan (Apply).
- Project untuk menghasilkan solusi atau produk baru (Create).
5. Tentukan Metode Evaluasi
Evaluasi harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Jangan hanya mengukur kemampuan mengingat materi, tetapi juga kemampuan peserta dalam menerapkan hingga menghasilkan solusi.
Metode evaluasi yang dapat digunakan:
- Quiz untuk mengukur pemahaman konsep.
- Assessment atau tes kompetensi.
- Project sebagai bukti penerapan keterampilan.
- Observasi saat praktik kerja.
- Presentasi hasil project atau studi kasus.
6. Lakukan Evaluasi dan Perbaikan
Setelah pelatihan selesai, HRD perlu mengevaluasi efektivitas program secara menyeluruh.
Gunakan feedback dari peserta, hasil evaluasi pembelajaran, serta masukan dari atasan untuk mengetahui aspek yang perlu dipertahankan maupun ditingkatkan.
Proses continuous improvement ini membantu perusahaan menyelenggarakan program pelatihan yang semakin relevan dan berdampak pada pengembangan kompetensi karyawan.
Baca Juga: Kenapa Corporate Training Gagal? 5 Kesalahan Fatal HR Manager dan Solusinya
Contoh Penerapan Taksonomi Bloom dalam Pelatihan Karyawan
Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh penerapan Taksonomi Bloom dalam program Pelatihan Data Analytics.
Setiap level digunakan untuk menyusun aktivitas pembelajaran secara bertahap sehingga peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam pekerjaan.
Contoh Pelatihan Data Analytics
| Level Bloom | Aktivitas Pelatihan |
| Remember | Mengenal fungsi dasar Microsoft Excel, seperti SUM, IF, dan VLOOKUP. |
| Understand | Menjelaskan konsep data, jenis-jenis data, serta proses pengolahan data dalam analisis. |
| Apply | Menggunakan SQL untuk mengambil, memfilter, dan mengolah data dari database. |
| Analyze | Menganalisis dataset untuk menemukan pola, tren, atau penyebab suatu permasalahan bisnis. |
| Evaluate | Memberikan rekomendasi berdasarkan hasil analisis data dan membandingkan beberapa alternatif solusi. |
| Create | Membuat dashboard interaktif menggunakan Power BI atau Tableau untuk menyajikan insight kepada stakeholder. |
Melalui pendekatan ini, HRD dapat memastikan bahwa setiap materi pelatihan disusun sesuai dengan tingkat kemampuan yang ingin dicapai.
Selain membuat proses belajar lebih terstruktur, penerapan Taksonomi Bloom juga membantu peserta mengembangkan kompetensi secara bertahap, mulai dari memahami konsep dasar hingga mampu menghasilkan solusi yang relevan dengan kebutuhan bisnis.
Apa Kesalahan HRD Saat Menyusun Pelatihan Karyawan?
Meskipun perusahaan telah menyelenggarakan berbagai program pelatihan, hasilnya belum tentu memberikan dampak yang optimal. Hal ini sering kali disebabkan oleh beberapa kesalahan dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pelatihan.
Berikut beberapa kesalahan yang perlu dihindari oleh HRD saat menyusun pelatihan karyawan.
1. Tujuan Pelatihan Tidak Jelas
Pelatihan yang tidak memiliki tujuan yang spesifik akan sulit diukur keberhasilannya.
Oleh karena itu, HRD perlu menetapkan tujuan pembelajaran yang jelas dan terukur sejak awal agar materi, metode, serta evaluasi dapat disusun sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Materi Tidak Bertahap
Menyampaikan materi yang terlalu kompleks tanpa membangun pemahaman dasar dapat menyulitkan peserta mengikuti proses pembelajaran.
Sebaiknya materi disusun secara bertahap, mulai dari konsep dasar hingga penerapan, sesuai dengan level dalam Taksonomi Bloom.
3. Metode Belajar Tidak Sesuai
Pemilihan metode pembelajaran yang kurang tepat dapat mengurangi efektivitas pelatihan.
Misalnya, materi yang membutuhkan praktik langsung hanya disampaikan melalui ceramah tanpa adanya simulasi atau studi kasus.
HRD perlu menyesuaikan metode pembelajaran dengan tujuan dan kompetensi yang ingin dikembangkan.
4. Evaluasi Tidak Mengukur Kompetensi
Kesalahan lainnya adalah hanya mengukur kepuasan peserta tanpa mengevaluasi peningkatan kompetensi yang diperoleh.
Agar hasil pelatihan lebih bermakna, evaluasi perlu mengukur kemampuan peserta dalam memahami, menerapkan, hingga menggunakan keterampilan baru dalam pekerjaan sehari-hari.
Bagaimana Tips Mengoptimalkan Taksonomi Bloom dalam Corporate Training?

Menerapkan Taksonomi Bloom dalam corporate training tidak hanya tentang menyusun tujuan pembelajaran, tetapi juga memastikan setiap tahap pelatihan selaras dengan kebutuhan kompetensi dan tujuan bisnis perusahaan.
Berikut beberapa tips yang dapat membantu HRD mengoptimalkan penerapan Taksonomi Bloom dalam program pelatihan karyawan.
