
Rangkuman
- DevOps Engineer memiliki cakupan skill yang luas, mulai dari Linux dan jaringan hingga CI/CD, container, otomatisasi, dan cloud. Karena itu, memilih bootcamp perlu melihat bagaimana kemampuan tersebut dipelajari secara bertahap.
- Dalam perbandingan Bootcamp DevOps Engineer Digital Skola vs bootcamp lain, Digital Skola menawarkan pembelajaran end-to-end dengan 16 project untuk portofolio dan 1 end-to-end final project yang membantu peserta menerapkan skill DevOps melalui berbagai studi kasus.
- Proses belajar juga dilengkapi praktik menggunakan tools seperti Docker, Kubernetes, GitLab, Jenkins, dan GCP, serta weekly mentoring dan unlimited tutor consultation selama pembelajaran.
- Bagi yang ingin mempersiapkan karier, Digital Skola menyediakan konsultasi karier, professional branding, dan job connector sebagai pendukung setelah membangun skill dan portofolio.
- Pada akhirnya, pilih bootcamp yang sesuai dengan tujuan, kemampuan awal, dan waktu belajarmu. Bukan hanya apa yang dipelajari, tetapi juga seberapa banyak kesempatan untuk praktik dan membangun pengalaman yang bisa digunakan setelah program selesai.
- Siap upgrade skill DevOps dari dasar hingga tingkat lanjut? Daftar Bootcamp DevOps Engineer Digital Skola dan mulai bangun skill serta portofoliomu untuk langkah karier berikutnya!
Pernah bertanya-tanya bagaimana sebuah aplikasi bisa dikembangkan, diuji, hingga dirilis dengan cepat tanpa membuat proses kerja tim menjadi berantakan? Di balik proses tersebut, ada peran DevOps Engineer yang membantu menghubungkan proses pengembangan software dengan operasional agar pekerjaan dapat berjalan lebih efisien dan stabil.
Kebutuhan terhadap praktik cloud native dan DevOps juga terus berkembang. Berdasarkan laporan CNCF dan SlashData, 88% backend developer pada 2026 bekerja dalam lingkungan dengan praktik DevOps atau platform yang sudah terstandar.
Karena perannya berkaitan dengan banyak proses dan teknologi, belajar DevOps tidak cukup hanya memahami satu tools. Kalau kamu sedang mencari Perbandingan Bootcamp DevOps Engineer Digital Skola VS Bootcamp Lain, penting untuk melihat lebih jauh apa yang dipelajari, bagaimana proses praktiknya, serta dukungan yang diberikan selama dan setelah pembelajaran. Dengan begitu, kamu bisa memilih program yang paling sesuai dengan tujuan belajar dan rencana kariermu.

BACA JUGA: 6 Siklus Hidup DevOps dan Praktik Baiknya
Apa Saja Tugas Utama DevOps Engineer?

DevOps Engineer berperan membantu tim pengembangan dan operasional bekerja lebih terhubung, terutama dalam proses membangun, menguji, merilis, dan menjaga aplikasi agar tetap berjalan dengan baik. Karena itu, pekerjaannya tidak hanya berkaitan dengan deployment atau pengelolaan server.
Beberapa tugas utama DevOps Engineer antara lain:
1. Mengelola Infrastruktur dan Lingkungan Kerja
DevOps Engineer membantu menyiapkan dan mengelola infrastruktur yang dibutuhkan agar aplikasi dapat berjalan. Ini dapat mencakup server, jaringan, penyimpanan, hingga infrastruktur berbasis cloud.
2. Membuat dan Mengelola CI/CD
CI/CD atau Continuous Integration dan Continuous Delivery membantu proses pengembangan, pengujian, dan perilisan software dilakukan secara lebih otomatis. DevOps Engineer bertugas membangun serta menjaga alur tersebut agar proses deployment dapat berjalan lebih konsisten.
3. Melakukan Otomatisasi
Banyak pekerjaan DevOps dilakukan dengan otomatisasi, mulai dari konfigurasi infrastruktur, pengujian, hingga deployment. Tujuannya bukan hanya menghemat waktu, tetapi juga mengurangi pekerjaan manual dan risiko kesalahan yang berulang.
