HomepageBlogApa Itu Service Level Agreement (SLA)? Pengertian, Fungsi, Komponen, dan Contohnya
5 min read

Apa Itu Service Level Agreement (SLA)? Pengertian, Fungsi, Komponen, dan Contohnya

Tayang 31 Juli 2026 Diperbarui: 31 Juli 2026
Ditulis oleh:
digitalskola

Digital Skola Content Team

Share


Apa Itu Service Level Agreement

Rangkuman

  • Service Level Agreement (SLA) adalah perjanjian yang menetapkan standar kualitas layanan antara penyedia layanan dan pelanggan.
  • SLA berfungsi sebagai acuan untuk mengukur performa, memperjelas tanggung jawab, serta meminimalkan kesalahpahaman dalam pemberian layanan.
  • Dokumen SLA umumnya memuat ruang lingkup layanan, target layanan, waktu respons, tanggung jawab, hingga mekanisme evaluasi dan konsekuensi jika target tidak tercapai.
  • Terapkan prinsip Service Level Agreement (SLA) dalam pengelolaan campaign influencer bersama Kursus KOL Management AI-Driven di Digital Skola untuk menguasai strategi pengelolaan KOL yang lebih terstruktur, terukur, dan didukung praktik berbasis AI.

Apa itu Service Level Agreement (SLA) merupakan pertanyaan yang sering muncul, terutama bagi kamu yang bekerja atau ingin berkarier di bidang IT, customer service, project management, maupun bisnis. 

SLA berperan penting dalam memastikan kualitas layanan yang diberikan sesuai dengan kesepakatan antara penyedia layanan dan pelanggan. 

Lalu, apa itu Service Level Agreement (SLA), apa fungsinya, dan mengapa dokumen ini penting bagi perusahaan? Simak selengkapnya di bawah ini. 

Apa Itu Service Level Agreement (SLA)?

Service Level Agreement (SLA) adalah perjanjian atau dokumen resmi yang berisi kesepakatan antara penyedia layanan (service provider) dan pelanggan (client) mengenai standar layanan yang akan diberikan.

Melalui SLA, kedua belah pihak memiliki acuan yang jelas mengenai hak, kewajiban, serta kualitas layanan yang harus dipenuhi selama masa kerja sama.

Selain meningkatkan transparansi mengenai hak dan kewajiban masing-masing pihak, SLA juga menciptakan akuntabilitas karena penyedia layanan memiliki tanggung jawab untuk memenuhi target yang telah ditetapkan.

Di samping itu, pelanggan memiliki dasar yang jelas untuk menilai kualitas layanan dan menyelesaikan potensi permasalahan secara lebih terstruktur.

Baca Juga: Apa Itu Service Crew? Tugas, Skill, Gajinya, dan Prospek Kariernya

Apa Fungsi Service Level Agreement?

SLA menjadi pedoman untuk memastikan layanan berjalan sesuai standar yang telah disepakati sekaligus membantu kedua belah pihak mengevaluasi kualitas layanan secara objektif. 

Berikut beberapa fungsi utama Service Level Agreement yang perlu kamu ketahui.

1. Menentukan Standar Kualitas Layanan

Salah satu fungsi utama Service Level Agreement adalah menetapkan standar kualitas layanan yang harus dipenuhi oleh penyedia layanan. 

Standar tersebut dapat berupa waktu respons, waktu penyelesaian masalah, tingkat ketersediaan layanan (uptime), hingga indikator performa lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis. 

Dengan adanya standar yang jelas, pelanggan mengetahui layanan seperti apa yang akan diterima, sementara penyedia layanan memiliki target yang harus dipenuhi selama masa kerja sama.

2. Menjadi Acuan Pengukuran Performa

Service Level Agreement juga berfungsi sebagai dasar untuk mengukur performa layanan yang diberikan. 

Melalui metrik atau indikator yang telah disepakati, perusahaan dapat mengevaluasi apakah layanan telah memenuhi target yang ditetapkan atau masih memerlukan perbaikan. 

Pengukuran yang objektif ini membantu proses evaluasi menjadi lebih transparan karena didasarkan pada data dan hasil yang dapat diukur, bukan hanya berdasarkan persepsi masing-masing pihak.

