HomepageBlogApa Itu UX Writing? Panduan, Contoh & Tips untuk Pemula
5 min read

Apa Itu UX Writing? Panduan, Contoh & Tips untuk Pemula

Tayang 11 September 2022 Diperbarui: 11 September 2022
Ditulis oleh:
digitalskola

Digital Skola Content Team

Share


Apa Itu UX Writing?
Apa Itu UX Writing? (Photo by Ilya Pavlov on Unsplash)

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia penulisan atau digital writing berkembang semakin luas. Jika dulu banyak orang hanya mengenal copywriting atau content writing, kini ada berbagai spesialisasi baru yang muncul seiring perkembangan produk digital. Salah satu bidang yang mulai banyak dibicarakan adalah apa itu UX writing, yaitu pendekatan menulis yang berfokus pada pengalaman pengguna saat berinteraksi dengan produk digital seperti aplikasi atau website.

Perkembangan teknologi dan meningkatnya penggunaan platform digital membuat kebutuhan akan tulisan yang jelas, ringkas, dan membantu pengguna menjadi semakin penting. Di sinilah UX writing hadir sebagai bagian penting dalam proses desain produk, karena setiap kata yang muncul di layar dapat memengaruhi bagaimana pengguna memahami dan menggunakan sebuah layanan. Penasaran ingin tahu lebih lengkap mengenai UX writing? Simak terus artikel ini!

BACA JUGA: ​​UX Writer: Definisi, Hasil Tulisan, Hingga Prospek Karier

Apa Itu UX Writing?

Apa Itu UX Writing?
Apa Itu UX Writing? (Photo by Trent Erwin on Unsplash) 

UX writing adalah seni menulis teks yang muncul di seluruh tampilan atau interface produk digital, seperti aplikasi mobile, website, maupun platform digital lainnya. Teks-teks ini biasanya muncul dalam bentuk tombol, instruksi, notifikasi, pesan kesalahan, hingga panduan singkat yang membantu pengguna memahami yang harus dilakukan saat menggunakan sebuah produk. Jika copywriting berfokus pada persuasi atau mendorong audiens untuk melakukan suatu tindakan, UX writing lebih berfokus pada membantu dan memandu pengguna agar dapat menavigasi sebuah produk digital dengan mudah dan intuitif.

Seiring berkembangnya teknologi, aplikasi dan website yang kita gunakan sehari-hari juga menjadi semakin kompleks. Karena itu, pengguna membutuhkan panduan yang jelas di dalam interface agar tidak merasa bingung saat menggunakan sebuah produk. Tidak hanya sekadar jelas, pengguna juga cenderung mencari platform digital yang mampu memberikan pengalaman yang terasa alami, sederhana, dan mengalir saat digunakan. Perubahan kebutuhan serta cara pengguna berinteraksi dengan teknologi ini yang mendorong lahirnya UX writing sebagai bidang yang lebih spesifik. 

BACA JUGA: Tips Menulis UX Writing yang Efektif

Apa Peran UX Writing dalam Produk Digital?

Apa Peran UX Writing dalam Produk Digital?
            Apa Peran UX Writing dalam Produk Digital? (Photo by Alexander Shatov on Unsplash

Berikut beberapa peran utama UX writing dalam produk digital:

  1. Membantu Pengguna Memahami Cara Menggunakan Produk

Salah satu peran utama UX writing adalah memberikan panduan yang jelas kepada pengguna saat mereka berinteraksi dengan sebuah produk digital. Teks seperti instruksi, label tombol, atau pesan singkat membantu pengguna mengetahui tindakan apa yang perlu dilakukan selanjutnya. Dengan begitu, pengguna tidak perlu menebak-nebak saat menjelajahi sebuah aplikasi atau website.

  1. Membuat Navigasi Lebih Intuitif

UX writing juga membantu membuat navigasi dalam sebuah produk digital terasa lebih intuitif. Kata-kata yang sederhana dan mudah dipahami dapat mempermudah pengguna menemukan fitur atau informasi yang mereka butuhkan. Hal ini penting agar pengguna dapat menjelajahi produk dengan lancar tanpa merasa kebingungan.

  1. Mengurangi Kebingungan dan Kesalahan Pengguna

Pesan seperti error message, notifikasi, atau konfirmasi tindakan juga merupakan bagian dari UX writing. Jika ditulis dengan jelas dan informatif, pesan-pesan ini dapat membantu pengguna memahami apa yang sedang terjadi serta langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya. Dengan demikian, UX writing dapat mengurangi potensi kesalahan sekaligus meningkatkan kenyamanan pengguna.