4. Memantau Performa Aplikasi
Setelah aplikasi dirilis, DevOps Engineer tetap perlu memastikan sistem berjalan dengan baik. Karena itu, monitoring digunakan untuk memantau performa, mendeteksi masalah, dan membantu tim merespons gangguan dengan lebih cepat.
5. Menjaga Keamanan dan Keandalan Sistem
Keamanan juga menjadi bagian dari proses DevOps. DevOps Engineer dapat membantu mengatur akses, menjaga konfigurasi sistem, serta menerapkan praktik yang membantu aplikasi dan infrastrukturnya tetap aman dan andal.
6. Berkolaborasi dengan Tim Lain
DevOps pada dasarnya membutuhkan kolaborasi. DevOps Engineer dapat bekerja bersama developer, QA, tim keamanan, maupun tim infrastruktur untuk memastikan proses pengembangan hingga pengoperasian software berjalan lebih lancar.
Jadi, tugas DevOps Engineer cukup luas dan saling berkaitan. Mulai dari infrastruktur, otomatisasi, CI/CD, hingga monitoring, semuanya bertujuan membantu tim menghadirkan software dengan proses yang lebih cepat, stabil, dan terukur.
BACA JUGA: DevOps Engineer Adalah: Penjelasan Lengkap untuk Pemula
Apa Saja Skill yang Dibutuhkan untuk Menjadi DevOps Engineer?

Melihat tugasnya yang cukup beragam, DevOps Engineer membutuhkan kombinasi skill teknis dan kemampuan untuk bekerja lintas tim. Kamu tidak harus menguasai semuanya sekaligus, tetapi memahami fondasi dan membangunnya secara bertahap akan membantu saat mempelajari DevOps lebih lanjut.
1. Linux dan Sistem Operasi
Linux banyak digunakan dalam lingkungan server dan cloud. Karena itu, pemahaman tentang sistem operasi, command line, pengelolaan file, hingga konfigurasi sistem menjadi salah satu fondasi penting bagi DevOps Engineer.
2. Version Control
DevOps Engineer perlu memahami cara mengelola perubahan pada kode dan konfigurasi. Version control seperti Git membantu tim menyimpan riwayat perubahan, bekerja bersama, dan mengembalikan versi sebelumnya ketika terjadi masalah.
3. Containerization
Container membantu aplikasi berjalan secara lebih konsisten di berbagai lingkungan. Teknologi seperti Docker banyak digunakan untuk mengemas aplikasi beserta kebutuhan pendukungnya sehingga lebih mudah dipindahkan dan dijalankan.
4. CI/CD
Pemahaman tentang Continuous Integration dan Continuous Delivery penting untuk membangun proses pengembangan dan deployment yang lebih otomatis. Dengan CI/CD, perubahan yang dibuat dapat melalui proses pengujian dan penerapan secara lebih terstruktur.
5. Cloud Computing dan Infrastruktur
DevOps juga berkaitan erat dengan pengelolaan infrastruktur. Karena itu, dasar cloud computing, jaringan, server, penyimpanan, dan keamanan akan membantu kamu memahami bagaimana aplikasi dijalankan dalam lingkungan produksi.
6. Otomatisasi dan Infrastructure as Code
DevOps berusaha mengurangi pekerjaan manual yang berulang. Karena itu, kemampuan menggunakan skrip dan Infrastructure as Code membantu mengatur serta menyediakan infrastruktur secara lebih konsisten dan mudah dikelola.
7. Monitoring dan Pemecahan Masalah
Sistem yang sudah berjalan tetap perlu dipantau. DevOps Engineer perlu memahami cara membaca log, memantau performa, menemukan sumber masalah, dan mengambil tindakan ketika terjadi gangguan.
8. Komunikasi dan Kolaborasi
DevOps bukan pekerjaan yang dilakukan sendirian. Kamu akan banyak berinteraksi dengan developer, QA, tim keamanan, dan tim infrastruktur. Kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama menjadi bagian penting agar proses pengembangan hingga deployment berjalan lancar.
Singkatnya, skill DevOps membentuk satu rangkaian yang saling terhubung. Mulai dari memahami sistem dan kode, mengelola infrastruktur, melakukan otomatisasi, hingga memantau aplikasi setelah dirilis. Karena itu, bootcamp yang memiliki alur belajar terstruktur dapat membantu proses mempelajari DevOps secara lebih bertahap.