1. Sesuaikan dengan Kompetensi Jabatan
Setiap posisi memiliki kebutuhan kompetensi yang berbeda.
Oleh karena itu, HRD perlu menyesuaikan tujuan pembelajaran, materi, dan level Taksonomi Bloom dengan kompetensi yang dibutuhkan pada masing-masing jabatan agar pelatihan lebih relevan dan memberikan manfaat yang maksimal.
2. Fokus pada Penerapan
Pelatihan sebaiknya tidak berhenti pada tahap memahami teori.
Rancang aktivitas yang mendorong peserta untuk menerapkan pengetahuan dalam pekerjaan, seperti praktik langsung, simulasi, atau project.
Dengan begitu, kompetensi yang dipelajari lebih mudah diterapkan di lingkungan kerja.
3. Gunakan Studi Kasus Nyata
Studi kasus yang diambil dari kondisi nyata di perusahaan membantu peserta memahami cara menyelesaikan permasalahan yang benar-benar mereka hadapi.
Pendekatan ini juga melatih kemampuan menganalisis, mengevaluasi, hingga menciptakan solusi yang lebih relevan dengan kebutuhan bisnis.
4. Libatkan Atasan
Atasan memiliki peran penting dalam memastikan hasil pelatihan diterapkan di tempat kerja.
Libatkan atasan dalam proses perencanaan maupun evaluasi pelatihan, misalnya dengan memberikan masukan mengenai kebutuhan kompetensi, memantau perkembangan peserta, dan memberikan feedback setelah pelatihan selesai.
5. Evaluasi Secara Berkala
Lakukan evaluasi secara berkala untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran telah tercapai dan apakah kompetensi yang dipelajari benar-benar diterapkan dalam pekerjaan.
Hasil evaluasi ini dapat digunakan sebagai dasar untuk menyempurnakan materi, metode pembelajaran, maupun program pelatihan berikutnya.
Baca Juga: Manfaat Hingga Tips Memilih Corporate Training Platform
Kesimpulan
Taksonomi Bloom membantu HRD menyusun pelatihan karyawan yang lebih terstruktur, mulai dari menetapkan tujuan pembelajaran, menyusun materi, memilih metode pelatihan, hingga mengevaluasi hasilnya.
Dengan menerapkan setiap level secara sistematis, perusahaan dapat mengembangkan kompetensi karyawan secara lebih efektif sekaligus memastikan program pelatihan memberikan dampak yang selaras dengan kebutuhan bisnis.

Rancang Pelatihan Karyawan yang Lebih Terarah Bersama Digital Skola
Melalui Corporate Training, Digital Skola membantu perusahaan menyusun program pembelajaran yang selaras dengan kebutuhan kompetensi karyawan dan tujuan bisnis.
Di Digital Skola, perusahaan dapat:
- Merancang program pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis dan kompetensi karyawan.
- Menyusun materi pembelajaran yang lebih terstruktur dan aplikatif.
- Menggunakan metode pelatihan yang relevan untuk meningkatkan efektivitas proses belajar.
- Mendukung pengembangan kompetensi karyawan agar mampu memberikan kontribusi yang lebih optimal bagi perusahaan.
Daftar sekarang untuk berkonsultasi mengenai kebutuhan pelatihan perusahaan dan temukan solusi Corporate Training yang tepat untuk membangun kompetensi karyawan sekaligus mendukung pencapaian target bisnis.
FAQ
1. Apakah semua pelatihan karyawan harus menggunakan enam level Taksonomi Bloom?
Tidak. HRD dapat memilih level Taksonomi Bloom sesuai dengan tujuan pelatihan. Misalnya, pelatihan onboarding mungkin hanya berfokus pada level Remember dan Understand, sedangkan pelatihan kepemimpinan dapat mencakup hingga level Evaluate atau Create.
2. Bagaimana cara menentukan level Taksonomi Bloom yang tepat untuk suatu pelatihan?
Level yang dipilih harus disesuaikan dengan kompetensi yang ingin dikembangkan. Jika tujuan pelatihan adalah membangun pengetahuan dasar, gunakan level awal. Namun, jika karyawan diharapkan mampu memecahkan masalah atau menghasilkan inovasi, gunakan level yang lebih tinggi.
3. Apakah Taksonomi Bloom dapat diterapkan pada pelatihan teknis dan soft skills?
Ya. Taksonomi Bloom dapat digunakan untuk berbagai jenis pelatihan, baik pelatihan teknis seperti Data Analytics maupun pelatihan soft skills seperti komunikasi, kepemimpinan, dan problem solving.
4. Apa hubungan Taksonomi Bloom dengan Training Needs Analysis (TNA)?
Training Needs Analysis (TNA) membantu HRD mengidentifikasi kompetensi yang perlu dikembangkan, sedangkan Taksonomi Bloom digunakan untuk menyusun tujuan pembelajaran, materi, metode, dan evaluasi berdasarkan hasil analisis tersebut.
5. Bagaimana cara mengetahui bahwa pelatihan yang disusun sudah efektif?
Efektivitas pelatihan dapat diukur melalui evaluasi hasil belajar, perubahan perilaku karyawan di tempat kerja, serta dampaknya terhadap kinerja individu maupun pencapaian tujuan bisnis perusahaan.