
Sumber: MTD Training Group
Ringkasan
- Kirkpatrick Model dan Phillips ROI Model sama-sama digunakan untuk mengevaluasi efektivitas pelatihan, tetapi memiliki fokus yang berbeda dalam mengukur keberhasilan program.
- Kirkpatrick Model berfokus pada empat level evaluasi, yaitu Reaction, Learning, Behavior, dan Results, sedangkan Phillips ROI Model menambahkan pengukuran Return on Investment (ROI) untuk mengetahui manfaat finansial pelatihan.
- Pemilihan model evaluasi sebaiknya disesuaikan dengan tujuan perusahaan, skala program pelatihan, serta kebutuhan untuk mengukur dampak bisnis maupun nilai investasi pelatihan.
- Ingin merancang program pelatihan yang lebih efektif dan berdampak? Manfaatkan Corporate Training dari Digital Skola untuk membantu mengembangkan kompetensi karyawan sekaligus mendukung pencapaian tujuan bisnis perusahaan.
Kirkpatrick Model vs Phillips ROI Model sering menjadi perbandingan bagi perusahaan yang ingin mengevaluasi efektivitas program pelatihan.
Meskipun sama-sama digunakan untuk mengukur keberhasilan training, kedua model memiliki fokus, metode, dan hasil evaluasi yang berbeda.
Lalu, apa perbedaan Kirkpatrick Model dan Phillips ROI Model, serta kapan masing-masing sebaiknya digunakan? Simak pembahasan lengkapnya berikut ini.
Apa Itu Kirkpatrick Model?
Kirkpatrick Model adalah framework evaluasi pelatihan yang mengukur efektivitas program pembelajaran melalui empat level, yaitu Reaction, Learning, Behavior, dan Results.
Keempat level tersebut membantu perusahaan mengetahui apakah pelatihan berhasil meningkatkan kompetensi peserta, mengubah perilaku kerja, hingga memberikan dampak terhadap kinerja organisasi.
Fokus utama Kirkpatrick Model adalah mengevaluasi keberhasilan pelatihan dari sisi proses pembelajaran dan hasil yang dicapai, sehingga perusahaan dapat memastikan bahwa program pelatihan memberikan manfaat nyata bagi karyawan maupun bisnis.
Baca Juga: 4 Cara Mengukur Efektivitas Pelatihan Karyawan dengan Model Kirkpatrick
Apa Itu Phillips ROI Model?
Phillips ROI Model adalah framework evaluasi pelatihan yang dikembangkan oleh Jack J. Phillips.
Model ini merupakan pengembangan dari Kirkpatrick Model dengan menambahkan satu level evaluasi, yaitu Return on Investment (ROI), sehingga perusahaan dapat mengukur manfaat finansial yang diperoleh dibandingkan biaya yang dikeluarkan untuk pelatihan.
Secara keseluruhan, Phillips ROI Model terdiri dari lima level evaluasi, yaitu Reaction, Learning, Application and Implementation (Behavior), Business Impact (Results), dan Return on Investment (ROI).
Apa Persamaan Kirkpatrick Model dan Phillips ROI Model?
Meskipun memiliki pendekatan evaluasi yang berbeda, Kirkpatrick Model dan Phillips ROI Model memiliki tujuan yang sama, yaitu membantu perusahaan menilai keberhasilan program pelatihan secara objektif.
Keduanya juga menjadi framework yang banyak digunakan dalam pengembangan sumber daya manusia.
Berikut beberapa persamaan antara Kirkpatrick Model dan Phillips ROI Model.
- Sama-sama digunakan untuk mengevaluasi efektivitas program pelatihan atau training.
- Menggunakan pendekatan berbasis data untuk menghasilkan evaluasi yang lebih objektif.
- Mengukur dampak pelatihan terhadap peningkatan kompetensi karyawan maupun kinerja organisasi.
- Membantu perusahaan mengambil keputusan terkait pengembangan SDM dan investasi pelatihan di masa mendatang.