BACA JUGA: Cloud Engineer vs DevOps Engineer: Apa Perbedaannya?
5 Hal yang Perlu Kamu Cek Sebelum Memilih Bootcamp DevOps Engineer

Sudah tahu tugas dan skill yang dibutuhkan seorang DevOps Engineer? Langkah berikutnya adalah memastikan program belajar yang kamu pilih memang sesuai dengan kebutuhanmu. Daripada hanya melihat judul program atau harga, coba ajukan beberapa pertanyaan berikut sebelum mendaftar.
1. Apakah program dimulai dari dasar?
DevOps mencakup banyak hal yang saling berkaitan. Kalau kamu masih pemula, pastikan program menjelaskan fondasi seperti Linux, jaringan, dan version control sebelum masuk ke materi yang lebih kompleks.
2. Seberapa banyak waktu yang digunakan untuk praktik?
Memahami konsep DevOps akan lebih mudah ketika langsung diterapkan. Cek apakah kamu akan mendapatkan kesempatan untuk mencoba tools, mengatur lingkungan kerja, melakukan deployment, atau membangun alur CI/CD, bukan hanya mengikuti penjelasan teori.
3. Apakah ada project yang bisa dimasukkan ke portofolio?
Project dapat menjadi bukti bahwa kamu pernah menerapkan skill yang dipelajari. Karena itu, cari tahu bentuk dan jumlah project yang akan dikerjakan serta apakah project tersebut cukup relevan untuk ditunjukkan kepada recruiter.
4. Bagaimana pendampingan selama proses belajar?
DevOps memiliki banyak materi teknis yang mungkin menimbulkan kendala saat dipraktikkan. Adanya tutor, mentoring, atau sesi konsultasi dapat membantu ketika kamu mengalami kesulitan memahami materi atau menyelesaikan project.
5. Apa yang didapat setelah program selesai?
Jangan hanya melihat apa yang didapat selama kelas. Perhatikan juga hasil akhirnya, seperti sertifikasi, portfolio, kemampuan yang dibangun, maupun dukungan karier yang tersedia. Dengan begitu, kamu bisa menilai apakah program tersebut sesuai dengan tujuan belajarmu.
BACA JUGA: Apa Itu Kubernetes? Fungsi, Komponen, dan Perannya di DevOps
Bagaimana Perbandingan Bootcamp DevOps Engineer Digital Skola dengan Bootcamp Lain?

Setiap bootcamp DevOps Engineer memiliki pendekatan belajar yang berbeda. Ada program yang menitikberatkan pada fundamental dan penggunaan tools, sementara program lainnya memberikan ruang lebih luas untuk praktik, project, dan penerapan DevOps secara menyeluruh.
Berikut perbandingan beberapa aspek yang bisa membantu kamu melihat value dari masing-masing program.
1. Kurikulum
DevOps memiliki learning path yang cukup panjang, sehingga penting untuk melihat apakah materi disusun secara bertahap atau hanya berfokus pada teknologi tertentu.
Digital Skola menawarkan pembelajaran end-to-end, mulai dari Linux dan Networking Fundamentals hingga CI/CD, containerization, dan cloud deployment. Alurnya membantu peserta memahami fondasi terlebih dahulu sebelum masuk ke proses otomatisasi dan penerapan aplikasi.
Sementara itu, bootcamp lain umumnya berfokus pada fundamental DevOps dan implementasi tools sesuai kurikulum masing-masing. Pendekatannya tentu tetap dapat membantu peserta membangun dasar DevOps, terutama jika ingin mempelajari konsep dan teknologi tertentu.
2. Portfolio Project
Dalam belajar DevOps, project dapat menjadi cara untuk menerapkan konsep yang sudah dipelajari sekaligus membangun bukti pengalaman.
Digital Skola menyediakan 16 project untuk portfolio serta 1 end-to-end final project yang berfokus pada implementasi DevOps pipeline. Peserta mendapatkan kesempatan untuk mengerjakan project secara bertahap sekaligus melihat bagaimana berbagai komponen DevOps saling terhubung.
Pada bootcamp lain, jumlah project dapat berbeda, misalnya berupa satu portfolio atau mini project. Jadi, selain jumlahnya, kamu juga bisa melihat seberapa dekat project tersebut dengan alur kerja DevOps yang ingin kamu pelajari.
