HomepageBlog12 Contoh Cyber Security yang Wajib Diwaspadai
5 min read

12 Contoh Cyber Security yang Wajib Diwaspadai

Tayang 24 Februari 2023 Diperbarui: 24 Februari 2023
Ditulis oleh:
digitalskola

Digital Skola Content Team

Share


Pesatnya kemajuan teknologi digital memberikan banyak pengaruh besar terhadap individu, organisasi, hingga bisnis. Di satu sisi kemajuan ini membawa banyak dampak positif, tapi di sisi lain juga membawa dampak negatif yang menjadi celah tindak kejahatan di era digital atau cyber crime yang dilakukan oleh hacker jahat yang memanfaatkan celah teknologi yang ada untuk kepentingan pribadi dengan cara merugikan orang lain. Maka dari itu, penting untuk kita semua mengetahui contoh cyber security yang harus diwaspadai.

Lantas, apa saja jenis contoh cyber security yang harus diwaspadai? Simak penjelasan lengkapnya di artikel ini!

BACA JUGA: Career Path Cyber Security: Penetration Tester

Mengapa Cyber Security Penting untuk Mencegah Cyber Crime?

Mengapa Cyber Security Penting untuk Mencegah Cyber Crime?
Apa Perbedaan Cyber Security dan Cyber Crime? (Photo by Petter Lagson on Unsplash) 

Cyber security adalah praktik melindungi jaringan, sistem, hingga program dari berbagai serangan digital alias cyber crime (Sumber: CISCO). Contoh cyber security adalah menggunakan firewall, enkripsi, autentikasi yang kuat, dan masih banyak lagi.  Di sisi lain, cyber crime adalah tindak kejahatan seseorang atau sekelompok orang di dunia maya yang menargetkan atau menggunakan komputer, jaringan komputer, perangkat jaringan, hingga software (Sumber: Kaspersky). Contoh cyber crime adalah serangan ransomware, phishing, skimming, carding, OTP fraud, pemalsuan identitas, dan masih banyak lagi. 

Jika bisnis menerapkan praktik cyber security dengan baik maka akses data juga akan lebih terjaga karena sulit untuk hacker jahat masuk atau mencari celah keamanan. Sebaliknya, jika bisnis tidak menerapkan cyber security yang mumpuni, maka keamanan berbagai aset perusahaan akan mudah dibobol oleh orang yang tidak bertanggung jawab. 

BACA JUGA: 10 Cara Menjadi Cyber Security Untuk Pemula

Kenapa Perusahaan Harus Menerapkan Cyber Security?

Di era digital, hampir semua aktivitas bisnis bergantung pada teknologi. Mulai dari penyimpanan data pelanggan, komunikasi internal, transaksi online, hingga strategi pemasaran. Kondisi ini membuat perusahaan semakin rentan menjadi target cyber security. Beberapa alasan utama mengapa perusahaan harus menerapkan cyber security antara lain:

  1. Melindungi Aset Bisnis

Data, sistem, dan infrastruktur IT merupakan aset penting yang harus dijaga. Cyber security membantu memastikan informasi ini tidak mudah dicuri atau dimanipulasi pihak luar.

  1. Menghindari Kerugian Finansial

Serangan seperti ransomware atau pencurian data bisa mengakibatkan kerugian miliaran rupiah. Biaya pemulihan, kompensasi pelanggan, hingga kehilangan pendapatan dapat dicegah dengan investasi pada cyber security.

  1. Menjaga Reputasi dan Kepercayaan Publik

Perusahaan yang mengalami kebocoran data berisiko kehilangan kepercayaan pelanggan. Dengan sistem keamanan yang baik, perusahaan menunjukkan komitmen terhadap perlindungan data konsumen.

  1. Kepatuhan Terhadap Regulasi

Banyak industri memiliki aturan terkait keamanan data, seperti GDPR, ISO 27001, atau standar lokal. Kegagalan mematuhi regulasi bisa berujung denda besar dan sanksi hukum.

  1. Meningkatkan Daya Saing

Perusahaan yang menerapkan cyber security dengan baik lebih dipercaya oleh investor, mitra, dan pelanggan. Keamanan bisa menjadi nilai tambah dalam persaingan bisnis.