3. Meminimalkan Konflik antara Penyedia dan Pelanggan

Perbedaan ekspektasi sering kali menjadi penyebab munculnya konflik dalam kerja sama bisnis. 

Dengan adanya Service Level Agreement, ruang lingkup layanan, target yang harus dicapai, serta tanggung jawab masing-masing pihak telah dijelaskan sejak awal. 

Hal ini dapat mengurangi risiko kesalahpahaman apabila terjadi kendala selama proses layanan berlangsung, karena kedua belah pihak memiliki acuan yang sama untuk menyelesaikan permasalahan.

4. Memberikan Kepastian Hak dan Kewajiban

Service Level Agreement memberikan kejelasan mengenai hak dan kewajiban penyedia layanan maupun pelanggan. 

Penyedia layanan memahami standar yang harus dipenuhi, sedangkan pelanggan mengetahui layanan apa saja yang menjadi haknya. 

Kepastian ini membantu membangun hubungan kerja yang lebih profesional, transparan, dan saling bertanggung jawab sehingga kerja sama dapat berjalan dengan lebih efektif.

5. Mendukung Peningkatan Kualitas Layanan

Selain menjadi alat pengendalian kualitas, Service Level Agreement juga dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan layanan secara berkelanjutan. 

Hasil evaluasi terhadap pencapaian SLA dapat membantu perusahaan mengidentifikasi area yang masih perlu ditingkatkan, baik dari sisi proses, sumber daya, maupun teknologi yang digunakan. 

Dengan melakukan evaluasi secara berkala, perusahaan dapat terus meningkatkan kualitas layanan agar tetap memenuhi kebutuhan pelanggan dan mampu bersaing di industri.

Apa Saja Komponen dalam Service Level Agreement?

Setiap komponen berperan dalam menjelaskan standar layanan, tanggung jawab masing-masing pihak, hingga mekanisme evaluasi apabila target tidak tercapai. 

Berikut komponen-komponen yang umumnya terdapat dalam Service Level Agreement.

1. Ruang Lingkup Layanan

Ruang lingkup layanan menjelaskan secara rinci jenis layanan yang akan diberikan oleh penyedia kepada pelanggan. 

Bagian ini mencakup batasan layanan, cakupan pekerjaan, serta aktivitas yang termasuk maupun tidak termasuk dalam perjanjian. 

Dengan ruang lingkup yang jelas, kedua belah pihak dapat memiliki pemahaman yang sama mengenai layanan yang diberikan sehingga risiko kesalahpahaman selama kerja sama dapat diminimalkan.

2. Target atau Indikator Layanan (SLA Metrics/KPI)

Komponen ini berisi target atau indikator yang digunakan untuk mengukur kualitas layanan. 

Beberapa metrik yang umum digunakan antara lain tingkat ketersediaan layanan (uptime), waktu respons (response time), waktu penyelesaian masalah (resolution time), hingga tingkat kepuasan pelanggan. 

Indikator yang terukur memudahkan perusahaan untuk mengevaluasi apakah penyedia layanan telah memenuhi standar yang telah disepakati.

3. Peran dan Tanggung Jawab Masing-masing Pihak

Service Level Agreement juga harus menjelaskan peran serta tanggung jawab penyedia layanan dan pelanggan. 

Penyedia layanan bertanggung jawab untuk memberikan layanan sesuai standar yang telah ditentukan, sedangkan pelanggan memiliki kewajiban, seperti memberikan informasi yang diperlukan atau mengikuti prosedur yang telah disepakati. 

Pembagian tanggung jawab yang jelas membantu menciptakan kerja sama yang lebih efektif dan menghindari kesalahpahaman.

4. Waktu Respons dan Waktu Penyelesaian

Komponen ini menjelaskan batas waktu yang harus dipenuhi oleh penyedia layanan dalam merespons maupun menyelesaikan suatu permintaan atau permasalahan. 

Misalnya, penyedia layanan harus memberikan respons awal dalam waktu satu jam dan menyelesaikan kendala dalam waktu maksimal 24 jam. 