  1. Meningkatkan Pengalaman Pengguna Secara Keseluruhan

UX writing berkontribusi besar terhadap pengalaman pengguna secara keseluruhan. Kata-kata yang tepat dapat membuat interaksi terasa lebih natural dan ramah, sehingga pengguna merasa lebih nyaman saat menggunakan sebuah produk digital. Inilah yang membuat UX writing menjadi bagian penting dalam proses desain produk.

BACA JUGA: Apa Itu Freelance? Pengertian, Cara Kerja, dan Contohnya

Apa Saja Prinsip UX Writing?

Apa Saja Prinsip UX Writing?
Apa Saja Prinsip UX Writing? (Photo by Judit Peter on Pexels) 

UX writing berpegang pada beberapa prinsip utama agar komunikasi dengan pengguna tetap efektif, berikut diantaranya:

  1. Clear (Jelas)

Prinsip pertama dalam UX writing adalah clear atau jelas. Teks yang ditampilkan harus mudah dipahami oleh pengguna tanpa menimbulkan kebingungan. Oleh karena itu, UX writer biasanya menggunakan bahasa yang sederhana, langsung pada inti pesan, dan menghindari istilah yang terlalu teknis jika tidak benar-benar diperlukan.

  1. Concise (Ringkas)

Selain jelas, UX writing juga harus concise atau ringkas. Mengingat ruang dalam interface produk digital sering kali terbatas, teks yang ditampilkan sebaiknya tidak terlalu panjang. Kalimat yang singkat dan langsung pada tujuan akan memudahkan pengguna membaca serta memahami informasi dengan cepat.

  1. Useful (Berguna)

Prinsip berikutnya adalah useful atau berguna. Artinya, setiap teks yang ditampilkan harus benar-benar membantu pengguna dalam melakukan suatu tindakan atau memahami situasi tertentu. UX writing tidak sekadar mengisi ruang pada interface, tetapi memberikan informasi yang relevan agar pengguna dapat menggunakan produk dengan lebih mudah dan nyaman.

BACA JUGA: Future Pacing dalam Copywriting: Kunci Konten Persuasif

Apa Saja Contoh UX Writing?

Apa Saja Contoh UX Writing?
Apa Saja Contoh UX Writing? (Photo by Vlada Karpovich on pexels)

UX writing dapat ditemukan di berbagai bagian dalam sebuah produk digital. Berikut beberapa contoh UX writing yang sering ditemui dalam aplikasi atau website:

  1. Teks pada Tombol (Button)

Salah satu contoh paling umum dari UX writing adalah teks pada tombol. Kata-kata seperti “Masuk”, “Daftar”, “Simpan”, atau “Lanjutkan” membantu pengguna memahami tindakan yang akan terjadi ketika tombol tersebut diklik. Teks tombol biasanya dibuat singkat, jelas, dan langsung menggambarkan fungsi dari tindakan tersebut.

  1. Placeholder pada Kolom Input

Placeholder adalah teks petunjuk yang muncul di dalam kolom input sebelum pengguna mengisi data. Contohnya seperti “Masukkan alamat email” atau “Tulis kata sandi”. Teks ini membantu pengguna memahami informasi apa yang perlu mereka masukkan ke dalam kolom tersebut.

  1. Pesan Error (Error Message)

Pesan error juga merupakan bagian penting dari UX writing. Misalnya, ketika pengguna salah memasukkan kata sandi atau ada kolom yang belum diisi, sistem akan menampilkan pesan seperti “Kata sandi yang Anda masukkan salah” atau “Kolom ini wajib diisi”. Pesan error yang baik tidak hanya memberi tahu bahwa terjadi kesalahan, tetapi juga membantu pengguna memperbaikinya.

  1. Teks Onboarding

Onboarding adalah rangkaian teks atau panduan yang muncul saat pengguna pertama kali menggunakan sebuah aplikasi atau fitur baru. Teks ini biasanya menjelaskan secara singkat fungsi utama dari produk atau cara menggunakan fitur tertentu, sehingga pengguna dapat lebih cepat memahami cara kerja aplikasi tersebut.

  1. Notifikasi dan Alert

Teks yang muncul untuk memberitahu pengguna tentang kejadian tertentu, misalnya “Pesanan berhasil dikirim” atau “Pembaruan tersedia”. UX writing di sini penting supaya pengguna tahu status atau tindakan yang harus mereka ambil tanpa merasa bingung.