BACA JUGA: 4 Tips Belajar Cyber Security Otodidak Sampai Jago

12 Contoh Cyber Security yang Wajib Diwaspadai

12 Contoh Cyber Security yang Wajib Diwaspadai
 Contoh Cyber Security yang Harus Diwaspadai (Photo by cottonbro studio on Pexels)

Meskipun cyber security berfungsi melindungi bisnis dari ancaman digital, penerapannya juga memiliki tantangan tersendiri. Perusahaan perlu memahami jenis-jenis keamanan yang umum digunakan sekaligus mewaspadai cara kerjanya agar tidak terjadi celah yang bisa dimanfaatkan penjahat siber. Berikut beberapa contoh cyber security yang harus diwaspadai:

  1. Firewall

Firewall berfungsi sebagai “gerbang penjaga” antara jaringan internal perusahaan dan dunia luar. Dengan konfigurasi yang tepat, firewall bisa menyaring traffic data berbahaya sebelum masuk ke sistem. Namun, kelemahan sering muncul ketika firewall tidak diperbarui sesuai ancaman terbaru, atau jika aturan konfigurasinya terlalu longgar. Contohnya, serangan SQL injection atau malware bisa lolos bila firewall hanya dipasang secara default tanpa penyesuaian kebutuhan perusahaan.

  1. Enkripsi Data

Enkripsi ibarat menyembunyikan data dengan kode rahasia, sehingga meski dicuri, informasinya sulit dimengerti tanpa kunci dekripsi. Perusahaan biasanya mengenkripsi data sensitif, seperti informasi pelanggan, detail transaksi, hingga laporan internal. Tantangannya, teknologi enkripsi terus berkembang. Jika perusahaan menggunakan algoritma lama yang sudah usang, hacker bisa lebih mudah memecahkannya. Misalnya, enkripsi DES sudah dianggap tidak aman dan digantikan dengan AES.

  1. Autentikasi Multi-Faktor

Autentikasi Multi-Faktor menambah lapisan keamanan dengan memerlukan lebih dari satu metode verifikasi, seperti password + kode OTP atau biometrik. Cara ini membuat peretas lebih sulit masuk hanya dengan menebak password. Namun, kelemahannya tetap ada yaitu serangan phishing yang menipu pengguna agar menyerahkan kode OTP masih sering terjadi. Bahkan, ada teknik SIM swapping di mana nomor telepon korban diambil alih untuk mencuri kode verifikasi.

  1. Sistem Deteksi Intrusi (IDS/IPS)

IDS/IPS bertugas memantau traffic jaringan untuk mencari aktivitas mencurigakan. Sistem ini bisa mendeteksi anomali, seperti adanya brute force attack atau akses tidak biasa dari lokasi tertentu. Tapi kelemahannya, jika tidak diperbarui secara rutin, IDS bisa gagal mengenali serangan baru yang belum terdaftar dalam database-nya.

  1. Application Security

Aplikasi perusahaan, baik website maupun sistem internal, adalah target empuk hacker. Bug kecil saja bisa menjadi pintu masuk untuk pencurian data. Misalnya, aplikasi yang tidak memiliki validasi input bisa terkena serangan SQL injection atau cross-site scripting (XSS). Oleh karena itu, pengujian aplikasi (penetration testing), pembaruan rutin, dan secure coding practice wajib dilakukan sejak tahap pengembangan, bukan hanya setelah aplikasi berjalan.

  1. Manajemen Akses dan Identitas (IAM)

IAM membantu mengatur siapa saja yang boleh mengakses data tertentu berdasarkan jabatan atau kebutuhan kerja. Tanpa sistem ini, setiap karyawan mungkin bisa membuka semua file perusahaan, yang jelas berbahaya. Selain ancaman dari luar, ada risiko insider threat, yaitu kebocoran data yang dilakukan orang dalam. Contohnya, mantan karyawan yang masih punya akses login lama bisa menyalahgunakannya jika akun tidak segera dinonaktifkan.

  1. Keamanan Cloud

Penyimpanan di cloud tetap memiliki risiko, terutama jika penyedia layanan tidak memiliki standar keamanan tinggi. Ancaman bisa datang dari misconfiguration, di mana perusahaan lupa mengatur izin akses, sehingga data bisa diakses publik tanpa sengaja. Selain itu, perusahaan juga harus memastikan penyedia cloud patuh pada standar internasional seperti ISO 27001 atau GDPR jika menyangkut data pelanggan.

  1. Username dan Password Tidak Dikelola 

Biasanya, ada beberapa perusahaan yang mengizinkan banyak karyawan mengetahui username dan password pada akun situs web atau aplikasi tertentu karena merasa lebih praktis dan sederhana jika semua karyawan tahu informasi tersebut. Padahal, hal ini adalah contoh cyber security yang tidak diterapkan dengan baik karena memicu terjadinya kebocoran data yang berbahaya. 