Penetapan target waktu ini membantu pelanggan mengetahui ekspektasi layanan sekaligus menjadi tolok ukur dalam menilai performa penyedia layanan.

5. Mekanisme Pelaporan dan Evaluasi

Service Level Agreement umumnya juga memuat mekanisme pelaporan dan evaluasi untuk memantau pencapaian target layanan. 

Penyedia layanan biasanya diwajibkan menyampaikan laporan performa secara berkala yang berisi hasil pencapaian SLA, kendala yang dihadapi, serta langkah perbaikan yang dilakukan. 

Melalui evaluasi rutin, kedua belah pihak dapat meninjau efektivitas layanan dan melakukan penyesuaian jika diperlukan.

6. Konsekuensi jika SLA Tidak Terpenuhi

Komponen terakhir adalah penjelasan mengenai konsekuensi apabila penyedia layanan tidak berhasil memenuhi target yang telah disepakati. 

Konsekuensi tersebut dapat berupa kompensasi kepada pelanggan, pemberian service credit, perbaikan layanan tanpa biaya tambahan, atau ketentuan lain yang telah disepakati bersama. 

Adanya aturan ini mendorong penyedia layanan untuk menjaga kualitas layanan sekaligus memberikan perlindungan kepada pelanggan apabila terjadi pelanggaran terhadap SLA.

Apa Saja Jenis Service Level Agreement?

Apa Saja Jenis Service Level Agreement

Perbedaan jenis SLA umumnya terletak pada cakupan layanan, pihak yang terlibat, serta tingkat detail perjanjian yang dibuat. 

Berikut beberapa jenis Service Level Agreement yang paling umum digunakan.

1. Customer-based SLA

Customer-based SLA adalah perjanjian yang dibuat khusus untuk satu pelanggan tertentu. 

Dokumen ini mencakup seluruh layanan yang diberikan kepada pelanggan tersebut, meskipun terdiri dari beberapa jenis layanan yang berbeda. 

Jenis SLA ini biasanya digunakan ketika pelanggan memiliki kebutuhan yang spesifik sehingga standar layanan, target performa, maupun ketentuan lainnya disesuaikan secara khusus dengan kesepakatan antara kedua belah pihak.

2. Service-based SLA

Service-based SLA merupakan perjanjian yang berlaku untuk satu jenis layanan dan diterapkan kepada seluruh pelanggan yang menggunakan layanan tersebut. 

Artinya, setiap pelanggan akan menerima standar layanan yang sama, seperti waktu respons, tingkat ketersediaan layanan, maupun target penyelesaian masalah. 

Jenis SLA ini banyak digunakan oleh perusahaan yang menawarkan layanan dengan standar operasional yang seragam, seperti penyedia internet, cloud computing, atau layanan IT support.

3. Multi-level SLA

Multi-level SLA adalah perjanjian yang disusun dalam beberapa tingkatan untuk mengakomodasi kebutuhan layanan yang lebih kompleks. 

Umumnya, SLA ini dibagi menjadi tingkat perusahaan (corporate level), tingkat pelanggan (customer level), dan tingkat layanan (service level). 

Dengan pembagian tersebut, perusahaan dapat menetapkan kebijakan umum yang berlaku untuk seluruh pelanggan sekaligus menyesuaikan ketentuan tertentu berdasarkan kebutuhan masing-masing pelanggan atau layanan yang diberikan. 

Jenis SLA ini banyak diterapkan pada organisasi besar yang menangani berbagai layanan dan memiliki beragam jenis pelanggan.

Baca Juga: Apa Itu Customer Service? Pengertian, Tugas, dan Contohnya

Bagaimana Cara Kerja Service Level Agreement?

Proses penerapan SLA tidak berhenti pada penyusunan dokumen, tetapi juga melibatkan pemantauan dan evaluasi secara berkelanjutan agar kualitas layanan tetap terjaga. 

Berikut tahapan cara kerja Service Level Agreement.

1. Menentukan Kebutuhan Layanan

Langkah pertama yaitu mengidentifikasi kebutuhan layanan yang diharapkan oleh pelanggan. 