- Banyak digunakan oleh tim Human Resources (HR) dan Learning & Development (L&D) untuk mengevaluasi keberhasilan program pembelajaran.
Kirkpatrick Model vs Phillips ROI Model: Apa Perbedaannya?
Meskipun sama-sama digunakan untuk mengevaluasi efektivitas pelatihan, Kirkpatrick Model dan Phillips ROI Model memiliki fokus, tingkat kompleksitas, serta tujuan evaluasi yang berbeda.
Memahami perbedaan keduanya akan membantu perusahaan memilih framework yang paling sesuai dengan kebutuhan dan skala program pelatihan.
| Aspek | Kirkpatrick Model | Phillips ROI Model |
| Fokus | Mengukur efektivitas pelatihan melalui perubahan pembelajaran, perilaku, dan hasil. | Mengukur efektivitas pelatihan sekaligus menghitung Return on Investment (ROI) dari program pelatihan. |
| Jumlah Level | 4 level evaluasi. | 5 level evaluasi dengan tambahan pengukuran ROI. |
| Pengukuran ROI | Tidak menghitung nilai investasi secara finansial. | Menghitung manfaat finansial dibandingkan biaya pelatihan yang dikeluarkan. |
| Kompleksitas | Lebih sederhana dan mudah diterapkan pada berbagai jenis pelatihan. | Lebih kompleks karena memerlukan analisis biaya, manfaat, dan perhitungan ROI. |
| Data yang Dibutuhkan | Membutuhkan data evaluasi pelatihan, seperti survei, assessment, observasi, dan hasil kerja. | Membutuhkan data evaluasi pelatihan ditambah data finansial, biaya program, serta dampak bisnis yang dapat diukur. |
| Cocok untuk | Sebagian besar program pelatihan yang berfokus pada pengembangan kompetensi karyawan. | Program pelatihan dengan investasi besar yang memerlukan analisis manfaat finansial bagi perusahaan. |
Secara umum, Kirkpatrick Model lebih tepat digunakan ketika perusahaan ingin mengetahui efektivitas pelatihan dari sisi pembelajaran dan perubahan perilaku.
Sementara itu, Phillips ROI Model menjadi pilihan yang lebih sesuai apabila perusahaan juga ingin mengetahui apakah investasi pelatihan memberikan keuntungan yang sebanding dengan biaya yang telah dikeluarkan.
Apa Kelebihan dan Kekurangan Kirkpatrick Model?

Sumber: Forbes
Kirkpatrick Model menjadi salah satu framework evaluasi pelatihan yang paling banyak digunakan karena memiliki pendekatan yang sistematis dan mudah dipahami.
Namun, seperti metode evaluasi lainnya, model ini juga memiliki beberapa kelebihan dan keterbatasan yang perlu dipertimbangkan sebelum diterapkan.
Kelebihan
Beberapa kelebihan Kirkpatrick Model antara lain:
- Mudah dipahami dan diterapkan pada berbagai jenis program pelatihan.
- Memiliki empat level evaluasi yang sistematis dan saling melengkapi.
- Membantu mengukur efektivitas pelatihan dari respons peserta hingga hasil yang dicapai organisasi.
- Dapat diterapkan di berbagai industri dan skala perusahaan.
- Menjadi salah satu standar evaluasi pelatihan yang banyak digunakan oleh HR dan Learning & Development (L&D).
Kekurangan
Di sisi lain, Kirkpatrick Model juga memiliki beberapa keterbatasan, seperti:
- Tidak mengukur Return on Investment (ROI) atau manfaat finansial dari program pelatihan.
- Membutuhkan waktu yang relatif lama untuk mengevaluasi perubahan perilaku dan hasil bisnis.
- Sulit mengidentifikasi apakah hasil yang dicapai sepenuhnya dipengaruhi oleh pelatihan atau faktor lain.
- Memerlukan proses evaluasi yang konsisten agar hasilnya akurat dan dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan.
Baca Juga: Apa Itu Kirkpatrick Model? Pengertian, 4 Level, dan Contohnya
Apa Kelebihan dan Kekurangan Phillips ROI Model?