3. Praktik DevOps yang Mendekati Kebutuhan Industri
DevOps tidak hanya soal mengetahui nama tools, tetapi juga memahami bagaimana teknologi tersebut digunakan dalam sebuah alur kerja.
Di Digital Skola, peserta mendapatkan praktik langsung melalui otomatisasi alur kerja seperti CI/CD pipeline, Docker, Kubernetes, serta deployment aplikasi pada lingkungan cloud. Dengan praktik ini, peserta dapat melihat bagaimana proses pengembangan hingga penerapan aplikasi dapat dibuat lebih terstruktur dan otomatis.
Sementara itu, bentuk praktik pada bootcamp lain dapat berbeda sesuai pendekatan programnya. Ada yang menyesuaikan latihan dengan tools tertentu atau project yang menjadi fokus pembelajaran.
4. Fondasi Infrastruktur dan Otomatisasi
Sebelum mendalami DevOps, fondasi sistem dan infrastruktur tetap penting. Pemahaman tersebut membantu kamu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi ketika aplikasi dijalankan, diuji, dan diterapkan.
Digital Skola menggunakan pendekatan hands-on learning untuk membangun fondasi Linux, jaringan, shell scripting, Docker, Kubernetes, serta pengenalan Infrastructure as Code. Infrastructure as Code adalah pendekatan untuk mengelola dan menyediakan infrastruktur menggunakan konfigurasi atau kode, sehingga prosesnya dapat dilakukan secara lebih konsisten.
Sementara itu, kedalaman materi infrastruktur dan otomatisasi pada bootcamp lain dapat berbeda sesuai kurikulumnya. Karena itu, bagian ini bisa menjadi pertimbangan jika kamu ingin membangun fondasi teknis DevOps secara lebih luas.
5. Konsultasi
Materi DevOps cukup teknis, sehingga wajar jika kamu menemukan kendala ketika mencoba sendiri. Akses ke tutor bisa membantu proses belajar menjadi lebih terarah.
Digital Skola menyediakan weekly mentoring dan unlimited tutor consultation. Peserta dapat mengikuti pendampingan secara berkala sekaligus berkonsultasi ketika mengalami kesulitan selama belajar atau mengerjakan project.
Sementara itu, mekanisme konsultasi di bootcamp lain dapat berbeda, termasuk jumlah dan waktu sesinya.
6. Dukungan Karier
Setelah memiliki skill teknis dan portfolio, kamu tentu perlu mempersiapkan diri untuk tahap berikutnya, yaitu mencari peluang kerja.
Digital Skola menyediakan unlimited career consultation, job connector, dan professional branding untuk membantu peserta mempersiapkan langkah menuju dunia kerja.
Pada bootcamp lain, cakupan career support dapat berbeda-beda. Jadi, jika tujuanmu mengikuti program adalah membangun karier di bidang DevOps, ada baiknya melihat juga dukungan yang tersedia setelah proses pembelajaran.
7. Harga
Harga menjadi salah satu pertimbangan, tetapi sebaiknya dibandingkan bersama fasilitas yang didapatkan. Dengan begitu, kamu bisa melihat apakah biaya yang dikeluarkan sebanding dengan pengalaman belajar yang ditawarkan.
Bootcamp DevOps Engineer Digital Skola berada di kisaran Rp2–5 juta, tergantung program dan fasilitas yang tersedia. Sementara itu, harga bootcamp lain dapat berada di kisaran Rp5–20 juta, dengan variasi sesuai durasi, fasilitas, dan program masing-masing.
BACA JUGA: Review Digital Skola: Dari Belajar DevOps hingga Sukses Berkarier di Pertamina Hulu Energi
Siapa yang Cocok Mengikuti Bootcamp DevOps Engineer?

DevOps bukan hanya untuk orang yang sudah lama bekerja di bidang teknologi. Dengan learning path yang tepat, bidang ini juga bisa dipelajari oleh orang yang ingin membangun kemampuan teknis baru atau memperluas pengalaman di bidang infrastruktur dan pengembangan software.
1. Pemula yang ingin mengenal dunia DevOps
Kalau kamu baru mulai mengenal DevOps, bootcamp dapat membantu mempelajari fondasinya secara lebih terstruktur. Kamu bisa memahami Linux, jaringan, version control, hingga otomatisasi secara bertahap.