  1. Tooltip dan Hint

Tooltip adalah teks kecil yang muncul saat pengguna menyorot ikon atau fitur tertentu, memberikan penjelasan singkat tentang fungsi fitur itu. Misalnya, ikon “?” di samping kolom bisa muncul teks “Masukkan nomor telepon yang aktif”.

  1. Empty State Messages

Ketika halaman atau fitur belum memiliki data, teks ini membantu pengguna memahami situasinya, misalnya: “Belum ada catatan di sini. Klik ‘Tambah’ untuk membuat catatan baru.” Ini membantu menjaga pengalaman tetap informatif dan ramah.

BACA JUGA: 6 Cara Buat CV yang ATS Friendly & Contohnya

Bagaimana Cara Menulis UX Writing?

Bagaimana Cara Menulis UX Writing?
Bagaimana Cara Menulis UX Writing? (Photo by Vlada Karpovich on pexels)

Berikut beberapa tips menulis UX writing:

  1. Gunakan Bahasa yang Jelas dan Sederhana

Bahasa yang sederhana membuat teks lebih mudah dipahami semua pengguna, termasuk mereka yang baru pertama kali menggunakan produk. Hindari istilah teknis yang rumit atau jargon internal perusahaan yang bisa membingungkan. Misalnya, daripada menulis “Aktifkan autentikasi dua faktor”, tulis “Tambahkan keamanan ekstra dengan verifikasi dua langkah”. 

  1. Buat Teks Singkat dan Padat (Concise)

Ruang di interface sering terbatas, misalnya tombol, placeholder, atau pop-up notifikasi. Oleh karena itu, teks harus singkat tapi tetap jelas. Fokuskan kata-kata pada inti pesan. Misalnya, tombol “Submit Formulir Anda” bisa disederhanakan menjadi “Kirim” atau “Simpan”, asalkan maknanya tetap jelas. 

  1. Fokus pada Kegunaan (Useful)

Setiap kata yang muncul harus benar-benar membantu pengguna. Jangan menambahkan teks hanya untuk “mengisi ruang” atau sekadar estetika. Misalnya, pesan error yang efektif tidak hanya mengatakan “Terjadi kesalahan”, tetapi juga memberi tahu penyebab dan langkah yang bisa dilakukan pengguna, seperti “Kolom email belum diisi. Silakan masukkan email Anda untuk melanjutkan.”

  1. Tulis untuk Pengalaman Pengguna (UX-Focused)

Selalu pikirkan dari sudut pandang pengguna. UX writing yang baik memandu mereka melalui alur produk dengan lancar dan intuitif. Misalnya, saat membuat tutorial onboarding, jangan sekadar menjelaskan fitur, tetapi tunjukkan langkah yang jelas agar pengguna dapat langsung mencoba dan memahami fitur tersebut.

  1. Gunakan Nada yang Konsisten

Tentukan gaya bahasa dan tone of voice produk agar seluruh teks terasa seragam dan mudah dikenali. Misalnya, jika produk menggunakan bahasa santai dan ramah (“Yuk, mulai sekarang!”), hindari teks yang formal seperti “Silakan memulai proses sekarang.” 

  1. Berikan Arahan atau Solusi Saat Kesalahan Terjadi

Pesan error atau notifikasi yang baik tidak hanya memberi tahu masalah, tetapi juga menuntun pengguna untuk memperbaikinya. Misalnya, daripada menulis “Password salah”, tulis “Password salah. Coba lagi atau klik ‘Lupa Password’ untuk reset.” 

BACA JUGA: Apakah Magang Termasuk Pengalaman Kerja? HRD Ungkap Faktanya

Bagaimana Prospek Karier di Bidang UX Writing?

Bagaimana Prospek Karier di Bidang UX Writing?
Bagaimana Prospek Karier di Bidang UX Writing? (Photo by William Fortunato on Pexels

Karier di bidang UX writing saat ini semakin menjanjikan karena semakin banyak perusahaan yang menyadari pentingnya pengalaman pengguna dalam produk digital mereka. Mengutip dari Glassdoor (Maret 2026) kisaran gaji UX writer di Indonesia adalah Rp 6-13jt/bulan. Selain bekerja di perusahaan, UX writer juga bisa mengambil peran sebagai freelancer atau konsultan, membantu berbagai produk digital merancang interface yang lebih intuitif. Biasanya, tugas UX writer meliputi: 

  1. Menulis Microcopy

Membuat teks singkat di interface seperti tombol, label, placeholder, pesan error, notifikasi, dan instruksi. Teks ini harus jelas, ringkas, dan berguna bagi pengguna.