Phillips ROI Model dikembangkan untuk memberikan evaluasi pelatihan yang lebih komprehensif dengan menambahkan pengukuran Return on Investment (ROI).
Framework ini cocok digunakan ketika perusahaan ingin mengetahui dampak pelatihan sekaligus nilai investasi yang dihasilkan.
Namun, penerapannya juga memiliki beberapa tantangan.
Kelebihan
Beberapa kelebihan Phillips ROI Model antara lain:
- Mengukur efektivitas pelatihan sekaligus Return on Investment (ROI) secara finansial.
- Membantu perusahaan menilai apakah investasi pelatihan memberikan nilai tambah bagi bisnis.
- Menyediakan data yang lebih komprehensif untuk mendukung pengambilan keputusan.
- Cocok digunakan untuk mengevaluasi program pelatihan strategis dengan anggaran yang besar.
- Membantu menunjukkan kontribusi pelatihan terhadap pencapaian tujuan dan kinerja bisnis.
Kekurangan
Di sisi lain, Phillips ROI Model juga memiliki beberapa keterbatasan, seperti:
- Memiliki proses evaluasi yang lebih kompleks dibandingkan Kirkpatrick Model.
- Membutuhkan data yang lebih banyak, termasuk data finansial dan indikator bisnis.
- Memerlukan waktu serta sumber daya yang lebih besar untuk melakukan analisis ROI.
- Sulit mengisolasi dampak pelatihan dari faktor lain yang juga memengaruhi hasil bisnis.
- Kurang praktis untuk program pelatihan berskala kecil atau dengan tujuan pembelajaran yang sederhana.
Kapan Sebaiknya Menggunakan Kirkpatrick Model?

Kirkpatrick Model menjadi pilihan yang tepat bagi perusahaan yang ingin mengevaluasi efektivitas pelatihan secara sistematis tanpa perlu melakukan perhitungan finansial yang kompleks.
Berikut beberapa kondisi ketika Kirkpatrick Model sebaiknya digunakan.
1. Saat Ingin Mengukur Efektivitas Pelatihan
Kirkpatrick Model cocok digunakan ketika perusahaan ingin mengetahui apakah program pelatihan berhasil mencapai tujuan pembelajaran.
Melalui empat level evaluasi, perusahaan dapat menilai respons peserta, peningkatan kompetensi, perubahan perilaku, hingga dampaknya terhadap organisasi.
2. Ketika Pelatihan Berskala Kecil hingga Menengah
Framework ini sesuai untuk mengevaluasi pelatihan dengan skala kecil hingga menengah yang tidak memerlukan analisis Return on Investment (ROI). Proses evaluasinya lebih sederhana sehingga mudah diterapkan oleh berbagai jenis perusahaan.
3. Jika Membutuhkan Evaluasi yang Cepat
Apabila perusahaan membutuhkan hasil evaluasi dalam waktu yang relatif singkat, Kirkpatrick Model dapat menjadi pilihan yang tepat.
Evaluasi dapat dilakukan secara bertahap menggunakan survei, assessment, observasi, dan indikator kinerja tanpa harus menghitung manfaat finansial dari pelatihan.
4. Saat Fokus pada Pengembangan Kompetensi
Kirkpatrick Model ideal digunakan ketika tujuan utama pelatihan adalah meningkatkan pengetahuan, keterampilan, atau perilaku kerja karyawan.
Dengan framework ini, perusahaan dapat memastikan bahwa kompetensi yang diperoleh selama pelatihan benar-benar diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari dan memberikan dampak positif bagi organisasi.
Kapan Sebaiknya Menggunakan Phillips ROI Model?

Sumber: FrontCare
Phillips ROI Model lebih tepat digunakan ketika perusahaan membutuhkan evaluasi pelatihan yang tidak hanya mengukur efektivitas pembelajaran, tetapi juga dampaknya terhadap investasi bisnis.
Berikut beberapa kondisi ketika Phillips ROI Model sebaiknya digunakan.