2. Fresh graduate yang ingin menambah skill teknis
Bagi fresh graduate, kemampuan DevOps dapat menjadi tambahan skill untuk memperluas pilihan karier di bidang teknologi. Project yang dikerjakan selama belajar juga bisa digunakan untuk membangun portfolio.
3. Software Engineer yang ingin memahami proses deployment
Kalau kamu sudah bekerja sebagai Software Engineer, mempelajari DevOps dapat membantu memahami apa yang terjadi setelah kode selesai dibuat, mulai dari pengujian, deployment, hingga pengelolaan aplikasi setelah dirilis.
4. System Administrator yang ingin berkembang
Pengalaman mengelola server dan sistem dapat menjadi fondasi yang relevan untuk mempelajari DevOps. Selanjutnya, kamu bisa memperluas kemampuan ke otomatisasi, CI/CD, container, dan cloud.
5. Career switcher yang ingin masuk bidang teknologi
DevOps juga bisa menjadi salah satu pilihan bagi kamu yang ingin berpindah karier. Namun, karena materinya cukup teknis, penting untuk siap belajar secara bertahap dan menyediakan waktu untuk banyak praktik.
Pada akhirnya, siapa pun bisa mulai belajar DevOps selama memiliki kemauan untuk memahami konsep teknis dan berlatih secara konsisten. Yang penting, pilih program yang sesuai dengan kemampuan awal, tujuan belajar, dan waktu yang kamu miliki.
BACA JUGA: Bootcamp Online vs Offline: Mana yang Lebih Efektif untuk Belajar?
Kesimpulan
DevOps Engineer memiliki cakupan skill yang saling berkaitan, mulai dari Linux, jaringan, otomatisasi, CI/CD, container, hingga cloud deployment. Karena itu, memilih bootcamp sebaiknya tidak hanya melihat tools yang diajarkan, tetapi juga bagaimana program tersebut membangun kemampuan dari dasar hingga penerapan.
Setiap bootcamp memiliki pendekatan masing-masing. Jadi, bandingkan kurikulum, pengalaman praktik, jumlah project, pendampingan, dukungan karier, serta biaya untuk menemukan program yang paling sesuai dengan kebutuhan dan target kariermu.
BACA JUGA: Bootcamp Data Science Bersertifikasi BNSP dan Internasional di Digital Skola

Kuasai DevOps dari Dasar hingga Advanced Bersama Digital Skola!
Siapkan diri menjadi DevOps Engineer profesional melalui 32 sesi kelas dengan kurikulum yang terstruktur dari dasar hingga tingkat lanjut. Belajar langsung bersama tutor berpengalaman dan praktik menggunakan tools yang banyak digunakan di dunia kerja, seperti GitLab, Kubernetes, Docker, Jenkins, dan GCP.
Apa yang akan kamu dapatkan?
- 32 sesi pembelajaran intensif dengan materi yang disusun secara bertahap.
- 16 portofolio profesional untuk menunjukkan kemampuanmu kepada recruiter.
- Konsultasi CV dan persiapan karier untuk membantumu menghadapi proses rekrutmen.
- Akses job connector untuk membuka peluang karier yang relevan.
- Pelatihan soft skill seperti growth mindset, time management, dan design thinking untuk mendukung perkembangan karier jangka panjang.
Siap upgrade skill dan membangun portfolio DevOps? Daftar Bootcamp DevOps Engineer Digital Skola sekarang!
FAQ
1. Apakah Bootcamp DevOps Engineer cocok untuk pemula?
Cocok. Di Digital Skola, pembelajaran dimulai dari dasar hingga materi tingkat lanjut sehingga peserta bisa mengikuti proses belajar secara bertahap.
2. Apa saja yang dipelajari di Bootcamp DevOps Engineer Digital Skola?
Digital Skola membahas skill DevOps dari dasar hingga tingkat lanjut, termasuk Linux, jaringan, Docker, Kubernetes, GitLab, Jenkins, GCP, CI/CD, dan cloud deployment.
3. Berapa lama Bootcamp DevOps Engineer Digital Skola?
Program DevOps Engineer Digital Skola terdiri dari 32 sesi kelas dengan kurikulum yang disusun dari tingkat dasar hingga tingkat lanjut.