Umumnya, aspek yang paling rentan dalam dunia informasi adalah pada manusia sebagai pemilik dan pengolah data tersebut. Oleh karena itu, sudah semestinya perusahaan mengatur dan mengelola pihak-pihak tertentu yang boleh mengetahui informasi mengenai username dan password. Misalnya, berbagai situs atau aplikasi yang berkaitan dengan tim finance, sebaiknya hanya tim finance yang bertanggung jawab saja yang boleh mengetahui username dan password tersebut. 

  1. Tidak Memiliki Backup Data

Di era perkembangan digital ini, sangat mudah untuk bisnis melakukan backup data secara online maupun offline. Maka dari itu, perusahaan harus memiliki backup untuk berbagai data dan aset perusahaan agar bisa meminimalisir celah kejahatan. Tak cukup hanya memiliki backup data, perusahaan juga harus memiliki sosok yang bisa mengawasi dan memonitor data-data tersebut secara profesional dan optimal. 

  1. Tidak Melakukan Pengembangan

Umumnya, setiap perusahaan memiliki tim sistem informasi atau IT yang memiliki tanggung jawab untuk mengelola keamanan dan semua informasi dan data. Namun, jangan sampai tim IT perusahaan hanya fokus mengawasi, mengantisipasi, dan mengatasi permasalahan informasi dan data saja. 

Tapi, perusahaan juga harus melakukan pengembangan atau pembaruan untuk mengurangi celah kejahatan. Karena hacker jahat juga akan selalu berinovasi untuk membobol celah keamanan, oleh karena itu tim IT perusahaan juga harus lebih inovatif untuk menjaga keamanan perusahaan. 

  1. Informasi Sensitif Tidak Dijaga 

Saat ini, perusahaan sudah jarang yang menggunakan surat biasa untuk mengirim pesan, rata-rata perusahaan sudah mengoptimalkan penggunaan surat elektronik atau email. Tentunya kemudahan surat elektronik membawa dampak positif karena lebih efisien dan efektif, tapi masih sering terjadi cyber crime yang dipicu karena perusahaan mengirim berbagai informasi sensitif melalui email. 

Oleh karena itu, perusahaan harus lebih hati-hati saat mengirimkan informasi sensitif melalui pesan elektronik. Perusahaan harus jeli karena berbagai kejahatan cyber sering terjadi melalui email seperti ransomware, OTP fraud, identity theft, dan masih banyak lagi. 

  1. Kekurangan Pekerja yang Mumpuni

Karena cyber security masih terbilang bidang yang baru, masih banyak orang yang belum memahami dan minat dengan bidang ini. Bahkan, para pelaku bisnis masih sering kesulitan mencari talenta digital yang mumpuni di bidang cyber security (Sumber: KataData). Padahal, salah satu contoh cyber security yang tidak optimal adalah kurangnya pekerja yang mumpuni di perusahaan tersebut. 

Oleh karena itu, jika perusahaan sudah memiliki karyawan di bidang cyber security tapi masih sering kebobolan oleh hacker jahat, maka perusahaan alangkah baiknya memberikan pelatihan cyber security kepada karyawannya.  

BACA JUGA: Cyber Security Course: Rekomendasi Untuk Pemula

6 Contoh Cyber Security yang Optimal

6 Contoh Cyber Security yang Optimal
Contoh Cyber Security yang Optimal (Photo by freestocks on Unsplash)

Ada beberapa contoh cyber security yang penerapannya optimal untuk melindungi perusahaan dari ancaman-ancaman di internet, diantaranya: 

  1. Application Security

Salah satu contoh cyber security perusahaan yang sudah optimal adalah menerapkan application security yaitu praktik atau proses untuk meningkatkan dan memelihara sistem, aplikasi, hingga jaringan perusahaan agar mencegah hacker jahat yang ingin membajak, mencuri, atau mengeksploitasi data. 

Ada beberapa cara yang bisa dioptimalkan dalam application security, contoh yang paling mudah adalah menerapkan autentikasi untuk memastikan bahwa hanya pengguna resmi yang memiliki username dan password untuk bisa mengakses aplikasi atau situs tertentu. 

  1. Network Security

Contoh cyber security berikutnya adalah network security yaitu proses melindungi jaringan dan seluruh perangkat dari hacker yang ingin mencari celah keamanan. Contoh penerapan network security yang paling mudah adalah memanfaatkan VPN (Virtual Private Network), email security tools, hingga menggunakan sistem firewalls. 