  1. Menciptakan Panduan Navigasi

Membantu pengguna memahami alur produk dengan membuat teks yang memandu mereka berpindah dari satu halaman atau fitur ke fitur lainnya.

  1. Menyusun Onboarding dan Tutorial

Membuat rangkaian panduan saat pengguna pertama kali menggunakan aplikasi atau fitur baru, sehingga pengguna dapat cepat memahami cara kerja produk.

  1. Berkolaborasi dengan Tim UX/UI Designer

Bekerja sama dengan designer untuk memastikan teks yang ditampilkan sesuai dengan desain visual dan pengalaman pengguna yang diinginkan.

  1. Menulis Pesan Error dan Notifikasi

Menyusun pesan yang membantu pengguna memahami masalah atau status tertentu, sekaligus memberi solusi atau arahan selanjutnya.

  1. Menjaga Konsistensi Suara Produk (Product Voice)

Menentukan gaya bahasa, nada bicara, dan terminologi yang konsisten di seluruh interface, sehingga produk terasa ramah, jelas, dan mudah dikenali.

  1. Melakukan Riset Pengguna

Mempelajari perilaku pengguna dan kebutuhan mereka untuk memastikan teks yang dibuat benar-benar membantu dan relevan.

BACA JUGA: 6 Cara Menjadi Freelance Writer dari Nol hingga Dibayar Jutaan

Kesimpulan

Kesimpulan
Kesimpulan (Photo by Christina Morillo on Pexels)  

UX writing merupakan bidang yang semakin penting seiring berkembangnya produk digital. Setiap kata yang muncul di interface, mulai dari tombol, notifikasi, hingga pesan error, memiliki peran besar dalam membantu pengguna menavigasi produk dengan mudah dan intuitif. Dengan prinsip jelas, ringkas, dan berguna, UX writing mampu meningkatkan pengalaman pengguna secara keseluruhan, membuat interaksi dengan aplikasi atau website terasa lebih natural dan nyaman.

Karier di bidang UX writing juga menjanjikan, baik sebagai profesional di perusahaan maupun sebagai freelancer. Dengan keterampilan menulis yang kuat, pemahaman UX, serta kemampuan berkolaborasi lintas tim, seorang UX writer dapat menciptakan produk digital yang tidak hanya fungsional, tetapi juga menyenangkan untuk digunakan. Bagi siapa pun yang tertarik dengan dunia digital dan komunikasi, UX writing menawarkan peluang belajar dan berkembang yang nyata, sekaligus berdampak langsung pada pengalaman jutaan pengguna.

Yuk, Belajar UX Writing Bareng Ahlinya!

BACA JUGA: Salah Jurusan Kuliah? Jangan Panik, Ini Solusinya!

Yuk, Belajar UX Writing Bareng Ahlinya!

Ingin menguasai UX writing dan profesi digital writing lainnya secara menyeluruh? Kamu bisa join Digital Writing Camp: AI-Driven Innovation for Writer dari Digital Skola! Mini bootcamp eksklusif ini mengajarkan empat profesi digital writing dalam satu program: Copywriter, SEO Content Writer, Content Writer, dan UX Writer. Selama 8 sesi intensif bersama 7 tutor expert, kamu tidak hanya menguasai skill digital writing, tetapi juga membangun portofolio profesional dan mendapatkan bimbingan karier agar siap sukses di dunia digital writing.

Untuk UX writing, kamu akan belajar mulai dari mengenal UX writing, framework, tugas dan tanggung jawab UX writer, skillset, prinsip dasar, komponen UI, tools UX writer, AI tools, workflow, hingga persiapan karier profesional. Selain itu, kamu juga akan mempelajari skenario UX writing, studi kasus beberapa UX writing terbaik, dan langkah memulai karier sebagai UX writer profesional. Dengan bimbingan langsung dari para ahli, kamu bisa langsung mengaplikasikan pengetahuan dan membangun karier di bidang yang terus berkembang ini.

FAQ 

1. Apa perbedaan UX writer dan copywriter?

UX writer fokus memandu pengguna dalam interface digital, sedangkan copywriter fokus persuasi dan promosi.

2. Apakah UX writer harus bisa desain UI?

Tidak harus ahli desain, tapi memahami prinsip UI/UX membantu menulis teks yang efektif.

3. Apakah UX writing bisa dijadikan karier freelance?

Bisa. Banyak UX writer bekerja per proyek atau sebagai konsultan untuk berbagai produk digital.