Pada tahap ini, penyedia layanan dan pelanggan akan berdiskusi untuk menentukan ruang lingkup layanan, tujuan kerja sama, serta ekspektasi yang ingin dicapai. 

Semakin jelas kebutuhan yang didefinisikan di awal, semakin mudah pula kedua belah pihak menyusun standar layanan yang sesuai.

2. Menyusun Indikator Keberhasilan

Setelah kebutuhan layanan ditentukan, langkah berikutnya adalah menetapkan indikator yang akan digunakan untuk mengukur keberhasilan layanan. Indikator ini harus bersifat spesifik, terukur, dan mudah dievaluasi. 

Beberapa metrik yang umum digunakan dalam SLA meliputi:

  • Response time: Waktu yang dibutuhkan untuk memberikan respons awal terhadap permintaan pelanggan.
  • Resolution time: Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah atau permintaan layanan.
  • Service availability (uptime): Persentase ketersediaan layanan dalam periode tertentu.
  • Customer satisfaction (CSAT): Tingkat kepuasan pelanggan terhadap layanan yang diberikan.

3. Menyepakati Target Layanan

Setelah indikator ditentukan, penyedia layanan dan pelanggan akan menyepakati target yang harus dicapai untuk setiap metrik. 

Misalnya, target waktu respons maksimal 30 menit, tingkat ketersediaan layanan sebesar 99,9%, atau penyelesaian keluhan dalam waktu 24 jam. 

Kesepakatan ini kemudian dituangkan ke dalam dokumen SLA sebagai acuan resmi selama kerja sama berlangsung.

4. Melakukan Monitoring Performa

Selama layanan berjalan, penyedia layanan akan melakukan monitoring untuk memastikan seluruh target SLA terpenuhi. 

Pemantauan biasanya dilakukan secara berkala menggunakan sistem monitoring atau laporan performa sehingga setiap pencapaian dapat dibandingkan dengan target yang telah disepakati. 

Jika ditemukan adanya penurunan performa atau target yang tidak tercapai, perusahaan dapat segera mengambil tindakan perbaikan sebelum berdampak pada pelanggan.

5. Evaluasi dan Perbaikan Berkala

Tahap terakhir adalah melakukan evaluasi secara berkala terhadap hasil implementasi Service Level Agreement. 

Evaluasi dilakukan untuk mengetahui apakah target layanan telah tercapai, mengidentifikasi kendala yang muncul, serta menentukan langkah perbaikan yang diperlukan. 

Apabila kebutuhan bisnis atau ekspektasi pelanggan berubah, isi SLA juga dapat diperbarui agar tetap relevan dan mampu mendukung peningkatan kualitas layanan secara berkelanjutan.

Contoh Service Level Agreement di Berbagai Industri

Service Level Agreement (SLA) dapat diterapkan di berbagai industri sesuai dengan jenis layanan yang diberikan. 

Berikut beberapa contoh penerapan Service Level Agreement di berbagai industri.

1. SLA pada Layanan IT Support

Pada layanan IT Support, SLA biasanya digunakan untuk mengatur kecepatan penanganan gangguan teknis maupun permintaan bantuan dari pengguna. 

Beberapa indikator yang umum dicantumkan dalam SLA antara lain:

  • Waktu respons awal: Maksimal 30 menit setelah tiket dibuat.
  • Waktu penyelesaian masalah: Maksimal 4–24 jam, tergantung tingkat prioritas.
  • Tingkat penyelesaian tiket: Misalnya, 95% tiket selesai sesuai target waktu.
  • Jam operasional layanan: Contohnya Senin–Jumat pukul 08.00–17.00 WIB.

Dengan adanya SLA, tim IT Support memiliki target layanan yang jelas, sementara pengguna mengetahui estimasi waktu penanganan setiap kendala.

2. SLA pada Layanan Customer Service

Pada layanan Customer Service, SLA berfokus pada kualitas komunikasi dan kecepatan dalam melayani pelanggan. Beberapa contoh indikator yang sering digunakan meliputi:

  • Waktu respons chat atau email: Maksimal 10–30 menit.
  • Persentase panggilan yang terjawab: Misalnya minimal 90%.
  • Waktu penyelesaian keluhan pelanggan: Maksimal 2 × 24 jam.
  • Target kepuasan pelanggan (Customer Satisfaction/CSAT): Misalnya minimal 85%.