1. Saat Perusahaan Mengeluarkan Anggaran Pelatihan Besar
Jika perusahaan menginvestasikan anggaran yang besar untuk program pelatihan, Phillips ROI Model dapat membantu mengukur apakah biaya yang dikeluarkan memberikan manfaat yang sebanding bagi organisasi.
Dengan begitu, perusahaan dapat menilai efektivitas investasi pelatihan secara lebih objektif.
2. Ketika Manajemen Membutuhkan Data ROI
Manajemen sering kali memerlukan data yang menunjukkan nilai bisnis dari sebuah program pelatihan.
Phillips ROI Model menyediakan perhitungan Return on Investment (ROI) sehingga hasil evaluasi tidak hanya berfokus pada peningkatan kompetensi, tetapi juga manfaat finansial yang diperoleh perusahaan.
3. Untuk Program Strategis Perusahaan
Framework ini cocok digunakan pada program pelatihan yang mendukung strategi bisnis perusahaan, seperti pelatihan kepemimpinan, transformasi digital, atau pengembangan talenta.
Hasil evaluasi dapat menjadi dasar untuk menentukan keberlanjutan maupun pengembangan program di masa mendatang.
4. Saat Pelatihan Berkaitan dengan Target Bisnis
Apabila tujuan pelatihan berkaitan langsung dengan target bisnis, seperti meningkatkan produktivitas, efisiensi operasional, penjualan, atau kepuasan pelanggan, Phillips ROI Model membantu perusahaan menghubungkan hasil pelatihan dengan pencapaian indikator bisnis sekaligus menghitung nilai investasi yang dihasilkan.
Baca Juga: 6 Cara HRD Memakai Taksonomi Bloom untuk Menyusun Pelatihan Karyawan
Contoh Penerapan Kedua Model
Agar perbedaan Kirkpatrick Model dan Phillips ROI Model lebih mudah dipahami, berikut contoh penerapannya pada program pelatihan Data Analytics di sebuah perusahaan.
Perbedaan utama terlihat pada tahap akhir evaluasi, di mana Phillips ROI Model menambahkan pengukuran nilai investasi (ROI) dari program pelatihan.
Contoh Kasus Pelatihan Data Analytics
| Tahapan | Kirkpatrick Model | Phillips ROI Model |
| Reaction | Survei kepuasan peserta terhadap materi, trainer, dan pengalaman belajar. | Survei kepuasan peserta terhadap materi, trainer, dan pengalaman belajar. |
| Learning | Pre-test, post-test, serta assessment untuk mengukur peningkatan kompetensi. | Pre-test, post-test, serta assessment untuk mengukur peningkatan kompetensi. |
| Behavior | Observasi penerapan keterampilan, seperti penggunaan SQL atau Python dalam pekerjaan. | Observasi penerapan keterampilan, seperti penggunaan SQL atau Python dalam pekerjaan. |
| Results | Mengukur peningkatan produktivitas, efisiensi kerja, atau kualitas hasil pekerjaan. | Mengukur peningkatan produktivitas, efisiensi kerja, atau kualitas hasil pekerjaan. |
| ROI | — | Menghitung Return on Investment (ROI) dengan membandingkan manfaat finansial yang diperoleh terhadap biaya pelatihan yang telah dikeluarkan. |
Dari contoh tersebut, terlihat bahwa kedua model memiliki proses evaluasi yang hampir sama hingga tahap Results.
Perbedaannya, Phillips ROI Model menambahkan evaluasi ROI untuk mengetahui apakah manfaat yang diperoleh perusahaan sebanding dengan investasi yang telah dikeluarkan untuk program pelatihan.
Mana yang Lebih Baik untuk Perusahaan?
Tidak ada model evaluasi yang paling baik untuk semua perusahaan. Pilihan antara Kirkpatrick Model dan Phillips ROI Model bergantung pada tujuan evaluasi, jenis program pelatihan, serta informasi yang ingin diperoleh dari hasil evaluasi.