  1. Information Security

Selanjutnya, contoh cyber security yang penerapannya optimal adalah menggunakan information security yaitu upaya pencegahan dari hacker yang ingin mengakses, menggunakan, memodifikasi, hingga menghancurkan berbagai informasi milik perusahaan. Contoh penerapannya adalah menggunakan cloud security, application security, hingga kriptografi. 

  1. Endpoint Security

Endpoint security adalah upaya melindungi perangkat yang digunakan karyawan untuk mengakses jaringan perusahaan, seperti laptop, komputer, atau smartphone. Ancaman sering datang dari perangkat pribadi yang tidak memiliki standar keamanan perusahaan. Penerapan optimal bisa dilakukan dengan memasang antivirus resmi, melakukan patch management , hingga menerapkan kebijakan device management agar semua perangkat yang terhubung ke jaringan perusahaan tetap aman.

  1. Data Loss Prevention (DLP)

DLP adalah strategi untuk mencegah kebocoran data penting perusahaan, baik karena kelalaian karyawan maupun serangan dari luar. Contoh penerapan optimal adalah penggunaan software DLP yang bisa mendeteksi dan memblokir upaya pengiriman data sensitif melalui email, aplikasi chat, atau perangkat eksternal (seperti USB). 

  1. Security Awareness Training

Teknologi canggih tidak ada gunanya kalau karyawan masih lengah. Maka, salah satu bentuk cyber security yang optimal adalah memberikan pelatihan keamanan siber secara berkala kepada seluruh karyawan. Contoh penerapannya seperti simulasi phishing test, workshop tentang penggunaan password yang kuat, hingga edukasi tentang cara mengidentifikasi email mencurigakan.

BACA JUGA: 3 Tantangan Cyber Security Indonesia

Kesimpulan

Cyber security bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan utama di era digital. Ancaman siber bisa datang dari berbagai sisi, mulai dari celah teknis seperti firewall yang lemah hingga faktor manusia seperti kelalaian dalam menjaga username dan password. Jika perusahaan tidak serius menerapkan strategi keamanan yang tepat, kerugian finansial, reputasi, hingga hilangnya kepercayaan pelanggan bisa menjadi konsekuensi yang sulit dipulihkan.

Di sisi lain, penerapan cyber security yang optimal seperti application security, network security, endpoint security, hingga pelatihan kesadaran keamanan bagi karyawan itu dapat memberikan perlindungan menyeluruh bagi bisnis. Dengan kombinasi teknologi, kebijakan, dan sumber daya manusia yang mumpuni, perusahaan mampu meminimalkan risiko serangan sekaligus membangun kepercayaan publik. Pada akhirnya, cyber security bukan hanya melindungi data, tetapi juga menjaga keberlangsungan bisnis di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Yuk, Belajar Menerapkan Cyber Security yang Optimal!

Menghadapi ancaman cyber security tidak cukup hanya dengan tahu teorinya saja, tapi juga perlu praktik langsung bersama mentor yang berpengalaman. Dengan mengikuti Mini Bootcamp Cyber Security Digital Skola, kamu akan belajar langsung dari praktisi yang akan membimbing langkah demi langkah, mulai dari dasar hingga praktik penetration testing nyata. Di pelatihan ini kamu akan diberikan kurikulum berdasarkan sertifikasi CompTIA yang merupakan sertifikasi terbaik bidang cyber security. Tak hanya itu, kamu juga akan dapat berbagai fasilitas seperti:

  1. Job connector
  2. 2 mini projects
  3. 1 final project Pwn the machine (custom room)
  4. Bug Bounty Report portfolio
  5. CompTIA PenTest+ certification
  6. Professional branding
  7. Cybersecurity Analyst sharing session
  8. Interactive review by tutor
  9. Learning performance report
  10. Certificate of completion
  11. Career coaching by HR Expert

Nantinya, setelah mengikuti kelas kamu akan memahami pengetahuan dan praktik penetration testing dalam cyber security, serta memahami langkah-langkah dan best practice menerapkan cyber security yang optimal.

FAQ 

1. Apa contoh cyber crime yang sering terjadi?

Phishing, ransomware, identity theft, skimming, carding, dan OTP fraud.

2. Bagaimana cara menjadi cyber security pemula?

Mulai dengan belajar dasar keamanan jaringan, ikut pelatihan atau bootcamp, praktik penetration testing, dan bangun portfolio.