SLA membantu perusahaan menjaga konsistensi pelayanan sekaligus meningkatkan pengalaman pelanggan.

3. SLA pada Cloud Computing

Dalam layanan Cloud Computing, SLA umumnya mengatur tingkat ketersediaan layanan dan keandalan infrastruktur yang disediakan. Beberapa metrik yang sering digunakan antara lain:

  • Service availability (uptime): Misalnya 99,9% atau 99,99%.
  • Waktu pemulihan layanan (Recovery Time Objective/RTO).
  • Keamanan dan perlindungan data sesuai standar yang berlaku.
  • Waktu respons tim support apabila terjadi gangguan sistem.

Penerapan SLA pada layanan cloud memberikan jaminan kepada pelanggan bahwa sistem dapat digunakan dengan tingkat keandalan yang telah disepakati.

4. SLA pada Digital Marketing Agency

Bagi Digital Marketing Agency, SLA digunakan untuk mengatur target layanan yang diberikan kepada klien selama periode kerja sama. Isi SLA dapat mencakup:

  • Jadwal pengiriman konten sesuai kalender editorial.
  • Waktu revisi desain atau materi promosi.
  • Frekuensi pelaporan performa kampanye, misalnya mingguan atau bulanan.
  • Waktu respons terhadap permintaan klien.

Dengan SLA, baik agency maupun klien memiliki ekspektasi yang jelas mengenai proses kerja, waktu penyelesaian, dan hasil layanan yang akan diterima.

5. SLA pada Logistik dan Pengiriman

Pada industri logistik dan pengiriman, SLA berperan dalam memastikan proses distribusi barang berjalan sesuai target. Beberapa indikator yang umum digunakan antara lain:

  • Estimasi waktu pengiriman sesuai wilayah tujuan.
  • Persentase pengiriman tepat waktu (On-Time Delivery/OTD).
  • Waktu penanganan komplain pelanggan.
  • Prosedur penggantian apabila barang hilang atau rusak.

Melalui SLA, perusahaan logistik dapat menjaga kualitas layanan, sementara pelanggan memperoleh kepastian mengenai proses pengiriman serta penyelesaian apabila terjadi kendala.

Bagaimana Cara Membuat Service Level Agreement?

Menyusun Service Level Agreement (SLA) membutuhkan perencanaan yang matang agar dokumen yang dihasilkan benar-benar dapat menjadi acuan dalam pelaksanaan layanan.

Berikut langkah-langkah membuat Service Level Agreement yang dapat diterapkan oleh perusahaan.

1. Tentukan Layanan yang Diberikan

Pertama, tentukan secara jelas layanan yang akan diberikan kepada pelanggan. 

Ruang lingkup layanan harus dijelaskan secara rinci, termasuk jenis layanan, batasan pekerjaan, serta hasil yang diharapkan. 

Penjelasan yang detail akan membantu menghindari perbedaan persepsi antara penyedia layanan dan pelanggan selama kerja sama berlangsung.

2. Identifikasi Kebutuhan Pelanggan

Setelah menentukan layanan, pahami kebutuhan dan ekspektasi pelanggan terhadap layanan tersebut. 

Setiap pelanggan dapat memiliki prioritas yang berbeda, seperti kecepatan respons, tingkat ketersediaan layanan, atau kualitas hasil pekerjaan. 

Dengan mengidentifikasi kebutuhan sejak awal, perusahaan dapat menyusun SLA yang lebih relevan dan mampu memenuhi harapan pelanggan.

3. Tentukan Metrik yang Dapat Diukur

Service Level Agreement harus memiliki indikator performa yang jelas dan dapat diukur secara objektif. 

Metrik yang digunakan dapat berupa waktu respons, waktu penyelesaian, tingkat ketersediaan layanan, atau indikator lain yang sesuai dengan jenis layanan. 

Penggunaan metrik yang terukur akan memudahkan perusahaan dalam melakukan monitoring sekaligus mengevaluasi pencapaian target layanan.