Jika perusahaan hanya ingin mengetahui efektivitas pelatihan dari sisi pembelajaran, perubahan perilaku, dan dampaknya terhadap organisasi, Kirkpatrick Model sudah menjadi pilihan yang tepat.
Sebaliknya, apabila perusahaan juga ingin mengetahui apakah investasi pelatihan memberikan manfaat finansial yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan, Phillips ROI Model lebih sesuai karena mencakup pengukuran Return on Investment (ROI).
Sebagai rekomendasi, pilih Kirkpatrick Model untuk program pelatihan yang berfokus pada pengembangan kompetensi karyawan atau evaluasi rutin.
Sementara itu, gunakan Phillips ROI Model untuk program pelatihan strategis, berskala besar, atau ketika manajemen membutuhkan data ROI sebagai dasar pengambilan keputusan investasi pelatihan.
Kesimpulan
Kirkpatrick Model dan Phillips ROI Model sama-sama membantu perusahaan mengevaluasi efektivitas program pelatihan, tetapi memiliki fokus yang berbeda.
Kirkpatrick Model lebih menekankan pada hasil pembelajaran dan perubahan perilaku, sedangkan Phillips ROI Model menambahkan pengukuran nilai investasi pelatihan.
Dengan memahami perbedaan, kelebihan, dan waktu penggunaan masing-masing model, perusahaan dapat memilih metode evaluasi yang paling sesuai dengan tujuan pengembangan SDM dan kebutuhan bisnis.

Pilih Strategi Evaluasi Pelatihan yang Tepat Bersama Digital Skola
Melalui Corporate Training, Digital Skola membantu perusahaan merancang program pelatihan yang selaras dengan kebutuhan kompetensi dan tujuan bisnis.
Melalui Corporate Training, perusahaan dapat:
- Menyusun program pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis dan kompetensi karyawan.
- Meningkatkan keterampilan karyawan melalui materi yang relevan dengan kebutuhan industri.
- Mengoptimalkan efektivitas pelatihan dengan pendekatan yang lebih terarah dan terukur.
- Mendukung pengembangan SDM agar mampu berkontribusi pada peningkatan performa organisasi.
Daftar sekarang untuk berkonsultasi mengenai kebutuhan pelatihan perusahaan dan temukan solusi Corporate Training yang tepat untuk mendukung pengembangan SDM serta pencapaian target bisnis.
FAQ
1. Apakah Phillips ROI Model merupakan pengembangan dari Kirkpatrick Model?
Ya. Phillips ROI Model dikembangkan oleh Jack J. Phillips dengan menambahkan satu level evaluasi, yaitu Return on Investment (ROI), sehingga perusahaan dapat mengukur manfaat finansial dari program pelatihan.
2. Apakah semua program pelatihan perlu menggunakan Phillips ROI Model?
Tidak. Phillips ROI Model lebih cocok digunakan untuk program pelatihan dengan investasi besar atau yang memiliki dampak strategis terhadap bisnis. Untuk pelatihan rutin, Kirkpatrick Model sering kali sudah cukup untuk mengevaluasi efektivitasnya.
3. Apakah Kirkpatrick Model dan Phillips ROI Model dapat digunakan secara bersamaan?
Bisa. Banyak perusahaan menggunakan Kirkpatrick Model untuk mengevaluasi efektivitas pelatihan, kemudian melanjutkannya dengan Phillips ROI Model untuk menghitung nilai investasi (ROI) dari program tersebut.
4. Faktor apa yang perlu dipertimbangkan saat memilih model evaluasi pelatihan?
Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan meliputi tujuan evaluasi, anggaran pelatihan, ketersediaan data, kompleksitas program, serta apakah perusahaan perlu mengukur dampak finansial dari pelatihan.
5. Siapa yang bertanggung jawab melakukan evaluasi pelatihan di perusahaan?
Evaluasi pelatihan umumnya dilakukan oleh tim Human Resources (HR), Learning & Development (L&D), atau Training Manager. Namun, proses evaluasi juga dapat melibatkan atasan langsung dan manajemen untuk memperoleh hasil yang lebih komprehensif.