4. Susun Target Layanan yang Realistis

Setelah metrik ditentukan, langkah berikutnya menetapkan target layanan yang realistis dan dapat dicapai. 

Target sebaiknya disusun berdasarkan kapasitas sumber daya, proses operasional, serta kebutuhan pelanggan. 

Menetapkan target yang terlalu tinggi dapat menyulitkan penyedia layanan untuk memenuhinya, sedangkan target yang terlalu rendah berisiko menurunkan kualitas layanan yang diterima pelanggan.

5. Dokumentasikan dan Sepakati Bersama

Seluruh ketentuan yang telah disusun perlu dituangkan ke dalam dokumen Service Level Agreement secara jelas dan mudah dipahami. 

Dokumen tersebut harus memuat ruang lingkup layanan, indikator performa, target layanan, hak dan kewajiban masing-masing pihak, serta mekanisme evaluasi apabila terjadi pelanggaran terhadap SLA. 

Setelah selesai disusun, dokumen perlu disepakati oleh penyedia layanan dan pelanggan sebelum kerja sama dimulai.

6. Lakukan Review Secara Berkala

Service Level Agreement bukanlah dokumen yang bersifat tetap, melainkan perlu ditinjau secara berkala agar tetap sesuai dengan kebutuhan bisnis dan perkembangan layanan. 

Melalui proses review, perusahaan dapat mengevaluasi efektivitas SLA, memperbarui target jika diperlukan, serta menyesuaikan isi perjanjian apabila terdapat perubahan kebutuhan pelanggan maupun proses operasional. 

Dengan begitu, SLA akan tetap relevan dan mampu mendukung peningkatan kualitas layanan secara berkelanjutan.

Apa Tantangan dalam Menerapkan Service Level Agreement?

Apa Tantangan dalam Menerapkan Service Level Agreement

Meskipun Service Level Agreement (SLA) dapat membantu meningkatkan kualitas layanan dan memperjelas tanggung jawab masing-masing pihak, penerapannya tidak selalu berjalan mulus. 

Berikut beberapa tantangan yang umum ditemui dalam penerapan Service Level Agreement.

1. Target yang Tidak Realistis

Salah satu tantangan terbesar dalam penerapan Service Level Agreement adalah menetapkan target layanan yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. 

Target yang tidak realistis dapat membuat penyedia layanan kesulitan memenuhi komitmen yang telah disepakati, sementara target yang terlalu rendah justru tidak mampu mendorong peningkatan kualitas layanan. 

Oleh karena itu, target SLA sebaiknya disusun berdasarkan kapasitas operasional, sumber daya yang tersedia, serta kebutuhan pelanggan agar tetap dapat dicapai secara konsisten.

2. Kurangnya Komunikasi

Komunikasi yang kurang efektif antara penyedia layanan dan pelanggan dapat menyebabkan perbedaan persepsi mengenai ruang lingkup layanan maupun target yang harus dicapai. 

Kondisi ini berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, keterlambatan penyelesaian pekerjaan, hingga konflik selama kerja sama berlangsung. 

Untuk menghindarinya, kedua belah pihak perlu menjaga komunikasi yang terbuka dan rutin melakukan koordinasi, terutama ketika terdapat perubahan kebutuhan atau kendala dalam pelaksanaan layanan.

3. Sulit Mengukur Performa

Tantangan lain yang sering dihadapi adalah menentukan indikator performa yang benar-benar dapat diukur secara objektif. 

Tidak semua jenis layanan memiliki metrik yang mudah dinilai, terutama layanan yang hasilnya bersifat kualitatif. 

Jika indikator yang digunakan kurang jelas atau sulit diukur, proses evaluasi menjadi kurang akurat dan berpotensi menimbulkan perbedaan penilaian antara penyedia layanan dan pelanggan. 

Oleh karena itu, perusahaan perlu menetapkan metrik yang spesifik, terukur, dan relevan dengan layanan yang diberikan.

4. Perubahan Kebutuhan Bisnis

Kebutuhan bisnis dan ekspektasi pelanggan dapat berubah seiring perkembangan perusahaan, teknologi, maupun kondisi pasar. 

Perubahan tersebut dapat membuat isi Service Level Agreement yang telah disusun sebelumnya menjadi kurang relevan. 

Jika SLA tidak diperbarui, standar layanan yang diterapkan mungkin sudah tidak sesuai dengan kebutuhan saat ini. 

Karena itu, perusahaan perlu melakukan peninjauan dan pembaruan SLA secara berkala agar dokumen tersebut tetap mampu mendukung kualitas layanan dan tujuan bisnis yang terus berkembang.

Baca Juga: 11+ Pertanyaan Interview Customer Service dan Strategi Menjawabnya agar Lolos

Kesimpulan

Service Level Agreement (SLA) adalah dokumen penting yang membantu menetapkan standar layanan secara jelas antara penyedia layanan dan pelanggan. 

Selain menjadi acuan dalam mengukur dan mengevaluasi performa layanan, SLA juga berperan dalam mengurangi potensi konflik melalui pembagian hak, kewajiban, dan target yang telah disepakati bersama. 

Oleh karena itu, penerapan Service Level Agreement menjadi hal yang penting bagi berbagai industri untuk menjaga kualitas layanan, meningkatkan transparansi, serta membangun hubungan kerja yang lebih profesional.

Terapkan Prinsip SLA dengan AI dalam Pengelolaan Campaign Influencer dengan di Digital Skola

Melalui Kursus KOL Management AI-Driven di Digital Skola, kamu akan mempelajari:

  • Menyusun strategi pengelolaan KOL yang terstruktur dari awal hingga akhir campaign.
  • Memilih KOL yang sesuai dengan target audiens dan tujuan campaign.
  • Mengelola timeline, komunikasi, dan deliverables agar campaign berjalan sesuai target.
  • Memanfaatkan AI untuk mengoptimalkan proses perencanaan, eksekusi, dan evaluasi campaign.
  • Membuat reporting berbasis data untuk mengukur performa campaign secara lebih akurat.

Daftar sekarang di Kursus KOL Management AI-Driven Digital Skola dan kuasai strategi pengelolaan KOL berbasis AI untuk menjalankan campaign yang lebih terukur, profesional, dan efektif.

FAQ

1. Apakah Service Level Agreement (SLA) memiliki kekuatan hukum?

Ya, Service Level Agreement dapat memiliki kekuatan hukum apabila menjadi bagian dari kontrak atau perjanjian yang disepakati dan ditandatangani oleh kedua belah pihak. Oleh karena itu, isi SLA harus disusun secara jelas agar dapat menjadi acuan apabila terjadi perselisihan.

2. Apakah bisnis skala kecil juga memerlukan Service Level Agreement (SLA)?

Ya. Meskipun sering digunakan oleh perusahaan besar, bisnis skala kecil juga dapat memanfaatkan SLA untuk memperjelas ruang lingkup layanan, target pekerjaan, dan tanggung jawab masing-masing pihak sehingga kerja sama dengan klien menjadi lebih profesional.

3. Seberapa sering Service Level Agreement (SLA) perlu diperbarui?

Tidak ada aturan baku mengenai frekuensi pembaruan SLA. Namun, perusahaan sebaiknya meninjau kembali SLA secara berkala atau ketika terjadi perubahan layanan, kebutuhan pelanggan, teknologi, maupun proses bisnis agar isi perjanjian tetap relevan.

4. Apakah Service Level Agreement (SLA) hanya berlaku untuk kerja sama dengan pihak eksternal?

Tidak. Selain digunakan dalam kerja sama dengan pelanggan atau vendor, SLA juga dapat diterapkan secara internal, misalnya antara divisi IT dengan divisi lain di dalam perusahaan untuk menetapkan standar layanan dan waktu penyelesaian permintaan.

5. Apa yang terjadi jika target dalam Service Level Agreement (SLA) tidak tercapai?

Konsekuensinya bergantung pada kesepakatan yang tercantum dalam SLA. Beberapa bentuk konsekuensi yang umum diterapkan antara lain pemberian kompensasi, service credit, perbaikan layanan tanpa biaya tambahan, atau evaluasi ulang terhadap proses kerja agar target layanan dapat tercapai di masa mendatang.